Connect with us

Kesehatan

Pelabelan BPA pada AMDK oleh BPOM Dikhawatirkan Galon Air Minum Dipakai Sekali

Diterbitkan

pada

Galon guna ulang (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Rencana pelabelan BPA terhadap air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dikhawatirkan membuat masyarakat hanya menggunakan galon hanya sekali pakai.

Kekhawatiran itu diperlihatkan dua anak muda Elhan dan Helfia. Mereka menolak pelabelan tersebut. Penolakan itu tertuangan dalam petisi Change.org Indonesia.

Platform petisi terbesar dunia ini mengkhawatirkan kebijakan baru BPOM tersebut. Kekhawatiran yang ditimbulkan akan membuat semua masyarakat di Indonesia menggunakan galon sekali pakai pada tahun 2022 mendatang.

“Jangan-jangan 2022 nanti, semua bakal pakai galon sekali pakai,” sebut Change.org Indonesia dalam statusnya.

Dalam petisi barunya ini, dua anak muda yang sebelumnya juga menggagas petisi tolak galon sekali pakai di platform Change.org, menolak rencana revisi peraturan BPOM yang akan melabeli BPA terhadap air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang.

Advertisement

Mereka menilai  produk galon sekali pakai akan merusak lingkungan.

Mereka menegaskan bahwa membuat petisi ini bukan untuk berpihak atau menjelekkan satu merek AMDK tertentu.

“Ini murni karena kepedulian kami sama lingkungan, dimulai dari hal-hal yang spesifik aja, yaitu menghilangkan galon sekali pakai yang bisa digantikan dengan galon guna ulang,” ucap mereka.

Sebelumnya, seperti dikutip dari rri.co.id, Founder and Executive Director at PT Life Cycle Indonesia, Jessica Hanafi, mengusulkan agar BPOM mendukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang telah menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 2014 tentang pencantuman logo ekolabel ke semua industri air minum dalam kemasan (AMDK). Lantaran, pencantuman logo ini akan memberi informasi sekaligus memfasilitasi pengubahan pola konsumsi melalui pemilihan produk ramah lingkungan. Sedangkan bagi produsen, ekolabel juga akan meningkatkan daya saing dalam pasar domestik dan internasional.

”Kalau saya sarankan, BPOM sebaiknya mengarahkan ke barang ecolable. Karena di sini, kita jadi tidak lagi bingung dalam memutuskan mana yang paling baik seperti yang terjadi dalam persaingan industri air minum dalam kemasan saat ini,” ujarnya.

Advertisement

Karena, kata Jessica, melalui label ekolabel ini, setiap industri harus membuktikan dengan data dan tidak hanya sekedar mengklaim bahwa kemasannya paling baik saja secara lingkungan.

“Karena, ekolabel itu harus memenuhi standar kesehatan dan lingkungan. Jadi, dari pada kita harus debat kusir kemasan siapa yang lebih bagus, saya men-challenge produsen-produsen untuk pakai ekolabel semua,” katanya.***

Lanjutkan Membaca
Advertisement