Connect with us

Kesra

Menag Nasaruddin Jelaskan Praktik Baik Moderasi Beragama, Presiden Singapura Apresiasi Indonesia Tawarkan Harapan Baru

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menerima kunjungan Presiden ke-8 Singapura, Halimah Yacub di Masjid Istiqlal, Jakarta,  membahas tentang praktik baik moderasi beragama di kedua negara. (Kemenag)

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menerima kunjungan Presiden ke-8 Singapura, Halimah Yacub di Masjid Istiqlal, Jakarta, membahas tentang praktik baik moderasi beragama di kedua negara. (Kemenag)

FAKTUAL INDONESIA: Penjelasan dan paparan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar tentang praktik baik moderasi beragama di Indonesia mendapat apresiasi dari Presiden ke-8 Singapura, Halimah Yacub. Menag Nasaruddin menerima kunjungan Halimah Yacub di Masjid Istiqlal. Dua tokoh ini membahas tentang praktik baik moderasi beragama di Indonesia dan Singapura. 

Halimah memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi yang terbangun. Ia menilai bahwa di tengah situasi dunia saat ini, model interaksi yang dibangun di Indonesia menawarkan harapan baru.

“Dunia saat ini sedang mencari model yang dapat dijadikan inspirasi. Apa yang dilakukan di Istiqlal dan Katedral adalah manifestasi yang sangat penting. Kita memberikan kesempatan bagi orang untuk bekerja sama secara erat, melampaui sekat-sekat agama melalui berbagai bidang,” ungkap Halimah.

Ia juga menekankan bahwa Singapura memiliki pendekatan yang serupa dalam mengelola keragaman. Masjid-masjid di Singapura juga terbuka bagi non-Muslim melalui berbagai kegiatan inklusif. Ia berharap Indonesia dan Singapura dapat memperkuat kerja sama untuk mempromosikan model harmoni ini ke tingkat regional Asia Tenggara hingga global.

“Ini adalah ide dan model yang patut kita proyeksikan ke dunia. Saya sangat berharap kita dapat bekerja sama lebih erat untuk terus mempromosikan nilai-nilai keberagaman,” tambahnya.

Advertisement

Menag Nasaruddin mengawali pertemuan dengan menjelaskan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta melalui Terowongan Silaturahmi yang menjadi simbol untuk mempromosikan Indonesia sebagai model toleransi dunia. Menag menjelaskan kepada Halimah bagaimana Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta telah menjadi simbol nyata kerukunan antarumat beragama di Indonesia. 

Menurutnya, keberadaan terowongan yang menghubungkan kedua rumah ibadah tersebut bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan manifestasi dari semangat hidup berdampingan. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana penganut berbagai agama dapat hidup bersama secara harmonis. Istiqlal dan Katedral bukan hanya tetangga, tetapi mitra yang aktif berkolaborasi dalam berbagai program sosial, pendidikan, hingga kemanusiaan,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Nasaruddin juga menegaskan bahwa rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. “Di Masjid Istiqlal, kami menerapkan konsep di mana bukan orang yang memberdayakan masjid, tetapi justru masjid yang memberdayakan masyarakat. Ini adalah model spesifik yang kami kembangkan,” ujarnya.

Ia memaparkan kolaborasi internasional yang dilakukan Masjid Istiqlal, termasuk dengan universitas terkemuka di Amerika Serikat. Melalui program kaderisasi ulama masa depan, para peserta mendapatkan kesempatan belajar selama enam bulan di Amerika Serikat dan enam bulan di Universitas Al-Azhar, Mesir.

“Langkah ini bertujuan agar ulama Indonesia di masa depan memiliki kompetensi global, mampu berpraktik dan berdakwah dengan fasih, baik menggunakan bahasa Inggris maupun bahasa Arab. Saat ini, kebutuhan dunia akan sosok imam dari Indonesia semakin meningkat, dan kami siap memenuhinya,” tambahnya.

Advertisement

Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan urgensi diplomasi keagamaan dalam situasi global saat ini. Menurutnya, diplomasi ini menjadi kebutuhan yang penting bagi kemanusiaan sebagai jalan perdamaian yang inklusif. Ia mengusulkan agar pendekatan diplomasi keagamaan ini dapat diimplementasikan dalam ruang lingkup diplomasi formal, termasuk bagi para duta besar.

“Kita bisa mencoba diplomasi keagamaan ini untuk para duta besar. Bagi umat manusia, tidak ada alternatif lain yang lebih baik untuk membangun kepercayaan selain melalui diplomasi ini,” tegasnya.

Turut hadir Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar, Staf Ahli Menteri Agama Adiyarto Sumardiono, Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia Arsjad Rasjid, Menteri Luar Negeri 2014-2024 Retno Marsudi, serta sejumlah Pejabat Kementerian Agama dan tokoh agama. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement