Kesehatan
Sehatkan Mental dan Dorong Kreatifitas Anak dengan Manfaatkan Telepon Pintar

Foto: Istimewa
FAKTUAL-INDONESIA: Telepon selular pintar, yang menjadi bukti kemajuan peradaban dan teknologi komunikasi abad ini, bisa menjadi sarana bagi para orangtua membimbing anak-anak semakin sehat secara mental dan kreatif.
Di perangkat tersebut, bukan semata untuk berkomunikasi, tapi ada kamera untuk foto dan video dengan kualitas gambar semakin baik.
Bila orangtua memperkenalkan sarana di perangkat itu kepada anak-anak dan membimbing penggunaannya, bukan tidak mungkin mendorong mereka yang masih kecil kini bermimpi, menaruh minat, dan bercita-cita menjadikan kreator konten sebagai profesinya kelak.
Seperti penuturan psikolog klinis Saskhya Aulia Prima dari Tiga Generasi. Agar anak- anak kekak kreatif di era digital, ucapnya, bergantung pada upaya orangtua dalam mengembangkan kepercayaan diri anak dengan optimal.
“Pertama untuk mendukung minat anak, yang paling penting itu value atau nilai keluarga. Ajarkan yang baik, jadi ketika anak mau berkreasi kita bisa mengarahkan dia melakukan kegiatan bermanfaat, sesuatu yang ada nilainya. Apalagi kalau mau jadi content creator digital itu kan digital footprint tidak bisa dihapus,” kata Saskhya dalam webinar baru- baru ini.
Selain menanamkan nilai- nilai dan juga manfaat kepada anak dari usia dini, orangtua juga harus membiasakan anak berjalan memahami proses dari sebuah peristiwa dan bukan berfokus pada hasil akhir.
Poin itu kerap kali dilupakan oleh orangtua dan sering kali terjadi sehingga pada akhirnya anak malah sibuk mendapatkan hasil akhir sesuai ekspektasinya tanpa memahami proses yang dijalani dalam setiap peristiwa.
Meski bisa jadi ketika anak berfokus pada likes, komentar, hingga isi konten karena terpengaruh lingkungan sosial lainnya. Namun sikap keluarga yang tak memperhatikan anak untuk belajar mendalami proses dalam peristiwa juga bisa berpengaruh fatal pada masa depannya.
“Kadang orangtua lupa buat ngobrol soal proses, yang ditanya seringnya out put. Misalnya ngobrol setiap hari nanyanya kamu dapat nilai ujian berapa? Kamu lulus atau enggak Tapi tidak pernah ditanya bagaimana perasaanmu hari ini? Bagaimana kamu melakukan prosesnya? Jadi seringkali anak diajarkan untuk meraih sesuatu tapi lupa diajarkan ketika sesuatu lepas atau tidak tercapai bagaimana menanganinya,” kata Saskhya seperti dikutip dari antaranews.com, Kamis (23/9/2021).
Psikolog lulusan UI itu pun menyebutkan pembelajaran proses pada anak- anak dalam memenuhi minatnya juga perlu disesuaikan dengan usianya.
Misalnya pada anak- anak di bawah 14 tahun, orangtua tetap harus mendampingi dan menanyakan bagaimana prosesnya membuat video. Lalu memuji anak ketika anak berhasil membuat sebuah video.
Lalu pada anak di atas 14 tahun orangtua bisa memberikan semangat atau dukungan, ajak dia mengobrol seperti teman tanyakan bagaimana perasaannya apakah senang, sedih, atau gundah. Agar ketika ia berproses membuat konten dan menjadi content creator ia bisa terlatih menangani hal- hal yang berada di luar kontrolnya.
Dengan menitikberatkan pada pendidikan berproses maka nantinya anak bisa menjalani minatnya dengan maksimal termasuk menjadi kreator konten yang handal dan bisa menginspirasi banyak orang.***














