Internasional
Perbatasan Myanmar Dekat India, Covid-19 Merebak

Perbatasan Myanmar-India. (Ist)
FAKTUALid – Virus Covid-19, ternyata peyebarannya makin meluas saja. Negara-negara Asia tetap jadi sasaran penyakit mematikan ini.
Diperbatasan barat laut Myanmar dengan India, misalnya penularan virus Covid-19 tak terhindarkan.
Dilansair dari berbagai sumber, misalnya, Jumat (5/6/2021), data resmi pemerintah Myanmar menunjukkan 122 kasus penularan baru dalam sehari.
“Tiga orang meninggal dalam sehari kemarin. Banyak orang takut,” kata relawan Kelompok Bantuan Zomi Care and Development, Lang Khan Khai, di Kota Tonzang sekitar 20 kilometer dari perbatasan India.
Meski jumlah itu terbilang rendah dibandingkan negara tetangga, namun angka penularan tersebut yang tertinggi selama empat bulan terakhir bagi Myanmar.
Banyak kasus penularan Covid-19 berasal dari negara bagian Chin yang berbatasan langsung dengan India. Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa varian baru Covid-19 dari India telah masuk dan menyebar di Myanmar.
Sebab, tren penularan corona di India saat ini masih tinggi terutama dengan kemunculan varian baru virus Covid-19 yang dinilai lebih menular.
Banyak petugas medis Myanmar khawatir bahwa hanya sedikit kasus Covid-19 yang terdeteksi di negara itu. Sebab, tren pengujian tes corona disebut terus menurun terutama setelah kudeta berlangsung.
Rata-rata pemeriksaan Covid-19 saat ini adalah lebih dari 1.400 pengujian harian dalam sepekan terakhir. Jumlah itu jauh berkurang dari 17.000 pemeriksaan dalam sehari sebelum kudeta berlangsung.
Hingga kini Kementerian Kesehatan Myanmar belum dapat dimintai konfirmasi.
Myanmar dikhawatirkan menjadi episentrum ledakan kasus Covid-19 di tengah konflik yang terus membara sejak kudeta terjadi.
Koordinator kesehatan Federasi Internasional Palang Merah, Abhishek Rimal, menyoroti keadaan di perbatasan Myanmar yang kacau balau.
Menurutnya, perbatasan Myanmar seharusnya memperketat protokol kesehatan demi mencegah penyebaran Covid-19.
Namun, saat ini, perbatasan Myanmar dipadati para warga yang ingin kabur menghindari kekerasan dan konflik dengan aparat.
Kantor Koordinasi Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOCHA) melaporkan bahwa hingga 27 Mei, tercatat 46 ribu warga Myanmar kabur dari tempat tinggalnya demi menghindari konflik.
Sekitar 37 ribu dari total pengungsi itu merupakan warga negara bagian Kayah yang kabur ke Thailand setelah baku tembak antara militer dan milisi etnis lokal.
Selain Kayah, sejumlah daerah perbatasan Myanmar lainnya juga menjadi sorotan, salah satunya negara bagian Chin, terutama Kota Mindat yang berbatasan langsung dengan India.
Di negara bagian itu, ribuan orang juga kabur dari tempat tinggalnya. Tak hanya di perbatasan, penanganan Covid-19 di pusat kota Myanmar juga tidak terorganisir dengan baik bahkan jauh sebelum kudeta terjadi.***










