Ekonomi
IHSG BEI Senin 29 Juni 2026: Sempat Menguat tapi Tergelincir Anjlok 1,28%, Awas Area Kritis

Tekanan jual yang masif sepanjang hari menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) gagal mempertahankan momentum penguatannya pada pembukaan pagi dan terpaksa parkir di zona merah pada akhir perdagangan awal pekan, Senin (29/6/2026). (AI/Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) gagal mempertahankan momentum penguatannya pada pembukaan pagi dan terpaksa parkir di zona merah pada akhir perdagangan awal pekan.
Menutup sesi perdagangan Senin (29/6/2026), indeks domestik merosot 75,34 poin atau anjlok 1,28% ke posisi 5.820,79. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 10,71 poin atau 1,83 persen ke posisi 573,01.
Padahal, pada bel pembukaan perdagangan pagi tadi, IHSG sempat bergerak meyakinkan dengan dibuka menguat 35,90 poin ke level 5.932,02. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,98 poin atau 0,17 persen ke posisi 584,70.
Namun, tekanan jual yang masif sepanjang hari menyeret indeks hingga menyentuh level terendahnya di 5.800,28 sebelum akhirnya sedikit berbalik arah menjelang penutupan.
Aksi Jual Asing Jadi Pemberat
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pelemahan indeks hari ini didominasi oleh rontoknya sektor keuangan dan infrastruktur. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) yang cukup signifikan pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar (blue chip).
Berikut peta pergerakan pasar sepanjang hari ini:
- Pemberat Utama: Sektor keuangan ambles paling dalam (turun 1,58%), disusul sektor infrastruktur yang melorot 1,23%.
- Saham Terbanyak Dilepas Asing: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin net sell asing terbesar di sesi I sebesar Rp186,40 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp58,63 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp48,40 miliar.
- Statistik Pasar: Sebanyak 399 emiten berakhir melemah, 257 emiten bergerak menguat, dan 303 saham lainnya jalan di tempat (stagnan).
Seperti dilansir beritasatu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot) Brigita Kinari mengatakan pelemahan IHSG tidak terlepas dari meningkatnya volatilitas pasar saham global sepanjang pekan lalu.
Menurutnya, sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran melambatnya belanja infrastruktur AI setelah muncul laporan penundaan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) OpenAI akibat tingginya volatilitas pasar. Kondisi tersebut memicu aksi jual pada saham-saham teknologi global, terutama sektor semikonduktor.
“Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran melambatnya belanja infrastruktur AI menyusul laporan penundaan IPO OpenAI akibat volatilitas pasar yang langsung menyeret jatuh saham-saham cip utama seperti Micron, AMD, dan Intel, serta memicu aksi jual masif di bursa Asia dan Eropa termasuk koreksi harga komoditas logam,” ujar Brigita dalam risetnya, Senin (29/6/2026).
Pada sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru menguat sekitar 0,6% karena investor melakukan rotasi portofolio ke saham-saham defensif, seperti sektor kesehatan, barang konsumsi primer, jasa keuangan, dan utilitas.
Menurut Brigita, pasar juga masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski data inflasi dan kepercayaan konsumen menunjukkan perbaikan, pernyataan Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengenai peluang kenaikan suku bunga apabila konflik di Timur Tengah kembali memicu inflasi membuat investor tetap berhati-hati.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga memilih menunggu sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis pada akhir Juni hingga awal Juli 2026.
Perhatian investor tertuju pada data inflasi, neraca perdagangan, indeks kepercayaan konsumen, hingga arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada pertengahan Juli.
Brigita menilai paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun yang telah diluncurkan pemerintah melalui delapan program insentif menjadi sentimen positif bagi pasar.
Selain itu, langkah konsolidasi fiskal melalui efisiensi anggaran, penyesuaian alokasi program makan bergizi gratis (MBG), penghematan subsidi energi, serta berbagai reformasi kebijakan juga berpotensi memperbaiki persepsi investor. Namun, menurutnya pasar masih menunggu efektivitas implementasi berbagai kebijakan tersebut.
“Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit, sehingga arah arus modal asing diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan pasar domestik,” jelas Brigita.
Selasa, Menguji Area Support Kritis
Memasuki hari terakhir perdagangan di kuartal II-2026 pada Selasa (30/6/2026), IHSG diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan volatilitas tinggi.
Secara teknikal, indikator menunjukkan indeks sedang menguji area support psikologis pentingnya. Pergerakan besok akan sangat dipengaruhi oleh dua faktor teknis:
- Aksi Window Dressing Akhir Semester: Ada potensi terjadinya transaksi besar di menit-menit akhir (pre-closing) oleh manajer investasi untuk mempercantik portofolio tengah tahun mereka. Ini bisa memicu rebound teknis sesaat jika ada akumulasi pada saham-saham yang sudah jenuh jual (oversold).
- Kelanjutan Arus Modal Asing (Foreign Flow): Jika tekanan jual pada saham perbankan belum mereda, indeks rawan melanjutkan pelemahan untuk menguji batas bawah baru.
IHSG pada hari Selasa diproyeksikan akan bergerak bervariasi (volatile) cenderung tertekan dalam rentang batas bawah (support) 5.750 hingga batas atas (resistance) 5.880.
Dari sisi teknikal, Ipot memperkirakan IHSG masih berada dalam tren penurunan (downtrend) jangka menengah meski sempat mengalami rebound dari posisi terendah sebelumnya.
Brigita mengatakan struktur teknikal indeks belum menunjukkan sinyal pembalikan arah karena masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek MA5, MA10, dan MA20. Selain itu, pelemahan indikator MACD dan Stochastic RSI mengindikasikan momentum penguatan mulai terbatas.
IPOT memperkirakan IHSG akan menguji area support 5.700-5.800 dalam waktu dekat. Selama area tersebut mampu dipertahankan, indeks diproyeksikan bergerak dalam fase konsolidasi pada rentang 5.500-6.400.
Sentimen Penggerak
Berbeda dengan penguatan rupiah, pasar saham justru tertekan karena pelaku pasar cenderung bersikap defensif dan mengamankan likuiditas. Investor global mengantisipasi ketidakpastian dunia serta menanti rilis data manufaktur regional (China) dan data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll) pekan ini.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor melemah yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam minus 1,63 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor keuangan yang turun masing-masing sebesar 1,44 persen dan 1,16 persen. Sedangkan satu sektor menguat yaitu sektor properti yang naik sebesar 0,62 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu OILS, ASPI, TRUS, PMUI, AYLS, dan PMUI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni BHAT, BBRM, COCO, GPSO, dan UVCR,
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.205.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 12,99 miliar lembar saham senilai Rp8,16 triliun. Sebanyak 228 saham naik, 467 saham menurun, dan 264 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 161,12 poin atau 0,23 persen ke 69.522,00, indeks Shanghai menguat 46,64 atau 1,16 persen ke 4.073,90, indeks Hang Seng menguat 335,60 poin atau 1,48 persen ke 23.007,60, dan indeks Strait Times menguat 12,30 poin atau 0,20 persen ke 5.202,48. ***














