Ekonomi
IHSG BEI Jumat 24 Juli 2026: Anjlok 1,88 Persen, Berpotensi Masih Dalam Tekanan Teknikal

Tertekan oleh sentimen negatif pasar global dan aksi lepas saham oleh investor asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terperosok ke zona merah setelah ditutup melemah Jumat (24/7/2026). (Foto: Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terlempar cukup dalam ke zona merah pada penutupan perdagangan akhir pekan. Tertekan oleh sentimen negatif pasar global dan aksi lepas saham oleh investor asing, IHSG ditutup melemah 118,88 poin atau 1,88 persen ke level 6.196,43 pada Jumat (24/7/2026). Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,33 poin atau 1,97 persen ke posisi 614,79.
Saat pembukaan perdagangan saham Jumat pagi, IHSG sudah masuk zona merah ketika bergerak melemah 48,33 poin atau 0,77 persen ke posisi 6.266,98. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga turun 6,66 poin atau 1,06 persen ke posisi 620,46.
Berdasarkan data BEI, IHSG sempat bergerak fluktuatif di rentang 6.159 hingga 6.316. Aksi jual masif (net sell) investor asing yang membukukan pengeluaran ratusan miliar rupiah di pasar reguler memicu aksi lepas aset berisiko. Seluruh indeks sektoral kompak memerah, dipimpin oleh penurunan sektor barang baku dan energi.
Untuk kawasan Asia, juga diwarnai penurun beberapa indeks. Nikkei melemah 2,79 persen ke 64.572,00, indeks Shanghai melemah 1,61 persen ke 3.814,20, indeks Hang Seng melemah 0,98 persen ke 24.963,23, indeks Kospi melemah 5,72 persen ke 6.690,62, sedangkan indeks Strait Times melemah 0,12 persen ke 5.575,11.
Penyebab IHSG Terperosok
Koreksi tajam yang dialami pasar saham domestik pada perdagangan hari ini utamanya disulut oleh beberapa pemicu utama:
- Eskalasi Ketegangan Geopolitik: Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi global.
- Kenaikan Harga Minyak Mentah: Lonjakan harga minyak dunia menguatkan kekhawatiran meningkatnya beban biaya modal dan potensi kebijakan moneter ketat yang lebih lama.
- Aksi Rebalancing & Profit Taking: Koreksi beruntun pada deretan saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti sektor perbankan dan tambang menahan laju indeks.
- Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: Kurs rupiah yang sempat melemah membayangi kepercayaan investor portofolio di pasar modal.
“IHSG dan bursa regional Asia melemah seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Seperti dikutip dari MetroTV, Nico menjelaskan sentimen negatif juga datang dari kebijakan baru tarif dagang oleh Amerika Serikat (AS) yang mendorong lonjakan ketidakpastian global, dan diproyeksikan akan menekan pertumbuhan ekonomi serta memicu inflasi, khususnya apabila harga energi tertahan di level tinggi untuk periode yang panjang.
Kemudian, sentimen pasar semakin tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah jenis Brent yang mencapai level di atas 100 dolar AS per barel, yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Selanjutnya, Trump akan memberlakukan tarif baru mulai Jumat waktu AS, yang akan menjadi perhatian pelaku pasar sehubungan tarif baru AS sebesar 10-12,5 persen untuk impor dari sebagian besar mitra dagang utama. Tarif baru AS berlaku untuk barang-barang dari 60 mitra dagang.
“Kebijakan itu tentunya akan berpotensi terjadi disrupsi rantai pasokan dan meningkatnya ketidakpastian, ancaman stagflasi, perlambatan sektoral sehingga ini akan membuat perlambatan pertumbuhan ekonomi global,” ujar Nico.
Dari dalam negeri, Nico menjelaskan meningkatnya harga minyak dunia dan pemberlakuan tarif baru oleh AS tentunya akan berdampak terhadap ekonomi domestik, yang mana beban APBN kan meningkat seiring meningkatnya beban subsidi energi.
Dengan demikian, akan membuat ruang fiskal yang semakin menyempit, mendorong laju inflasi, ruang kebijakan moneter potensi kenaikan suku bunga acuan, ancaman defisit neraca perdagangan, ancaman pada sektor yang terdampak langsung dan nilai tukar rupiah, serta turunnya daya beli masyarakat.
Prediksi Senin Depan (27 Juli 2026)
Memasuki perdagangan awal pekan depan, IHSG diproyeksikan masih berada dalam tekanan teknikal dengan potensi pengujian area dukungan (support) baru.
Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi seperti dilansir Kontan, memproyeksikan, pergerakan IHSG akan berlangsung volatil dengan kecenderungan bervariasi (mixed). Area support kuat indeks diperkirakan berada di kisaran 6.185 hingga 6.250, sementara area resistance berada di level 6.350 hingga 6.470.
Arah pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada tiga sentimen utama, yakni rilis laporan keuangan semester I bank-bank besar, rilis data inflasi AS, dan dinamika konflik di Selat Hormuz.
“Target akhir tahun base case KISI tetap 6.000-6.500, penentu utama tetap MSCI November,” tutur Wafi.
Sentimen Penentu Pergerakan Senin:
- Perkembangan Pasar Regional Asia: Investor akan mencermati apakah bursa Asia mampu melakukan rebound setelah mengalami koreksi berjamaah akhir pekan ini.
- Pergerakan Harga Komoditas: Perkembangan harga komoditas global, terutama minyak bumi dan emas, akan tetap menjadi kompas utama bagi investor ritel maupun institusi.
- Strategi Investor: Pelaku pasar disarankan untuk mencermati saham-saham defensif (defensive stocks) serta memanfaatkan momentum terkoreksinya saham-saham berfundamental kuat melalui strategi buy on weakness.
Sorotan Perdagangan
Kendati mayoritas sektor melemah, saham-saham pilihan seperti PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) justru melesat hingga 34,59 persen dan menjadi top gainer hari ini.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor barang konsumen non primer turun paling dalam sebesar 3,26 persen, diikuti oleh sektor barang baku yang turun 3,06 persen dan sektor transportasi & logistik yang turun 2,81 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu MCAS, ALKA BULL, GOLD, dan KLIN. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni BAPA, COCO, FILM, JGLE, JELI.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.229.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,96 miliar lembar saham senilai Rp17,70 triliun. Sebanyak 113 saham naik 618 saham menurun, dan 234 tidak bergerak nilainya. ***














