Connect with us

Olahraga

Belajar dari Bambang Hartono: Ketika Menanam Pohon Adalah Kepemimpinan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Belajar dari Bambang Hartono: Ketika Menanam Pohon Adalah Kepemimpinan

Bambang Hartono telah menunjukkan bahwa menanam pohon bukan sekadar aktivitas lingkungan—melainkan pernyataan nilai.

Oleh : Bert Toar Polii

FAKTUAL INDONESIA: Ada pemimpin yang meninggalkan jejak dalam bentuk gedung, angka, atau kekuasaan. Namun ada pula yang meninggalkan sesuatu yang lebih sunyi—tetapi justru lebih abadi: pohon.

Ketika Bambang Hartono mulai menanam pohon di Kudus sekitar tahun 1970, ia tidak sedang mengikuti tren. Bahkan, saat itu belum ada istilah “keberlanjutan” atau “green movement” seperti hari ini. Apa yang ia lakukan lahir dari kesadaran personal yang dalam: bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap ruang hidupnya.

Baca Juga : Lebih dari Sekadar Penghargaan, Medali Emas untuk Sebuah Dedikasi Michael Bambang Hartono

Inilah bentuk kepemimpinan yang sering kita abaikan. Kepemimpinan yang tidak berisik, tidak menuntut pengakuan, tetapi konsisten dan berdampak jangka panjang.

Hari ini, banyak program penghijauan digelar dengan seremoni besar, tetapi sering kehilangan ruh. Kita lupa bahwa perubahan sejati tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Baca Juga : Selamat Jalan, Michael Bambang Hartono: Sahabat, Partner, dan “Pengorbanan Sunyi” untuk Bridge Indonesia

Bambang Hartono telah menunjukkan bahwa menanam pohon bukan sekadar aktivitas lingkungan—melainkan pernyataan nilai. Bahwa membangun kota tidak cukup dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan akar yang menancap ke bumi.

Advertisement

Pertanyaannya: apakah kita masih memiliki kesabaran untuk menanam sesuatu yang hasilnya mungkin tidak kita nikmati?

Mohon maaf partner, ketika tukang bridge saat ini melanggar janji untuk tidak mempublikasikan hal-hal mengenai dirimu.  ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement