Olahraga
Renungan Bridge Indonesia, Mamuju 2026: Menyusun Ulang Arah yang Pernah Hilang

Mamuju 2026 menanti, bukan sekadar sebagai agenda organisasi Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi), tetapi sebagai ruang untuk merenung (Ist)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Empat tahun memberi pelajaran; Mamuju menentukan apakah kita benar-benar belajar
Ada masa ketika bridge Indonesia berdiri tegak.
Ia hadir di gelanggang besar, di PON, di Popnas, di kampus-kampus, bahkan di sekolah-sekolah.
Ia bukan sekadar permainan kartu—melainkan olahraga pikiran yang dihormati, dipertandingkan, dan dibanggakan.
Namun waktu berjalan, dan seperti banyak hal lain, kita mulai kehilangan arah.
Empat tahun terakhir memberi kita pelajaran yang tidak ringan.
Organisasi berjalan, tetapi tidak bergerak.
Program ada, tetapi tidak terasa.
Kompetisi tetap berlangsung, tetapi tanpa gema yang menggugah.
Bukan karena kita kekurangan pemain berbakat.
Bukan pula karena kita kehilangan kecintaan terhadap bridge.
Tetapi mungkin, diam-diam, kita telah lalai pada satu hal paling mendasar:
memilih arah, dan memilih siapa yang akan menuntun arah itu.
Kongres di Solo pada 2022 kini menjadi cermin yang jujur.
Di sana, kita belajar bahwa keputusan yang diambil tanpa pertimbangan utuh akan dibayar dengan waktu—dan waktu tidak pernah kembali.
Kini, Mamuju 2026 menanti.
Bukan sekadar sebagai agenda organisasi, tetapi sebagai ruang untuk merenung.
Kita tidak sedang mencari sosok sempurna.
Kita sedang mencari seseorang yang mau bekerja, yang mampu merangkul, dan yang mengerti bahwa bridge Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar nama—ia membutuhkan arah.
Mungkin, untuk pertama kalinya, kita perlu bertanya dengan jujur:
apa yang sebenarnya kita harapkan dari seorang Ketua Umum?
Apakah sekadar figur?
Ataukah pemimpin yang bersedia membuka jalan kembali ke PON, ke Popnas, ke O2SN, ke Pomnas—ke ruang-ruang di mana generasi baru bisa mengenal bridge bukan sebagai kenangan, tetapi sebagai masa depan?
Kita tahu jalan itu tidak mudah.
Ia membutuhkan kerja, kesabaran, dan keberanian untuk membangun kembali dari bawah.
Tetapi semua itu hanya mungkin jika kita memulai dari satu titik yang benar:
memilih dengan kesadaran, bukan kebiasaan.
Pengprov, Pengkot, Pengkab—mereka bukan sekadar pemilik suara.
Mereka adalah penjaga arah.
Dan arah itu akan menentukan apakah empat tahun ke depan akan menjadi kelanjutan dari keheningan, atau awal dari kebangkitan.
Komunitas bridge pun tidak bisa lagi hanya menjadi penonton.
Suara, harapan, dan bahkan kegelisahan—semua perlu disampaikan.
Karena organisasi yang hidup adalah organisasi yang mendengar.
Mamuju bukan hanya tempat.
Ia adalah penanda waktu.
Di sana, kita akan memilih—
bukan hanya seorang Ketua Umum,
tetapi juga apakah kita ingin kembali berjalan, atau terus perlahan menghilang.
Dan mungkin, pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan keputusan yang sempurna.
Melainkan keberanian untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Sebab bridge Indonesia masih ada.
Ia masih hidup—di meja-meja kecil, di klub-klub, di hati mereka yang setia bermain.
Yang ia tunggu sekarang hanyalah:
kita, yang mau merawatnya kembali. ***












