Connect with us

Kesehatan

Tidak Usah Terlalu Berat, Olahraga di Masa Puasa selama Ramadhan Sebaiknya Rutin

Avatar

Diterbitkan

pada

olahraga ringan dirumah

Ilustrasi Push Up

FAKTUAL-INDONESIA: Berolahraga termasuk selama bulan Ramadhan yang terpenting rutin dilakukan. Hindari olahraga yang berat sehingga tidak memberi hasil optimal.

Seperti penuturan  Dr. Andi Nusawarta, Sp.OT (K) dari Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi Indonesia. Dia berpendapat, salah satu hal yang perlu dan penting untuk diperhatikan adalah rutinitas berolahraga.

“Yang perlu dan penting diperhatikan dalam berolahraga adalah rutinitas bukan beratnya, karena olahraga itu harus diatur dan harus dikontrol, jika tidak bisa maka dapat terjadi resiko cedera dan bahkan kematian,” ujarnya melalui siaran pers webinar Seri II bertema “Puasa: Sehat, Beraktivitas dan Panjang Umur”, Minggu (10/4/2022).

Olahraga dengan intensitas berat, tuturnya, dapat menurunkan imun dan membuat tubuh tidak fit dan bugar.

“Dan bahkan dapat meningkatkan risiko cedera maupun gangguan kesehatan lainnya. Paling bagus ringan dan sedang,” ucap dokter Sport Clinic di Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) itu.

Advertisement

Untuk mengetahui intensitas olahraga, bisa diketahui dengan melakukan tes bicara. Bila sudah terengah berarti olahraga yang dilakukan sudah berat karena telab berada di puncak latihan.

Bisa juga dengan mengukur Heart Rate Maximum (HRM). HRM menunjukkan kurang dari 60 persen HRM termasuk ringan), HRM 60-80 persen tergolong dan diatas 80 persen sudah dikatakan berat.

“Biasanya paling gampang bisa digunakan jam tangan khusus untuk mengetahuinya,” kata Andi.

Hal lain yang juga perlu perhatikan dalam berolahraga yaitu fleksibilitas atau kelenturan yang biasanya dilakukan saat pemanasan. Kelenturan tubuh dapat mencegah cedera dan berperan menjadi pelindung dalam peradangan sendi dan penyakit lainnya.

“Contohnya, lakukan stretching secara rutin untuk melatih fleksibilitas, maka dari itu baiknya kita jangan duduk seharian tapi lakukan peregangan setiap dua jam sekali,” ujarnya.

Advertisement

Selama Ramadhan, Andi juga menyarankan tetap berolahraga secara rutin walau berat karena cenderung malas bergerak. Bila kondisi ini dituruti berakibat turunnya imunitas tubuh sehingga tubuh terasa tidak fit dan bugar.

Terkait waktu berolahraga, sebelum buka puasa atau sesudah buka puasa menjadi rekomendasi. Bila pilihannya berolahraga sesudah berbuka puasa, maka perhatikan agar durasinya 2-3 jam sebelum tidur.

Sementara apabila ingin melakukannya pada pagi hari maka kurangi waktunya dan intensitasnya. Dia menyarankan hanya berolahraga dengan intensitas ringan demi menghindari dehidrasi dan lemas.

“Adapun hal yang perlu kita perhatikan dalam olahraga yaitu durasinya, itu bisa 30 sampai 60 menit atau 150 menit per minggu. Yang perlu diperhatikan lain adalah frekuensinya yaitu 3 sampai 5 kali seminggu,” kata Andi.

Berdasarkan jenisnya, terdapat dua jenis olahraga yang selama ini dikenal, salah satunya olahraga aerob atau latihan kardio. Menurut Andi, olahraga ini tepat untuk membakar lemak dan dapat dilakukan dirumah, seperti treadmill, sepeda statis, skipping atau lompat tali, naik turun tangga dan jalan cepat sekitar rumah.

Advertisement

Jenis lainnya yakni olahraga anaerob yang dapat bermanfaat untuk melatih kekuatan otot. Contoh olahraga jenis ini yakni push up, squat dan lunges.

“Mengapa perlu melatih otot? Karena otot akan menyusut 1-2 persen dengan sendirinya pada usia diatas 35 atau 40 tahun. Otot itu berbanding lurus dengan tulang. Apabila kita tidak melatih otot maka otot mengecil dan tulang jadi lemah sehingga mudah patah,” ujar Andi.***

Lanjutkan Membaca