Connect with us

Nusantara

Kebut Vaksinasi, Jateng Gencarkan Edukasi Lewat Tokoh Masyarakat

Diterbitkan

pada

 

Taj Yasin Maimoen. (Istimewa)

 

FAKTUAL-INDONESIA: Pemprov Jateng tak pernah kendur dalam melakukan pendekatan ke masyarakat, agar bersedia divaksin. Edukasi pun digencarkan dengan menggandeng tokoh masyarakat dan tenaga medis.

Demikian disampaikan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, dalam diskusi bertajuk “Cegah Omicron dan Percepatan Vaksinasi Covid-19”, di RRI Semarang, Jumat (7/1/2021). Wagub ikut mengawal sendiri percepatan vaksinasi, khususnya di wilayah yang capaiannya di bawah 70 persen.

“Saya kemarin datang langsung ke Kabupaten Tegal dan Pemalang untuk mengecek pelaksanaan vaksinasi. Saya juga silaturahmi ke beberapa ulama dan pengasuh ponpes di sana,” kata Gus Yasin, sapaan akrab Wagub.

Advertisement

Dijelaskan, untuk mempercepat vaksinasi di beberapa daerah yang capaiannya di bawah 70 persen, seperti Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, dan Jepara, sejumlah tokoh agama pun memberi masukan supaya melakukan vaksinasi secara door to door atau mendatangi langsung, dengan mengajak para dokter yang sudah dikenal dan dipercaya masyarakat setempat.

“Di setiap daerah ada dokter yang sudah kenal dekat dan dipercaya oleh warga, kemudian dokter tersebut diminta datang memberikan edukasi dan menyuntikan vaksin kepada warga. Ini sama halnya saat kita sakit kemudian datang ke dokter yang sudah kita kenal, maka saat bertemu dokter rasa sakitnya akan berkurang karena tersugesti sembuh,” papar Gus Yasin.

Disebutkan, informasi adanya kelompok masyarakat yang belum divaksin bukan karena faktor pengaruh tokoh masyarakat ataupun pihak lain. Melainkan karena warga bersangkutan takut dengan jarum suntik, dan terpengaruh informasi-informasi bohong tentang dampak negatif vaksin Covid-19.

“Tokoh-tokoh masyarakat yang dimaksud ternyata sudah melakukan vaksin. Warga yang enggan divaksin, saat ditanya alasan sebenarnya karena mereka takut disuntik,” ungkapnya.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menyebut penyebaran varian omicron lebih cepat dibanding varian delta. Karenanya penanganan dari hulu hingga hilir harus lebih baik. Berbagai upaya dan kebijakan telah diterapkan pemerintah, antara lain memperketat jalur masuk ke Indonesia, baik jalur laut, darat, maupun udara.

Advertisement

Upaya penanganan lainnya adalah dari hulu melalui percepatan vaksinasi. Utamanya beberapa daerah di Jateng yang capaian vaksinasi di bawah 70 persen. Dalam hal ini peran aktif kepala daerah sangat diperlukan, terutama bupati. Selain itu, gubernur, bupati, wali kota, camat, hingga kepala desa harus menggenjot percepatan vaksinasi di masing-masing daerahnya.

Untuk daerah yang capaianya di bawah 70 persen, katanya, pendekatan yang tepat adalah meningkatkan edukasi. Misalnya, bupati dan wali kota, camat datang ke desa yang cakupan vaksinasinya masih rendah. Selain itu, kades, bidan desa, dan nakes puskesmas door to door mendatangi rumah warga, sehingga mereka merasa mendapat perhatian dari para pemangku kebijakan.

“Jika suatu daerah capaian vaksinasinya masih rendah, apapun alasannya bupati punya tanggung jawab, kenapa daerah lain bisa sementara beberapa kabupaten tidak bisa, ada persoalan apa di warganya, bagaimana mengedukasi, bahkan kalau perlu agak dipaksa, dilakukan door to door,” kata Edy.

Edy menambahkan, upaya yang tidak kalah penting adalah tracking dan tracing yang tepat. Apabila ada warga terkonfirmasi positif Covid-19, maka harus dilakukan pengecekan lebih lanjut untuk mengetahui apakah terpapar varian omicron atau bukan. Jika positif omicron maka, segera lakukan tracking dan isolasi terpusat atau mandiri agar tidak menyebar.

“Hulunya harus diperketat, kalau hulunya tertangani dengan baik nanti tidak sampai menimbulkan gelombang 3. Tetapi kalau hulunya abai dan lalai, pasti nanti penyebarannya cepat, orang orang kena, kaum rentan penanganannya semakin berat, biaya tinggi APBN terkontraksi lagi.***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement