Olahraga
Tampil Luar Biasa, Indonesia Pecahkan Mitos di Final Women Team, China Gagal Dominasi Asia

Keberhasilan Indonesia tidak lepas dari strategi jitu Playing Captain Lusje Olha Bojoh yang mampu membaca permainan lawan dengan sangat baik. (Ist)
Oleh: Bert Toar Polii, Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: China datang ke 5th Asia Bridge Cup 2026 di Goa, India, dengan status sebagai kekuatan terbesar bridge Asia. Tiga tim mereka berhasil melaju ke final nomor Men Team, Women Team, dan Mixed Team sehingga peluang mendominasi kejuaraan terbuka lebar.
Namun kenyataannya berbicara lain.
Dari tiga partai final yang diikuti, China hanya membawa pulang satu medali emas, itu pun dari nomor Mixed Team setelah terjadi final sesama tim China. Tiga gelar juara lainnya justru dibagi oleh Hong Kong China, Indonesia, dan Australia.
Yang paling menyita perhatian tentu kemenangan Indonesia di nomor Women Team. Menghadapi tim China yang lebih diunggulkan dan pernah mengalahkan Indonesia pada babak penyisihan, skuad Merah Putih tampil luar biasa. Berkat strategi cermat Playing Captain Lusje Olha Bojoh, Indonesia mampu membalikkan keadaan setelah tertinggal 20 IMP pada akhir segmen pertama dan akhirnya keluar sebagai juara Asia.
Kemenangan ini bukan sekadar meraih medali emas. Lebih dari itu, Indonesia berhasil mematahkan anggapan bahwa China selalu terlalu kuat untuk dikalahkan pada laga penentuan. Sebuah kemenangan yang lahir dari perpaduan strategi, keberanian mengambil keputusan, kekompakan tim, dan sedikit sentuhan keberuntungan pada momen yang tepat.
Hong Kong China Menumbangkan Sang Favorit
Di nomor Men Team, China harus mengakui keunggulan tetangganya, Hong Kong China. Setelah bertarung selama tiga segmen masing-masing 16 papan, Hong Kong China menang tipis dengan selisih 6,67 IMP.
Sementara itu, medali perunggu berhasil direbut India setelah mengalahkan Bangladesh.
Indonesia Menghentikan Ambisi China
Kegagalan China berlanjut di nomor Women Team. Kali ini giliran Indonesia yang menghentikan langkah mereka menuju gelar juara.
Keberhasilan Indonesia tidak lepas dari strategi jitu Playing Captain Lusje Olha Bojoh yang mampu membaca permainan lawan dengan sangat baik.
Pada segmen pertama final, Indonesia menurunkan dua pasangan:
- Lusje Olha Bojoh – Dewita Sonya Terabunga
- Della Ayu Nobira – Desy Noervita Rahayu
Menariknya, Lusje melakukan perubahan strategi dengan memilih duduk di meja tertutup (Closed Room), berbeda dengan kebiasaannya yang hampir selalu bermain di meja terbuka (Open Room).
Strategi tersebut memang belum langsung membuahkan hasil. Indonesia kalah 34-42 IMP. Ditambah carry over 12 IMP, Indonesia tertinggal 20 IMP setelah segmen pertama.
Momentum Berubah di Segmen Kedua
Memasuki segmen kedua, China melakukan perubahan susunan pasangan.
Perubahan inilah yang justru berhasil dimanfaatkan Indonesia. Dengan tetap mempertahankan kombinasi pemain yang sama, Indonesia tampil luar biasa dan menang telak 46-21 IMP.
Hasil tersebut membalikkan keadaan sehingga Indonesia berbalik unggul 5 IMP secara keseluruhan.
Melihat momentum sudah berpihak kepada timnya, Lusje memilih mempertahankan komposisi pemain pada segmen terakhir dengan filosofi sederhana:
“Don’t Change the Winning Team.”
Sebaliknya, China kembali menggunakan susunan pemain seperti pada segmen pertama.
Sedikit Keberuntungan, Banyak Perjuangan
Kepercayaan sang Playing Captain dibayar lunas.
Indonesia tampil semakin percaya diri pada segmen ketiga dan kembali menang besar 41-11 IMP, memastikan gelar juara Asia.
Ada satu papan yang menjadi cerita menarik.
Pada papan ke-13, pasangan Indonesia memainkan kontrak 3NT, padahal terdapat fit sembilan kartu di klub.
Secara teori, kontrak tersebut sangat rentan gagal karena salah satu pemain bertahan memegang ♦️AKQxx. Jika komunikasi pertahanan berjalan normal, kontrak kemungkinan besar akan tumbang.
Namun justru terjadi blockage. Pemegang ♦️AKQ hanya memiliki lima kartu berlian, sementara partnernya memegang ♦️10965 sehingga komunikasi pertahanan terputus. Akibatnya, declarer berhasil memenuhi kontrak 3NT.
Inilah salah satu contoh bahwa dalam bridge tingkat tinggi, selain kemampuan teknis dan strategi, sedikit keberuntungan pada momen yang tepat juga dapat menjadi pembeda.
Selamat untuk Tim Indonesia
Gelar juara Women Team dipersembahkan oleh:
- Fera Damayanti
- Riantini
- Dewita Sonya Terabunga
- Della Ayu Nobira
- Desy Noervita
- Lusje Olha Bojoh (Playing Captain)
Sementara medali perunggu diraih Jepang setelah mengalahkan India.
Nomor Lain
Di nomor Mixed Team, medali emas diraih China A yang mengalahkan China B, sedangkan medali perunggu menjadi milik Australia setelah mengalahkan Hong Kong China.
Pada nomor Senior Team, Australia tampil sebagai juara setelah mengalahkan tuan rumah India. Medali perunggu direbut Jepang usai menundukkan Bangladesh.
Perolehan Medali
Negara | Emas | Perak | Perunggu |
| China | 1 | 3 | – |
| Australia | 1 | – | 1 |
| Hong Kong China | 1 | – | – |
| Indonesia | 1 | – | – |
| India | – | 1 | 1 |
| Jepang | – | – | 2 |
Regenerasi Membuat Asia Semakin Kompetitif
Asia Bridge Cup 2026 memberikan satu pesan yang sangat jelas: dominasi satu negara tidak lagi menjadi jaminan.
China memang masih menjadi kekuatan utama dengan menempatkan tiga tim di final, tetapi gelar juara justru tersebar ke empat negara berbeda. Indonesia membuktikan bahwa strategi yang tepat, kekompakan tim, dan keberanian mengambil keputusan dapat mengalahkan tim yang di atas kertas lebih diunggulkan.
Semakin meratanya kekuatan bridge Asia merupakan kabar baik bagi perkembangan olahraga ini. Persaingan menjadi semakin menarik, sementara setiap negara memiliki peluang yang sama untuk menjadi juara apabila mampu mempersiapkan tim dengan baik. ***














