Olahraga
Sebuah Gagasan: Membangun Tim Impian PB GABSI untuk Kebangkitan Bridge Indonesia

Dengan demikian, Kongres tidak hanya menjadi arena memilih pemimpin, tetapi juga menjadi momentum menyatukan seluruh potensi terbaik yang dimiliki bridge Indonesia.
Oleh: Bert Toar Polii, Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Menjelang Kongres GABSI XIX di Mamuju, berbagai nama mulai bermunculan sebagai calon pemimpin PB GABSI periode mendatang. Dinamika ini menunjukkan bahwa banyak insan bridge memiliki kepedulian terhadap masa depan organisasi yang kita cintai.
Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan sebuah gagasan, bukan mendukung ataupun mengampanyekan tokoh tertentu.
Sekaligus, tulisan ini merupakan penyempurnaan atas artikel saya sebelumnya yang sempat menyebut beberapa nama sebagai ilustrasi komposisi kepemimpinan. Saya menyadari penyebutan tersebut dapat menimbulkan persepsi yang kurang tepat. Karena itu, saya ingin meluruskan bahwa substansi yang ingin saya dorong bukanlah siapa yang mengisi jabatan, melainkan bagaimana membangun kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh kekuatan bridge Indonesia.
Pertanyaannya sederhana.
Mungkinkah para calon duduk bersama sebelum Kongres untuk membangun sebuah tim kepemimpinan?
Bridge adalah olahraga kemitraan. Tidak ada pasangan yang menang hanya karena satu pemain hebat. Kemenangan lahir karena komunikasi, saling melengkapi, dan kepercayaan.
Bukankah filosofi yang sama juga layak diterapkan dalam memimpin PB GABSI?
Mengapa Konsolidasi Sebelum Kongres Penting?
Dalam banyak organisasi, kontestasi sering kali meninggalkan polarisasi. Setelah pemilihan selesai, energi organisasi justru habis untuk menyatukan kembali kelompok-kelompok yang sebelumnya berkompetisi.
PB GABSI memiliki kesempatan untuk menunjukkan tradisi yang berbeda.
Mengapa tidak memulai dengan musyawarah sebelum Kongres?
Bukan untuk menghilangkan demokrasi, melainkan membangun kesamaan visi sehingga siapa pun yang nantinya dipercaya menjadi Ketua Umum dapat langsung bekerja bersama tim yang solid.
Dengan demikian, Kongres tidak hanya menjadi arena memilih pemimpin, tetapi juga menjadi momentum menyatukan seluruh potensi terbaik yang dimiliki bridge Indonesia.
Sebuah Model Kepemimpinan
Apabila tujuan utama Kongres adalah mengembalikan kejayaan bridge Indonesia, maka kepemimpinan kolektif layak menjadi salah satu alternatif.
Model ini tidak menempatkan Ketua Umum sebagai pusat segala keputusan, tetapi sebagai pemimpin strategis yang didukung oleh tim dengan pembagian tugas yang jelas.
Ketua Umum
Ketua Umum berfungsi sebagai pemimpin strategis organisasi.
Fokus utamanya adalah membangun hubungan dengan pemerintah, KONI, NOC Indonesia, sponsor, dunia usaha, media, dan organisasi bridge internasional. Ia menjadi wajah organisasi sekaligus membuka akses, memperluas jejaring, menggalang dukungan, dan menciptakan peluang baru bagi perkembangan bridge Indonesia.
Ketua Harian
Ketua Harian merupakan motor penggerak organisasi.
Ia memastikan seluruh keputusan strategis diterjemahkan menjadi program yang berjalan efektif, terukur, dan berkesinambungan.
Posisi ini menjadi penghubung antara visi besar Ketua Umum dengan pelaksanaan program sehari-hari.
Wakil Ketua Umum I
Membidangi Prestasi dan Pembinaan Atlet.
