Connect with us

Kesra

Penguatan Ekoteologi, Kampus Keagamaan Harus Menjadi Contoh Membangun Hubungan Harmonis antara Manusia, Alam, dan Tuhan.

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberi sambutan saat membuka Lokakarya Penguatan Ekoteologi  BMBPSDM Kemenag di Bogor, Selasa (19/5/2026). (Kemenag)

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberi sambutan saat membuka Lokakarya Penguatan Ekoteologi BMBPSDM Kemenag di Bogor, Selasa (19/5/2026). (Kemenag)

FAKTUAL INDONESIA: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan, kampus keagamaan harus menjadi contoh dalam membangun hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Menurut Menag Nazaruddin, pimpinan biro dan kepala bagian pada Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) memiliki posisi strategis untuk memastikan nilai-nilai ekoteologi tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi diterjemahkan menjadi kebijakan dan budaya organisasi.

“Kampus keagamaan harus menjadi contoh dalam membangun hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Spirit ini harus hadir dalam tata kelola kelembagaan maupun kehidupan akademik,” ujar Menag, Selasa (19/5/2026), saat membuka Lokakarya Penguatan Ekoteologi.

Acara di Bogor ini berlangsung selama tiga hari, 19–21 Mei 2026. Hadir, pimpinan biro dan kepala bagian di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN).

Dalam pesannya, Menag mengemukakan, perguruan tinggi keagamaan didorong menjadi ruang pembentukan budaya hidup yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berbasis nilai spiritual melalui penguatan ekoteologi dalam tata kelola kampus. 

Advertisement

Ia menilai penguatan ekoteologi penting untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus memperluas makna kerukunan yang selama ini dikembangkan Kementerian Agama.

Nasaruddin menekankan, konsep trilogi kerukunan kini diperluas tidak hanya pada hubungan internal umat beragama, antarumat beragama, dan relasi dengan pemerintah, tetapi juga pada harmoni manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan.

“Kerukunan tidak cukup hanya diukur dari relasi sosial. Manusia juga perlu membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan dan menjaga keseimbangan dengan Sang Pencipta,” katanya.

Nasaruddin menambahkan, penguatan ekoteologi menjadi bagian dari misi kemanusiaan Kementerian Agama, termasuk melalui pengembangan kurikulum berbasis cinta yang menanamkan kepedulian sosial dan lingkungan.

“Menjaga bumi bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi bagian dari tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah,” tegasnya.

Advertisement

Ia juga mengingatkan bahwa seluruh agama memiliki nilai-nilai yang mengajarkan penghormatan terhadap alam dan kehidupan. Karena itu, Nasaruddin mengajak sivitas akademika dan masyarakat membangun kebiasaan sederhana yang berdampak nyata, seperti menjaga kebersihan, merawat tumbuhan, dan menghindari tindakan yang merusak lingkungan.

“Ekoteologi pada akhirnya mengajarkan kita untuk bersahabat dengan alam. Jika manusia mampu menjaga alam, maka alam pun akan memberi kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya seperti dilansir laman Kemenag. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement