Ekonomi
Rupiah Kembali Terpuruk, Dekati Level Rp 18.000 per Dolar AS

Rupiah kembali terpuruk, dekati Rp 18.000.(Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang memengaruhi sentimen pasar global.
Pada perdagangan sore, rupiah ditutup turun 52 poin ke level Rp 17.796 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 17.744 per dolar AS. Sepanjang perdagangan intraday, rupiah bahkan sempat tertekan hingga 55 poin.
Di awal perdagangan, rupiah dibuka melemah 13 poin atau sekitar 0,07 persen ke posisi Rp 17.757 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun 0,17 persen ke level 99.070.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke wilayah selatan Iran.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran pasar karena berpotensi menghambat proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Ketidakpastian geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.
“Harga minyak sempat turun tajam setelah muncul laporan terkait serangan tersebut, meski ketidakjelasan situasi di lapangan membuat pergerakannya masih fluktuatif,” ujarnya, Selasa.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.790 hingga Rp 17.850 per dolar AS.
Pelemahan rupiah yang terus terjadi mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Nilai tukar yang melemah membuat biaya produksi meningkat dan berpotensi menekan kinerja perusahaan.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap sektor industri dapat berdampak pada efisiensi usaha hingga risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), khususnya bagi perusahaan yang mengandalkan impor bahan baku maupun pasar ekspor.
Selain itu, kondisi rupiah yang semakin mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS juga meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar. Pelemahan mata uang domestik dinilai dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan meningkatkan tekanan inflasi apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Di tengah situasi global yang belum stabil, pelaku pasar kini menanti langkah pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengantisipasi dampak lanjutan terhadap perekonomian nasional.***














