Internasional
Jelang Libur Nataru (SEA Games?), Thailand Cabut Larangan Penjualan Alkohol Sore Hari untuk Tingkatkan Pariwisata

Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Buddha masih menerapkan undang-undang ketat mengenai alkohol, membatasi penjualan pada jam-jam tertentu dan melarangnya pada hari besar keagamaan,meskipun dikenal dengan suasana pestanya yang meriah.
FAKTUAL INDONESIA: Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Thailand melonggarkan pembatasan penjualan alkohol yang telah berlaku selama beberapa dekade. Melalui aturan yang baru diterapkan Rabu (3/12/2025), konsumen diizinkan membeli anggur, bir, dan minuman beralkohol pada jam-jam sore yang sebelumnya dilarang.
Aturan yang diberlakukan juga kebetulan sebelum pelaksanaan pesta olahraga antarnegara Asia Tenggara, SEA Games di Thailand, itu dalam uji coba enam bulan.
Negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha ini masih menerapkan undang-undang ketat mengenai alkohol, membatasi penjualan pada jam-jam tertentu dan melarangnya pada hari besar keagamaan.
Baca Juga : KAI Siapkan 35 Trainset INKA untuk Perkuat Layanan Saat Libur Nataru
Toko minuman keras, bar, dan pemasok lainnya sebelumnya dilarang menjual alkohol dari pukul 14.00 hingga 17.00, tetapi aturan yang dilonggarkan mengizinkan penjualan dari pukul 11.00 hingga tengah malam selama uji coba sementara sebuah komite mempelajari dampaknya.
Para pejabat bulan lalu meninjau kembali larangan penjualan yang sudah berlaku sejak pukul 14.00 hingga 17.00, sebuah aturan yang awalnya diperkenalkan untuk mencegah pegawai pemerintah minum alkohol selama jam kerja, yang sering kali membingungkan pengunjung asing.
Bagi yang melanggar larangan tersebut menghadapi denda hingga 10.000 baht atau sekitar Rp5,5 juta.
Larangan tersebut, yang mulai berlaku pada tahun 1972, telah lama meresahkan pengunjung negara yang juga dikenal dengan suasana pestanya yang meriah.
Seperti dilansir BBC, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, yang menjabat pada bulan September, telah berjanji untuk menarik kembali wisatawan sebagai bagian dari upaya untuk menghidupkan kembali perekonomian yang telah terhambat oleh kekacauan politik selama bertahun-tahun.
Baca Juga : Prabowo Minta Pasokan LPG Subsisdi Jelang Nataru Tidak Boleh Kurang, Bahlil Tambah Kuota 350 Ribu Ton
“Dulu, ada kekhawatiran pegawai pemerintah akan menyelinap keluar untuk minum, tapi sekarang sudah berbeda,” ujar Wakil Perdana Menteri Sophon Saram kepada wartawan bulan lalu.
Menteri Kesehatan Pattana Promphat mengatakan langkah tersebut “sesuai dengan situasi saat ini”, menurut pernyataan di Royal Gazette yang diterbitkan pada hari Selasa.
Punch Newspapers melaporkan, meskipun reputasinya sebagai pusat pariwisata dan kehidupan malam, undang-undang alkohol di Thailand tetap berakar pada ajaran Buddha yang memandang minum alkohol sebagai pelanggaran moral.
Negara ini memiliki salah satu tingkat konsumsi alkohol tertinggi di Asia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, dengan penduduk setempat biasanya memilih bir Chang, Singha, dan Leo yang ada di mana-mana.
Thailand menempati peringkat ke-16 dari hampir 200 negara untuk jumlah kematian lalu lintas jalan per kapita terbanyak pada tahun 2021, menurut data WHO.
Baca Juga : Hore! Pemerintah Beri Diskon Tarif Tol 20% Selama Nataru
Hampir 33.000 orang tewas dalam insiden mengemudi dalam keadaan mabuk di negara tersebut dari tahun 2019 hingga 2023, menurut data kementerian kesehatan masyarakat.
Di pusat kota Bangkok pada Rabu sore, beberapa bisnis mengatakan kepada wartawan AFP bahwa mereka belum melihat perubahan pada hari pertama pelonggaran aturan penjualan
“Tidak banyak orang yang datang karena pelanggan masih belum tahu tentang undang-undang baru tersebut,” kata seorang asisten toko di Gourmet Wine Cellar yang menolak menyebutkan namanya.
Pembeli di 7-Eleven memilih soda daripada minuman beralkohol, meskipun ada tanda yang dipasang di pintu kulkas yang menyebutkan jam penjualan diperpanjang.
Di taman bir yang hampir kosong tempat beberapa pelanggan memesan bir, seorang pelayan mengatakan bahwa dia telah mendengar tentang perubahan aturan di TikTok.
Baca Juga : Jelang Nataru 2025/2026 Kemenhub Gencarkan Ramp Check, Menhub Dudy: Memastikan Moda Transportasi Aman, Nyaman
Namun, katanya, “Hampir tidak ada perubahan karena kami biasanya tidak mendapatkan pelanggan selama waktu ini.”
Apple, seorang pelari maraton asal Thailand, mengatakan bahwa pelonggaran pembatasan tersebut “bermanfaat bagi wisatawan”.
“Turis suka minum banyak. Tapi orang Thailand mungkin tidak, karena kami biasanya tidak minum pada waktu itu,” ujarnya.
Matthew, seorang pelancong Inggris berusia 23 tahun, mengatakan dia belum mendengar tentang larangan penjualan yang sudah lama berlaku atau pencabutannya.
“Kedengarannya akan sangat buruk bagi perekonomian. Banyak sekali turis yang datang ke sini. Kenapa mereka melakukan itu? Alasan agama?” ***












