Connect with us

Nasional

Menuju PLTN Pertama, BRIN Gandeng Korea Selatan Perkuat Benteng Keselamatan Nuklir Indonesia

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Korea Atomic Energy Research Institute (KAERI) untuk memperkuat pemantauan radioaktivitas lingkungan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Korea Atomic Energy Research Institute (KAERI) untuk memperkuat pemantauan radioaktivitas lingkungan. (BRIN)

FAKTUAL INDONESIA: Ambisi Indonesia untuk menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama semakin matang. Tak hanya soal teknologi pembangkitnya, aspek keselamatan dan kesiapsiagaan darurat kini menjadi prioritas utama.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Korea Atomic Energy Research Institute (KAERI) untuk memperkuat pemantauan radioaktivitas lingkungan. Langkah ini diawali dengan kegiatan Pra Studi Kelayakan kerja sama Official Development Assistance (ODA) dari Korea Selatan yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie, Serpong, Rabu (11/2/2026).

Standar Keselamatan Publik

Kepala Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) BRIN, Heru Prasetio, menegaskan bahwa pembangunan energi nuklir harus berjalan beriringan dengan sistem keamanan yang andal.

“Pemanfaatan energi nuklir harus disertai dengan sistem pemantauan radioaktivitas lingkungan dan respons kedaruratan yang andal. Kolaborasi dengan KAERI adalah upaya kita mengintegrasikan teknologi dan SDM demi keselamatan nasional,” ujar Heru seperti dilansir laman BRIN.

Advertisement

Korea Selatan tidak main-main dalam mendukung proyek ini. Dari puluhan proposal yang masuk ke National Research Foundation Korea, kerja sama dengan BRIN menjadi satu dari sembilan proyek yang berhasil lolos seleksi ketat.

Perwakilan KAERI, Hyuncheol Kim, mengungkapkan bahwa Indonesia akan mendapatkan transfer teknologi menyeluruh, meliputi sistem pemantauan berlapis mencakup wilayah darat, laut, hingga udara. Kemudian teknologi drone untuk survei radioaktivitas di area yang sulit dijangkau. Selanjutnya decision support system yakni sistem cerdas untuk membantu pengambilan keputusan cepat saat terjadi kondisi darurat.

“Pengalaman Korea dalam membangun sistem pemantauan yang transparan dan tervalidasi sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik,” tambah Daeji Kim dari Korea Institute of Nuclear Safety (KINS).

Menyiapkan “Pasukan” Nuklir Unggul

Selain infrastruktur, BRIN juga tancap gas dalam menyiapkan talenta riset. Melalui skema degree by research, magang, hingga postdoctoral, BRIN memastikan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelola teknologi nuklir di masa depan.

Advertisement

“SDM adalah kunci. Kami menyiapkan pelatihan teknis dan latihan tanggap darurat agar kita tidak hanya siap secara teknologi, tapi juga siap secara personil,” tegas Pelaksana Tugas Direktur Pengembangan Kompetensi BRIN, Rahma Lina.

Langkah ini juga mendapat lampu hijau dari BAPPENAS. Penguatan sistem nuklir dianggap sejalan dengan agenda ekonomi hijau dan industrialisasi nasional. Dengan sistem pemantauan seperti Indonesian Radiation Data Monitoring System (IRDMS), Indonesia diharapkan mampu tumbuh sebagai negara industri yang aman dan berkelanjutan.

Melalui sinergi internasional ini, Indonesia bersiap membuktikan bahwa impian energi nuklir bukan sekadar soal listrik, melainkan tentang kemandirian bangsa yang berbasis sains dan keselamatan tinggi. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement