Nasional
Gempa Susulan Magnitudo 5,3 Kembali Guncang Sangihe, Kerusakan di Pulau Matutuang Bertambah

Ilustrasi gempa bumi mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe, 8 Juni 2026. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Aktivitas gempa bumi susulan masih terus terjadi di wilayah perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, setelah gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut pada Senin (8/6/2026) pagi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa susulan terbaru terjadi pada Senin malam pukul 21.53 WIB dengan magnitudo 5,3. Berdasarkan data BMKG, pusat gempa berada di koordinat 5,65 Lintang Utara dan 124,80 Bujur Timur atau sekitar 239 kilometer barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan kedalaman 10 kilometer.
“Gempa Mag: 5.3, 08-Jun-2026 21:53:00 WIB. Lokasi: 5.65 LU, 124.80 BT (239 km barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara), kedalaman 10 km,” tulis BMKG melalui akun media sosial resminya.
Sebelumnya, gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,5 juga tercatat mengguncang wilayah yang sama pada pukul 18.22 WIB. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik yang terjadi pascagempa utama dan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Sementara itu, dampak gempa utama magnitudo 7,7 mulai terdata di sejumlah wilayah terdampak. Salah satu daerah yang mengalami kerusakan cukup parah adalah Kampung Matutuang, Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Berdasarkan laporan sementara pemerintah kampung setempat, sedikitnya 25 rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi. Sebanyak sembilan rumah dilaporkan rusak berat, empat rumah rusak sedang, dan 12 rumah mengalami kerusakan ringan.
Sekretaris Kampung Matutuang, Reksan Salur, mengatakan pendataan masih terus dilakukan karena gempa susulan masih terjadi hingga malam hari.
“Ini adalah laporan awal. Mengingat gempa susulan tadi sekitar pukul 19.00 Wita masih terjadi, kemungkinan jumlah kerusakan rumah warga akan bertambah,” ujarnya.
Selain rumah penduduk, sejumlah fasilitas umum dan tempat ibadah juga mengalami kerusakan. Gereja GMIST Jemaat Nazaret Matutuang dilaporkan mengalami kerusakan berat, sementara Gereja GPSDI Alfa Omega, Masjid Al-Hijrah, mess ASN guru, ruang guru dan perpustakaan SMP Negeri 6 Satu Atap Matutuang, serta ruang guru SD Negeri Matutuang turut terdampak.
Kerusakan juga terjadi pada pagar beton kantor desa. Di sisi lain, gempa memicu longsoran batu di kawasan Lindongan I Kampung Matutuang yang berpotensi mengganggu aktivitas warga.
Pulau Matutuang yang merupakan salah satu pulau terluar Indonesia di perbatasan Indonesia–Filipina merasakan guncangan cukup kuat saat gempa terjadi.
Hingga Senin malam, pemerintah daerah bersama instansi terkait masih melakukan inventarisasi kerusakan dan pemantauan kondisi di lapangan, sementara data dampak gempa diperkirakan masih akan terus berkembang seiring proses verifikasi yang berlangsung.***











