News
Menag Nasaruddin Sampaikan Pendidikan Islam Harus Mampu Memadukan Kekuatan Akal dan Kedalaman Rasa

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberikan sambutan pada acara Penyerahan SK Izin Penyelenggaran Prodi Baru Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Islam (STIPI) Maghfirah, Kampung Maghfirah, Caringin, Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/10/2025). (Kemenag)
FAKTUAL INDONESIA: Pendidikan Islam harus mampu memadukan kekuatan akal dan kedalaman rasa. Perpaduan tersebut akan melahirkan insan paripurna atau insan kamil yang menjadi cita-cita pendidikan Islam.
“Kebenaran yang lahir dari pemikiran harus bersanding dengan kebenaran yang lahir dari rasa,” kata Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menyerahkan Surat Keputusan Menteri Agama tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Baru Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Islam (STIPI) Maghfirah, Kampung Maghfirah, Caringin, Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/10/2025).
Menag Nasaruddin meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk dapat memainkan perannya sebagai pusat kebangkitan peradaban dan keilmuan Islam modern di Indonesia.
Masa keemasan Islam di abad ke-6 hingga ke-13 Masehi, merupakan contoh terbaik bagaimana ilmu pengetahuan dan spiritualitas dapat berjalan beriringan. Saat itu, dunia Islam memiliki pusat keilmuan bernama Baitul Hikmah yang menjadi simbol kejayaan intelektual dan kebijaksanaan.
“Saya berharap STIPI Maghfirah dapat menjadi Baitul Hikmah baru, tempat lahirnya ulama, cendekia, dan ilmuwan Muslim yang berkarakter kebijaksanaan dan kedalaman spiritual,” ujarnya.
Nasaruddin juga menilai lingkungan Kampung Maghfirah yang asri dan religius menjadi tempat yang ideal untuk melahirkan generasi berilmu dan berakhlak. Dia menggambarkan tempat tersebut sebagai kawasan penuh berkah dan cahaya ilmu.
Dengan diserahkannya izin penyelenggaraan program studi baru, Kementerian Agama berharap STIPI Maghfirah dapat berperan sebagai lembaga pendidikan Islam yang berkontribusi melahirkan generasi penerus yang mampu menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam dan membangun peradaban berbasis ilmu dan kebijaksanaan.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyerahkan wakaf secara simbolis kepada Ketua Yayasan Maghfirah
Hakikat Wakaf
Sementara itu saat Penandatanganan dan Penyerahan Sertifikat Wakaf Hak Prioritas atas Tanah Lahan Kampung Maghfirah dari PT Redjo Sari Bumi kepada Yayasan Maghfirah Bina Umat, yang berlangsung di Kampung Maghfirah, Caringin, Bogor, Menag Nasaruddin menyerukan bahwa hakikat wakaf tidak berhenti pada penyerahan tanah atau pembangunan fisik semata, melainkan pada bagaimana tanah wakaf itu dikelola untuk melahirkan manfaat nyata bagi umat dan menjadi sumber kemuliaan.
“PR kita belum selesai. Bukan hanya wakafkan tanah luas. Bukan hanya membangun. Tetapi bagaimana melahirkan output-output yang baik,” ujarnya, Jumat (24/10/2025).
Nasaruddin menekankan bahwa proses wakaf merupakan amalan mulia yang tidak boleh berhenti pada aspek simbolik. Ia berharap tanah wakaf dapat berkembang menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
“Ada sebuah proses yang sangat-sangat mulia, yaitu proses wakaf. Semoga mudah, dan menjadi jariyah di akhirat bagi Bapak-Ibu sekalian,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengajak umat untuk membiasakan diri berwakaf, sekecil apa pun bentuknya. Menurutnya, berwakaf bukan hanya bagi mereka yang memiliki harta besar, melainkan bagi siapa pun yang ingin meninggalkan jejak kebaikan abadi.
“Saya sering mengatakan, wakaf lah sebelum wafat. Wakaf lah, walaupun selembar genting, walaupun sebiji batu merah,” imbaunya.
Dia juga mengapresiasi semangat para pewakaf dan pihak-pihak yang turut mendukung pembangunan Yayasan Maghfirah. Menurutnya, keikhlasan dan gotong royong yang melandasi kegiatan wakaf menjadi cermin dari kemuliaan umat yang memahami makna berbagi.
Diakhir sambutannya, Nasaruddin tetap mengingatkan bahwa keberhasilan wakaf bukan hanya diukur dari luas tanah atau megahnya bangunan, tetapi dari manfaat dan keberlanjutan yang dapat dirasakan oleh generasi mendatang.
“Wakaf harus menjadi sumber kemuliaan, sumber pemberdayaan, dan sumber keberlanjutan bagi umat. Di situlah letak nilai sejati dari amal jariyah,” pungkasnya. ***














