Connect with us

Nusantara

Wow! Dosen UNS Patenkan Motif Batik Yang Diilhami Kekhasan Daerah Ngawi dan Sragen

Avatar

Diterbitkan

pada

Prof Izza, dosen UNS dengan motif batik karyanya yang sudah dipatenkan. (Foto; istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Profesor bidang ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Izza Mafruhah mematenkan tiga motif batik miliknya. Izza mematenkan tiga motif batik yang diberinama Benteng Pendem, Waduk Pondok dan Edi Tirto. Ketiga motif batik ini diilhami dari kekhasan daerah Ngawi dan Sragen.

Motif batik Benteng Pendem dan Waduk Pondok yang diciptakannya terinspirasi dari kekhasan Kabupaten Ngawi. Sedangkan motif Edi Tirto tercipta  dari kekhasan yang dimiliki Kabupaten Sragen.

Prof. Izza mengembangkan motif batik dengan konsep HEBAT. Konsep tersebut merupakan singkatan dari heritage, ecology, batik, agriculture, and tourism.

“Motif Benteng Pendem dan Waduk Pondok  terinspirasi dari kekhasan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kabupaten tersebut memiliki banyak wisata alam seperti Waduk Pondok dan Benteng Pendem. Selain itu, ada pula wisata sejarah yakni Museum Trinil di Ngawi,” jelas Prof Izza, Sabtu (5/3/2022).

Batik bermotif Waduk Pondok dan Benteng Pendem itu juga dibuat dengan teknik khusus. Dua motif batik tersebut dibuat dengan perpaduan batik tulis dan cetak. Pembuatanya dengan memanfaatkan malam (lilin untuk membatik) dingin. Keuntungan teknik ini yakni motif batik timbul seperti pada batik tulis, tetapi pengerjaannya lebih cepat karena dicetak menggunakan malam dingin.

Advertisement

“Nah, yang ini perpaduan antara tulis dan cetak. Batik ini kita cetak dengan malam dingin atau lilin itu ya. Kalau batik tulis kan pakai malam panas ya dan memakan waktu lama sehingga tidak setiap pengrajin batik siap karena dia harus punya serep gitu,” jelas Prof Izza yang juga Wakil Dekan Riset, Akademik, dan Kemahasiswaan FEB UNS itu.

Menurut Izza untuk membuat satu batik tulis memakan waktu sampai beberapa minggu.  Sedangkan untuk motif Edi Tirto yang dikembangkan pada 2021 terinspirasi dari kekayaan Kabupaten Sragen. Prof. Izza dan timnya memadukan burung Branjangan yang merupakan burung khas Sragen dengan Waduk Kedung Ombo serta peninggalan purbakala di Museum Sangiran.

“Motif ini juga dilengkapi dengan gambar humus serta batang gabah. Humus dan batang gabah tersebut perlambang kemakmuran dan kesuburan yang ada di Kabupaten Sragen,” jelasnya lagi.

Hal ini sesuai dengan fakta bahwa Kabupaten Sragen merupakan penghasil padi terbesar ketiga di Jawa Tengah. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement