Connect with us

Olahraga

Ini Menpora Baru, Ini Baru Menpora (1)

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Ini Menpora Baru, Ini Baru Menpora (1)

Gungde Ariwangsa SH – Pemimpin Redaksi Faktual Indonesia (faktualid.com), Ketua Siwo PWI Pusat 2018 – 2023, pemegang UKW Utama.

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

FAKTUAL INDONESIA: Ada apa di balik reshuffle Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo? Pertanyaan ini muncul setelah pada Senin (8/9/2025) lalu Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan Kabinet Merah Putih dengan mengganti lima menteri dan mengangkat satu menteri baru. Meskipun sudah memutuskan mengganti Dito namun Prabowo belum menunjuk penggantinya sehingga menimbulkan berbagai spekulasi.

Apalagi, ketika itu sempat dikemukakan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi bahwa belum ditunjuk dan dilantiknya Menpora baru karena calon pengganti Dito masih berada di luar kota. Tetapi hingga saat ini, Sabtu (13/9/2025), Prabowo belum juga mengumumkan siapa sosok Menpora baru itu.

Baca Juga : Buka Asian School Chess Competition, Menpora Dito Apresiasi BPK Penabur Majukan Prestasi Catur Indonesia

Tak pelak lagi spekulasi pun muncul. Baik tentang alasan penggantian Menpora dan calon Menpora baru. Terkait alasan penggantian Menpora tanpa menetapkan penggantinya menimbulkan kesan terburu-buru dan ada sesuatu di luar persoalan olahraga. Timbulah suara bisik-bisik penggantian Menpora ini berkaitan dengan kasus korupsi karena Dito pernah diduga terkait dengan kasus korupsi BTS yang sempat heboh dengan pengembalian dana sebesar Rp27 miliar secara misterius ke Kejaksaan Agung.

Ada juga yang menduga  pencopotan Dito terkait dengan kasus yang menimpa mertuanya, Fuad Hasan Masyhur yang merupakan pemilik travel Maktour. Bahkan bisik-bisik soal alasan penggantian Dito pun melebar ke berbagai sisi lainnya.

Advertisement

Spekluasi itu mencuat karena Prabowo yang menabuh genderang perang memerangi korupsi tentu tidak ingin para pembantunya di kabinet tercemari apalagi sampai nanti terbukti terlibat kasus korupsi yang sudah merajalela di negeri ini. Apalagi setelah terjadinya operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan terkait kasus dugaan korupsi dan pemerasan di kementerian tersebut. Ditambah setelah aksi unjuk rasa disertai kerusuhan, perusakan dan pembakaran, Prabowo tidak ingin para pembantunya menyakiti rakyat dengan sikap arogansi, pamer kemewahan apalagi korupsi.

Sejauh mana kebenaran tentang soal itu perjalanan waktu yang akan membuktikannya. Namun yang jelas semasa Dito menjabat Menpora, prestasi olahraga Indonesia di berbagai multievent mulai tingkat SEA Games, Asian Games dan Olimpiade tidaklah mengecewakan. Bahkan pada Olimpiade Paris tahun 2024, Indonesia mampu kembali meraih dua medali emas. Sukses ini bersejarah karena untuk pertama kalinya medali emas itu diraih dari cabang olahraga di luar bulutangkis yang selama ini menjadi andalan emas Indonesia.

Baca Juga : BPK Penabur Asian Zone 3.3 Schools Chess Competition 2025: Rencana Dibuka Menpora Dito, Pecatur 1O Negara Plus Rusia Bersaing Raih Juara

Namun sayang raihan itu tidak diimbangi dengan kemampuan mengatasi masalah gejolak permasalahan olahraga di dalam negeri. Terutama terkait dengan makin melebarnya perpecahan pengurus induk organisasi cabang olahraga (IOCO). Kasus di tenis meja menyangkut kepengurusan sudah bertahun-tahun tidak terselesaikan meskipun sudah ada keputusan hukum dari Mahkamah Agung. Perpecahan di tenis maja kemudian merembet ke cabor tinju. Bertambah lagi catatan perpecahan cabor setelah sebelumnya juga terjadi di anggar dan kempo.

Di atas cabor, Dito juga tidak mampu menjembatani perang dingin antara dua lembaga tinggi olahraga nasional, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI)/National Olympic Committee (NOC) of Indonesia. Sudah sejak tahun 2011 kedua lembaga ini seperti bersaing untuk menjadi pembina utama olahraga prestasi di Tanah Air. Tidak mengherankan bila KONI dan KOI meskipun di depan selalu bicara keharmonisan namun di belakang saling bersaing berebut pengaruh dengan berlomba menarik dukungan dari pengurus cabor. Timbulah hal yang  makin memanasnya perpecahan   karena ada pengurus IOCO yang tidak diakui KONI lalu menyebrang minta pengakuan KOI, begitu juga sebaliknya.

Permenpora 14 Tahun 2024

Advertisement

Kegaduhan makin kencang setelah Dito menerbitkan Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) Nomor 14 Tahun 2024. Permenpora ini membuat KONI, KOI/NOC of Indonesia, dan IOCO resah. Berbagai keberatan bahkan penolakan terhadap Permenpora itu muncul. Ada yang melakukan protes tertulis, menembuh jalur hukum sampai unjuk rasa menuntut pembatalan Permenpora itu.

Baca Juga : PB dan Pengprov PTMSI Geruduk Kemenpora dan KOI Bawa Bukti SK Pengurus Daerah dan Putusan MA Organisasi Tenis Meja yang Sah

Besar dan tingginya penolakan terhadap Permenpora 14/2024 dilandasi oleh begitu dalamnya intervensi pemerintah. Terutama dalam menentukan kepengurusan dan penyelenggaraan kejuaraan atau pesta olahraga serta pengiriman Kontingen Indonesia ke multi event di luar negeri. Intervensi pemerintah selain mengkebiri otonami cabang olahraga juga berpotensi Indonesia terkena sanksi dari federasi  olahraga internasional   termasuk Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC) karena bertentangan dengan olympic charter.

Tuntutan pencabutan Permenpora itu menggetarkan seluruh Indonesia karena dikumandangkan oleh KONI dari tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten/kota. Beberapa IOCO juga melakukan penolakan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Belum lagi dari para atlet dan mantan atlet, pakar dan pengamat olahraga.

Begitu besarnya penolakan terhadap Permenpora itu tercermin dari masih berlangsungnya unjuk rasa meskipun Dito sudah tidak lagi menjadi Menpora. Sampai-sampai muncul tuntutan yang mengarah pencopotan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) Taufik Hidayat.

Kemudian di bidang kepemudaan, tidak ada gebrakan yang berarti dilakukan Dito bersama Wamenpora Taufik. Gebrakan yang menunjukkan sinergisitas antara olahraga dan pemuda dalam membangun karakter pemuda Indonesia yang kuat jasmani sehat rohani berintegritas, bermoral, dan memiliki kepedulian sosial. Kemenpora tidak bisa lagi mengangkat organisasi-organisasi kepemudaan tampil menjadi pelopor dalam pembentukan kader pemimpin masa depan Indonesia.

Advertisement

Tidak bisa terlepaskan juga Dito belum mampu mengangkat citra Kemenpora sebagai instansi yang bersih dan terpercaya dalam pengelolaan anggaran. Kemenpora masih terus dibayangi oleh kasus-kasus korupsi yang sampai menyeret dua menteri masuk penjara. Dulu Taufik Hidayat bahkan sempat menyebut banyak tikus di Kemenpora.

Baca Juga : Menpora Dito Tegaskan Beasiswa Studi Singkat Australia Awards Peluang Mempelajari Persiapan Menjadi Tuan Rumah Olimpiade

Berbagai persoalan yang ditinggalkan Dito itu membuat tugas Menpora yang baru nanti sangat berat baik dalam pengembangan, peningkatan prestasi dan membenahi tata kelola olahraga Indonesia yang kuat dan menghadirkan ketenangan pelaku olahraga sehingga menjadi pijakan kuat dalam pengembangan maupun pembinaan prestasi. Untuk kepemudaan bagaimana mampu menciptakan kader-kader yang berintegritas, bermoral dan memiliki kepedulian sosial serta empat pada rakyat sehingga bisa menjadi garda terdepan dalam membina dan menjaga jati diri bangsa Indonesia.

Siapakah yang akan dipercaya Presiden Prabowo untuk mengemban tugas berat ini sehingga Kemenpora benar-benar menjadi kementerian yang berperan nyata dan diperhitungkan dalam mendukung suksesnya program delapan misi utama, Asta Cita, Presiden Prabowo, sebagai landasan untuk mencapai visi “Bersama Menuju Indonesia Emas 2045”? Ikuti artikel Menpora Baru dan Ini Baru Menpora (2) berikutnya. (bersambung Ini Menpora Baru, Ini Baru Menpora (2)) ***

Jakarta, 13 September 2025

  • Gungde Ariwangsa SH – Pemimpin Redaksi Faktual Indonesia (faktualid.com), Ketua Siwo PWI Pusat 2018 – 2023, pemegang UKW Utama.

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement