Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Jumat 5 Juni 2026: Anjlok Gara-gara Asing Lepas Rp3,7 Triliun, Tren Bearish Bisa Berlanjut

Gungdewan

Diterbitkan

pada

FAKTUAL INDONESIA: Pasar modal Indonesia dihantam badai koreksi yang sangat dalam di penghujung pekan. Sempat dibuka fluktuatif dan mencoba bangkit pada sesi pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru ambruk di sesi kedua dan ditutup merosot tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026) sore.

Lonceng penutupan bursa mencatat IHSG anjlok hingga 245,02 poin atau rontok 4,20 persen ke level 5.594,76. Kejatuhan ini tidak hanya merusak psikologis pasar, tetapi juga membawa indeks domestik ke area terendah dalam lima tahun terakhir.

Kondisi pasar domestik ini selaras dengan tren regional Asia. Indeks Nikkei, Shanghai, Hang Seng, dan Strait Times juga terpantau ditutup melemah pada hari yang sama.

Baca Juga : IHSG BEI Kamis 4 Juni 2026: Sudah Merosot Cetak Rekor Terendah Baru, Berpotensi Melemah Lagi

Mengutip mediaindonesia, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa sentimen negatif berasal dari ketidakpastian internal.

Advertisement

“Beberapa ketidakjelasan kebijakan pemerintah dan rumor pasar yang direspons negatif oleh pasar, kembali mendorong tekanan jual pada pasar modal Indonesia,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (5/6).

Investor disarankan untuk tetap waspada menjelang rilis data ekonomi penting seperti cadangan devisa periode Mei, indeks kepercayaan konsumen, dan data penjualan ritel. Ratna Lim memproyeksikan tren bearish masih mungkin berlanjut.

“Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,” tambah Ratna.

Baca Juga : IHSG BEI Rabu 3 Juni 2026: Badai Besar, Sudah Anjlok 4 Persen Terancam Terus Tertekan Pula

Koreksi tajam yang membawa IHSG jatuh ke level 5.594 ini memicu kekhawatiran jangka pendek. Memasuki pekan depan, pergerakan indeks diperkirakan masih akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan kejelasan arah kebijakan makroekonomi dalam negeri untuk mengembalikan kepercayaan investor.

Para pelaku pasar dan investor ritel diimbau untuk tidak gegabah melakukan aksi beli secara agresif (catch a falling knife) dan lebih disarankan menanti sinyal pembalikan arah (reversal) yang solid di area support kuat berikutnya.

Advertisement

Asing Lakukan Net Sell Jumbo

Berdasarkan data kuantitatif Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) dengan nilai yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp3,71 triliun hanya dalam satu hari perdagangan saja.

Baca Juga : IHSG BEI Selasa 2 Juni 2026: Awal Mengesankan Rebound 1,11%, Sinyal Teknikal yang Positif

“Aksi lego jangkar masif oleh investor asing menjadi penyebab  utama ambruknya indeks hari ini. Sentimen domestik, termasuk tekanan nilai tukar rupiah yang terus diuji, membuat pemodal internasional memilih mengamankan aset mereka ke tempat yang lebih aman (safe haven),” ungkap analis pasar modal.

Derasnya arus modal keluar (capital outflow) ini semakin memperlebar rapor merah pasar modal secara tahun berjalan (year to date/YTD), di mana akumulasi net sell asing kini telah menembus angka Rp72,21 triliun.

Beberapa saham blue-chip berkapitalisasi besar (big caps) yang selama ini menjadi penopang utama indeks menjadi sasaran empuk aksi jual, di antaranya:

Advertisement
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Dijual asing sebesar Rp1,13 triliun.
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Dijual asing sebesar Rp1,10 triliun.
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Dijual asing sebesar Rp235,70 miliar.

Meskipun beberapa saham lapis kedua seperti PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) masih mencatatkan akumulasi beli bersih terbatas oleh asing, kehadirannya belum mampu membendung dominasi gelombang merah yang melanda bursa.

Baca Juga : IHSG BEI Jumat 29 Mei 2026: Senyum Kenyut di Tengah Rebalancing MSCI, Perjalanan Masih Rawan

Berdasarkan data pasar, terdapat tiga faktor domestik utama yang memicu kepanikan investor:

  • Sentimen Kebijakan: Rencana revisi UU P2SK menimbulkan kekhawatiran terkait independensi lembaga keuangan nasional di mata investor global.
  • Defisit APBN 2026: Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN hingga Mei 2026 membengkak menjadi Rp180,4 triliun (0,7% dari PDB), melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp20,9 triliun.
  • Tekanan Mata Uang Rupiah: Nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka Rp18.049 per dolar AS memicu spekulasi akan adanya Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat oleh Bank Indonesia.

Seluruh 11 sektor di BEI berakhir di zona negatif. Sektor transportasi & logistik mencatat kontraksi terdalam sebesar 5,75%, diikuti sektor industri (-5,64%) dan sektor energi (-5,37%).

Saham yang masuk dalam jajaran top gainers antara lain MUTU, MMIX, CBPE, LFLO, dan BTON. Sementara itu, saham yang mengalami tekanan jual terdalam (top losers) meliputi WIFI, ARKO, RSGK, APIC, dan RMKE.

Baca Juga : Prediksi IHSG BEI Jumat 29 Mei 2026: Menanti Badai Rebalancing MSCI dan Efek Rupiah

Rangkuman Pasar Akhir Pekan (5 Juni 2026)

Indikator BursaPosisi PenutupanPerubahan Harian
IHSG (Indeks Komposit)5.594,76Anjlok -4,20% (-245,02 poin)
Indeks LQ45557,74Turun -3,99%
Aksi Investor AsingNet Sell Rp3,71 TriliunArus Keluar Deras (Outflow)
Total Transaksi2.194.595 kali
Volume Saham38,04 miliar lembar
Nilai TransaksiRp31,73 triliun
Pergerakan Emiten108 saham menguat, 626 saham melemah, 81 saham stagnan

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement