Connect with us

Ekonomi

Dampak Deflasi dan Perang Tarif, Rupiah dan IHSG BEI Ditutup Melemah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Dampak Deflasi dan Perang Tarif, Rupiah dan IHSG BEI Ditutup Melemah

Nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (3/6/2025) sore

FAKTUAL INDONESIA: Pada penutupan perdagangan Selasa (3/6/2025) sore, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini di Jakarta melemah sebesar 56 poin atau 0,34 persen menjadi Rp16.309 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.253 per dolar AS.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa justru menguat ke level Rp16.288 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.297 per dolar AS

Sementara itu IHSG ditutup melemah 20,25 poin atau 0,95 persen ke posisi 7.044,82. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,03 poin atau 0,13 persen ke posisi 794,92.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Advertisement

Baca Juga : Rupiah Menguat, IHSG Melemah, Harga Emas Antam Naik

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat dimana sektor transportasi & logistik paling tinggi yaitu 0,84 persen, diikuti oleh sektor kesehatan dan sektor energi yang masing-masing naik sebesar 0,24 persen dan 0,17 persen.

Sedangkan lima sektor terkoreksi yaitu paling dalam sektor industri minus 1,72 persen, diikuti oleh sektor teknologi dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing minus 0,93 persen dan 0,78 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu TMPO, AXIO, ZYRX, FAST, dan PSAB. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni BAJA, SMIL, RMKO, AYLS, dan PEHA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.256.156 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,85 miliar lembar saham senilai Rp14,49 triliun. Sebanyak 261 saham naik, 353 saham menurun, dan 193 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini, antara lain indeks Nikkei melemah 17,17 poin atau 0,05 persen ke 37.453,00, indeks Hang Seng menguat 354,52 poin atau 1,53 persen ke 23.512,78, indeks Shanghai menguat 14,49 poin atau 0,43 persen ke 3.361,48, dan indeks Strait Times menguat 3,79 poin atau 0,10 persen ke 3.894,11.

Advertisement

Baca Juga : Penutupan Akhir Pekan, Kurs Rupiah dan IHSG BEI Menguat, Emas Antam Turun dan Kompak Naik

Deflasi Indonesia

Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) Rupiah dipengaruhi laporan bahwa Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,37 persen pada Mei 2025 secara bulanan (month to month/mtm).

“Deflasi ini menjadi deflasi ketiga sepanjang tahun setelah Januari (-0,76 persen) dan Februari (-0,48 persen),” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Seperti dilansir laman berita antaranews.com, menurut dia, deflasi di Tanah Air menjadi alarm bahaya bagi ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 diproyeksikan kembali tidak sampai 5 persen. “Hal ini sudah lampu kuning, ada gejala pertumbuhan ekonomi melambat di kuartal II-2025,” kata Ibrahim.

Advertisement

Deflasi berkepanjangan menandakan sebagian besar masyarakat menahan belanja, yang membuat ekonomi ke depan lebih menantang. Artinya, sebagian besar masyarakat tahan belanja, dan menandakan konsumsi rumah tangga melambat dan ekonomi ke depan lebih menantang,

Adapun faktor dari luar negeri ialah aktivitas manufaktur di China mengalami kontraksi menjadi 48.3, di bawah perkiraan sebesar 50.6

“Angka PMI (Purchasing Managers Index) semakin menggarisbawahi dampak perang dagang AS terhadap ekonomi Tiongkok, dan memicu kekhawatiran bahwa permintaan komoditas di negara tersebut akan melemah,” ungkap dia.

Baca Juga : BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah dan IHSG BEI Menguat sedangkan Harga Emas Antam Meroket dan Anjlok

Ketidakpastian Perang Tarif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore ditutup melemah, seiring meningkatnya ketidakpastian perang tarif, utamanya antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Advertisement

“Sentimen negatif antara lain masih berasal dari meningkatnya ketidakpastian perang tarif, serta kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekonomi domestik,” ujar Senior Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan, di Jakarta, Selasa.

Dari mancanegara, pelaku pasar akan menantikan komentar beberapa pejabat Bank Sentral AS The Fed pada Rabu (4/6). Selain itu, akan dirilis data mingguan cadangan minyak strategis AS oleh American Petroleum Institute (API).

Pelaku pasar juga akan menantikan data ISM Service Purchasing Manager’s Indexs (PMI) bulan Mei 2025 yang diperkirakan naik ke level 52 dari 51,6 pada April 2025.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan peluncuran paket stimulus ekonomi dari pemerintah mulai 5 Juni 2025 untuk mendorong kenaikan daya beli masyarakat.

Paket stimulus itu, di antaranya bantuan subsidi upah bagi pekerja bergaji di bawah Rp3.5 juta dan guru honorer, diskon transportasi umum, tambahan bantuan sosial dan diskon Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca