Connect with us

Ekonomi

Rupiah Selasa 2 Juni 2026: Menyusut 34 Poin Tertekan Sentimen Global dan Inflasi, Esok Masih Fluktuatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Mengawali perdagangan di pembuka bulan Juni 2026, Selasa (2/6/2026) nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum mampu bangkit dan diperkirakan ini juga mengancam untuk pergerakan Rabu (3/6/2026)

Mengawali perdagangan di pembuka bulan Juni 2026, Selasa (2/6/2026) nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum mampu bangkit dan diperkirakan ini juga mengancam untuk pergerakan Rabu (3/6/2026). (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Mengawali bulan Juni, nilai tukar rupiah di pasar spot harus rela kembali menyusut tertekan dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (2/6/2026), mata uang Garuda terus melemah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan valuta asing.

Ketika pasar dibuka setelah libur panjang, rupiah melemah melemah 54,50 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.859 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS.

Memang sempat meningkatkan perlawanan namun saat penutupan perdagngan Selasa sore, rupiah tetap menyusut 34 poin atau 0,19 persen di level Rp17.839 per dolar AS.

Tekanan yang terjadi sepanjang hari bahkan memaksa sejumlah perbankan nasional mematok kurs jual dolar AS hingga menembus angka Rp 18.010.

Rupiah tidak sendirian dalam zona merah, sebab pelemahan ini sejalan dengan mayoritas mata uang regional lainnya. Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau bervariasi.

Advertisement

Won Korea Selatan tercatat memimpin pelemahan terdalam di Asia dengan koreksi mencapai 0,23%, disusul oleh dolar Taiwan dan yen Jepang yang masing-masing ikut tergelincir tipis.

Faktor Eksternal dan Sentimen Global

Pelemahan rupiah kali ini dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta teka-teki arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed) membuat para pelaku pasar global memilih bermain aman dan mengalihkan aset mereka ke mata uang safe-haven seperti dolar AS.

Padahal, dari dalam negeri, pasar sebenarnya tengah mengamati implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang baru saja resmi berlaku efektif per 1 Juni 2026. Aturan ini sempat memberikan tenaga bagi rupiah di awal pekan, namun kuatnya arus sentimen global akhirnya membalikkan arah pergerakan mata uang spot regional.

Masih Tetap Fluktuatif

Advertisement

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sementara kantor berita Tasnim sebelumnya melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.

“Trump mengharapkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dalam minggu depan,’” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Sementara, Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran.

Adapun, Iran secara efektif telah menghentikan hampir semua pengiriman non-Iran ke dan dari teluk sejak perang dimulai, mencekik sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global dan mendorong harga naik 50 persen atau lebih.

Dari sentimen domestik, Badan pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026.

Advertisement

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi tercatat sebesar 1,35 persen dan secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,28 persen.

Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026.  Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi.

Kemudian, BPS merilis surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global belum mereda.

Kinerja ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional. Surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-April 2026 mencapai 5,64 miliar dolar AS. Neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Para analis memproyeksikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berpotensi berlanjut dalam beberapa hari ke depan, mengingat pelaku pasar masih menunggu kepastian indikator ekonomi makro global global serta kelanjutan rilis data inflasi dari AS.

Advertisement

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim seperti dilansir RCTIplus, memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.840-Rp17.900 per dolar AS.

Pantauan Kurs Bank Nasional

Bagi masyarakat yang ingin melakukan transaksi valuta asing, berikut adalah rincian kurs jual dan beli dolar AS di beberapa perbankan besar tanah air per Selasa sore, 2 Juni 2026:

Nama BankHarga Beli (Rp)Harga Jual (Rp)
Bank Mandiri17.64017.940
BCA17.69017.940
BNI17.87517.895
BTN17.76018.010 ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement