Kesra
Ada Tiga Kekuatan Baru Bisa Menyingkirkan Kebenaran, Menag Nasaruddin Imbau Ormas Keagamaan Perkuat Karakter Pendidikan

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam acara Muktamar XXVIII Al Jam’iyah Al Washliyah. (Kemenag)
FAKTUAL INDONESIA: Menteri Agama (Menga), Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa tantangan terbesar ormas keagamaan saat ini adalah berdiri di tengah era post-truth, sebuah kondisi di mana penentu kebenaran di ruang publik tidak lagi otomatis bersumber dari dalil ilmiah, Al-Qur’an, maupun Hadis. Menurutnya, terdapat kekuatan pendatang baru yang masif dalam mendistorsi persepsi kebenaran masyarakat, yakni dominasi media sosial yang pragmatis serta taktik kepentingan kelompok tertentu.
“Ada tiga kekuatan baru di tengah masyarakat kita yang bisa sekali menyingkirkan kebenaran kita, pertama adalah media sosial. Media sosial bisa membuat mereka menjadi iblis, bisa juga seperti malaikat. Yang kedua adalah uang, kenapa, masyarakat kita semakin pragmatis. Dan yang ketiga, taktik-taktik kepentingan kelompok tertentu,” kata Menag Nasaruddin saat memberikan sambutan pada Muktamar XXVIII Al Jam’iyah Al Washliyah, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga : Kemenag Siapkan Materi Edukasi Pencegahan Perilaku LGBTQ Sesuai Perpres 111/2025
Guna membentengi jamaah dari dampak negatif era pasca-kebenaran tersebut, Menag Nasaruddin menekankan perlunya reorientasi pada pola pendidikan berbasis madrasah. Seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan ormas keagamaan diminta untuk mengembalikan metodologi pengajaran khas Nusantara yang mengintegrasikan aspek rasio dengan keluhuran rasa secara alami.
“Tantangan kita sudah diketahui, mampu gak kita mengajarkan anak kita seperti orang tua kita mengajarkan diri kita? Mampu gak kita mengajarkan anak kita seperti bapak-ibu kita yang sekolahnya rendah, atau mungkin tidak sekolah, tapi anaknya semuanya jadi (berhasil)?” tanya Menag merefleksikan.
Lebih lanjut, Nasaruddin menggarisbawahi bahwa keunggulan utama pendidikan madrasah di bawah naungan ormas keagamaan terletak pada penerapan prinsip Iqra’ Bismi Rabbik. Model pengajaran wajib mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan asma Tuhan, bukan sekadar belajar untuk mencari ilmu secara bebas (iqra’ lil ‘ilmi). Penanaman kalimat bismillahirrahmanirrahim di dalam kelas dipastikan menjadi kunci utama agar modernisasi tidak melahirkan dampak buruk bagi moral generasi muda.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Tegaskan Pesantren Bukan Hanya Mendidik Umat Islam juga Membina Kemanusiaan
“Menuntut ilmu di madrasah dan pesantren itu tidak cukup hanya dengan Iqra’ tapi juga harus dengan bismillahirrahmanirrahim, karena yang kita pelajari adalah ilmunya Allah SWT, yang tidak bisa sekedar dipelajari dengan membaca, itulah yang akan membaikkan dunia,” ujarnya.
Nasaruddin mengimbau organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan di Indonesia untuk memperkuat tata kelola serta reorientasi karakter pengajaran di lembaga pendidikan madrasah dan pesantren. Menurut Nasaruddin, seluruh elemen ormas keagamaan harus terus menjaga konsistensi pergerakan keumatan agar nilai-nilai dasar kebaikan tidak tergerus oleh pergeseran zaman.
“Selama ajaran keagamaan kuat di Indonesia, maka selama itu bangsa kita akan kuat. Karena itu, konsistensi karakter ini harus tetap dipertahankan secara fokus,” ucapnya seperti dilansir laman Kementerian Agama (Kemenag). ***














