Connect with us

Lifestyle

Masyarakat Banyuwangi Jemur Kasur, Bersihkan Penyakit dan Mara Bahaya

Avatar

Diterbitkan

pada

Tradisi jemur kasur barengan di Banyuwangi. (ist)

FAKTUAL-INDONESIA : Indonesia memiliki beragam budaya dan tradisi. Salah satunya adalah tradisi menjemur kasur bersama-sama.

Hal itu terjadi di daerah Banyuwangi. Suku Osing biasanya menjemur kasur barengan sedesa. Uniknya kasur yang dijemur juga berwarna seragam yaitu hitam merah.

Tradisi menjemur kasur ini disebut Mepe Kasur. Sepanjang jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, terlihat berjejer kasur yang sedang dijemur, Minggu (3/7/2022).

Mepe kasur ini adalah rangkaian kegiatan bersih desa setempat. Ritual Mepe Kasur dilakukan sejak pagi hingga siang hari.

Ribuan kasur berwarna hitam dan merah ini dijemur berjejer di depan rumah warga. Terlihat sesekali warga membersihkan debu di kasur dengan cara memukul-mukul kasur tersebut dengan penebah dari rotan.

Advertisement

Mengapa kasurnya berwarna sama? Warna kasur di desa ini sama, yakni merah dan hitam. Warna ini ternyata melambangkan keberanian dan keabadian.

“Merah itu berani. Sementara warna hitam itu kelanggengan atau keabadian,” ujar Adi Purwadi, salah satu warga Kemiren, seperti dikutip Detik.com.

Kasur-kasur khas Kemiren ini, dikeluarkan dan menunjukkan bahwa dalam ritual bersih desa, warga Kemiren ingin membersihkan rumah dan lingkungan dari berbagai penyakit dan mara bahaya.

Nah, kasur dijemur di depan rumah masing-masing begitu matahari terbit. Mereka membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman. Tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit.

Setelah matahari melewati kepala alias pada tengah hari, semua kasur harus digulung dan dimasukkan. Konon jika tidak segera dimasukkan hingga matahari terbenam, khasiat untuk menghilangkan penyakit pun tidak akan ada hasilnya.

Advertisement

“Kalau sampai sore ya nanti khasiatnya akan menurun. Apalagi kalau kemalaman. Bisa endak sehat,” kata dia.

Kasur-kasur berwarna merah dan hitam ini memang sama. Yang berbeda adalah ukuran dari kasur tersebut. Jika semakin tebal, menunjukkan jika sang pemilik adalah orang berada di desa tersebut.

Setiap rumah atau keluarga dipastikan memiliki kasur yang serupa. Ini dikarenakan, setiap keluarga yang menikah pasti dibuatkan kasur oleh orangtuanya dengan warna tersebut.

Setelah memasukkan kasur ke dalam rumah masing-masing, warga Osing pun melanjutkan tradisi bersih desa ini dengan arak-arakan barong.

Barong diarak dari Ujung Desa menuju ke batas akhir desa. Setelah arak-arakan Barong, masyarakat Osing melanjutkan berziarah ke Makam Buyut Cili yang diyakini masyarakat sebagai penjaga desa.

Advertisement

Puncaknya, saat warga bersama-sama menggelar selamatan Tumpeng Sewu pada malam hari. Semua warga mengeluarkan tumpeng khas warga Osing, yaitu pecel pithik alias ayam panggang dengan parutan kelapa. Kekhasan acara ini juga ditambah akan dinyalakan obor di setiap depan pagar rumah warga.

Tradisi ini tetap terjaga hingga kini di Banyuwangi.***

 

Advertisement
Lanjutkan Membaca