Olahraga
Olahraga Prestasi Indonesia Sedang Tidak Baik-baik

Stadion Utama GBK saksi prestasi olahraga Indonesia. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA: Miris dan prihatin melihat olahraga prestasi Indonesia akhir-akhir ini. Betapa tidak? Bukan prestasi yang menghiasi media, tapi justru kegaduhan organisasi: dualisme, gugat menggugat kepentingan antar pengurus dan banyak lainnya yang masih sejenis yang tidak selaras dengan “roh” olaharaga persahabatan dan sportifitas.
Ironi dengan situasi di Indonesia era 1980 an dan 1990-an. Dimana cabang olahraga berlomba melahirkan nama-nama besar atlet dengan menorehkan prestasi yang membuat nama Indonesia harum.
Sebaliknya, kini di masa tehnologi modern dan maju yang bisa dimanfaatkan atlet untuk menembus prestasi yang belum pernah diciptakan atlet pendahulunya dengan penerapan sport sains, justru yang terjadi malah sebaliknya. Tidak muncul atlet Indonesia untuk menyamai bahkan melebihi prestasi pendahulunya.
Memang atlet tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kenyataan memprihatinkan di atas. Atlet sangat tergantung “sehat atau tidaknya” dari pemangku olahraga di negeri ini (Kemenpora, NOC Indonesia dan KONI serta induk organisasi cabang olahraga( PB/PP) .
Baca Juga : Luncurkan Beasiswa Kemenpora – LPDP, Menpora Dito Tegaskan Bentuk Nyata Komitmen Presiden Prabowo Sejahterakan Insan Olahraga
Tapi justru yang terjadi pemangku olahraga dan induk organisasi olahraga di negeri yang berpenduduk terbesar masuk sepuluh besar dunia (270 juta jiwa lebih) ini, malah banyak mengedepankan ketidak harmonisan karena asyik “melindungi” kepentingan masing-masing. Para pemangku olahraga ini tak ubahnya partai politik hanya mengedepankan untuk merebut pengaruh atau kuasanya, ketimbang memikirkan terobosan ideal dalam pembinaan mencetak prestasi. Memang sering mengkampanyekan sport sains tapi tidak terlihat action di lapangan untuk melahirkan atlet idola.
Jelas keasyikan “,menghimpun pengaruh ” tersebut dengan mulai menaruh orang-orang “patuh” saat pemilihan pucuk pimpinan atau ketua umum cabor. Figur yang kirannya “tidak patuh” dengan segala upaya akan coba dihadang dan akhirnya lahir dualisme cabor.
Sangat berbeda dengan era 1980 dimana Ketua Umum cabor dipilih dari figur yang benar-benar memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk bisa menjalankan roda pembinaan mencetak atau melahirkan atlet handal. Ketua Umum cabor di era itu sangat loyal dengan mau merogoh kocek pribadi atau tak tergantung dengan dana pembinaan dari pemerintah (APBN) demi mencetak atau melahirkan.atlet handal. Sangat berbeda 360 derajat dengan fakta yang berjalan sekarang ini.
Baca Juga : Waketum KORMI Ibnu, FORNAS VIII 2025 NTB Trigger Olahraga Masyarakat menjadi Gaya Hidup Pacu Industri Olahraga
Memang Indonesia berhasil menyabet 2 medali emas di Olimpiade Paris yang bisa jadi alasan pemangku olahraga negeri ini jika mereka on the track dalam membina dan menjalankan organisasi. Namun itu bisa ditepis karena sangat terlihat cabor yang menjalan atau memutar kompetisi dengan benar, seperti menggelar kejurnas baik yunior atau senior dari 66 cabor yang ada mungkin tak lebih hanya beberapa yang melakukannya. Capaian merebut emas di ajang Olimpiade, Asian Games atau SEA Games karena atlet punya motivasi lebih atau mati-matian untuk mengejar bonus uang besar sebagai jaminan di hati tua.
Olahraga Prestasi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Semoga menjadi perhatian dsti seluruh pemaku pembina olahraga kembali merajut harmonisasi dan memutar kompetisi dengan mengedepankan ‘roh’ olaharaga yakni persahabatan dan sportifitas. Bukan sekedar menghimpun untuk melanggengkan kepentingan kelompok dan mempertahankan “kekuasaan”. Salam Olahraga!!****