Bertanggung jawab terhadap pembinaan atlet nasional, pelatih, sistem seleksi, tim nasional, regenerasi pemain muda, kalender kompetisi, serta pencapaian prestasi Indonesia di tingkat Asia maupun dunia.
Wakil Ketua Umum II
Membidangi Organisasi dan Tata Kelola.
Berfokus pada penguatan organisasi, pembinaan pengurus provinsi dan kabupaten/kota, pendidikan wasit dan direktur pertandingan, digitalisasi administrasi, serta pembangunan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Wakil Ketua Umum III
Membidangi Pemasalan, Pengembangan, dan Kemitraan.
Tugas utamanya memperluas basis pemain melalui sekolah, perguruan tinggi, klub, komunitas, media digital, serta membangun kemitraan dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan sektor swasta agar bridge semakin dikenal masyarakat.
Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum
Dua jabatan strategis ini sebaiknya tidak menjadi bagian dari kompetisi politik Kongres.
Akan jauh lebih baik apabila Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum dipilih secara bersama oleh Ketua Umum, Ketua Harian, dan para Wakil Ketua Umum berdasarkan kompetensi, integritas, pengalaman, dan kemampuan bekerja dalam tim.
Dengan cara itu, seluruh unsur pimpinan memiliki rasa memiliki yang sama terhadap organisasi sekaligus bertanggung jawab atas keberhasilan manajemen PB GABSI.
Lima Pilar Kepemimpinan
Model ini membagi kepemimpinan ke dalam lima pilar utama.
Pilar pertama, jejaring nasional dan internasional yang dipimpin Ketua Umum.
Pilar kedua, manajemen organisasi dan eksekusi program yang dipimpin Ketua Harian.
Pilar ketiga, pembinaan prestasi yang dipimpin Wakil Ketua Umum Bidang Prestasi.
Pilar keempat, penguatan organisasi dan tata kelola yang dipimpin Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi.
Pilar kelima, pemasalan, pengembangan, dan kemitraan yang dipimpin Wakil Ketua Umum Bidang Pemasalan.
Dengan pembagian seperti ini, setiap unsur pimpinan memiliki mandat yang jelas tanpa saling tumpang tindih, namun tetap bergerak menuju sasaran yang sama.
Bridge Membutuhkan Tim, Bukan Superman
Pengalaman berbagai organisasi olahraga menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk sebagai Ketua Umum.
Yang lebih menentukan adalah kemampuan membangun tim yang saling melengkapi, berbagi tanggung jawab, dan bekerja dengan satu visi.
Bridge sendiri mengajarkan bahwa pasangan terbaik bukanlah dua pemain yang sama, melainkan dua pemain yang mampu memaksimalkan kelebihan masing-masing dan menutupi kekurangan pasangannya.
Organisasi pun demikian.
PB GABSI tidak membutuhkan sekadar seorang Ketua Umum yang hebat.
PB GABSI membutuhkan sebuah tim kepemimpinan yang hebat.
Sebuah Harapan
Apakah gagasan seperti ini akan terwujud?
Tentu jawabannya berada di tangan para pemilik suara dan para tokoh yang akan berkontestasi dalam Kongres GABSI XIX di Mamuju.
Namun tidak ada salahnya apabila sebelum Kongres berlangsung, seluruh calon duduk bersama, berdialog, dan mencari titik temu demi kepentingan organisasi.
Barangkali dari ruang musyawarah itulah akan lahir sebuah konsensus yang lebih besar daripada sekadar kemenangan seorang kandidat.
Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan memilih siapa yang menang.
Tujuan kita adalah memastikan bridge Indonesia yang menang.
Dalam bridge, pasangan terbaik bukanlah yang berisi dua pemain yang ingin menjadi bintang, melainkan dua pemain yang saling melengkapi untuk memenangkan pertandingan.
Demikian pula organisasi.
Bridge mengajarkan kemitraan. Sudah saatnya GABSI dipimpin dengan semangat kemitraan. ***














