Internasional
Serangan Bom Bunuh Diri Kelompok Militan Tewaskan 11 Tentara Pakistan dan Seorang Anak

Militer Pakistan meningkatkan penjagaan dan kesiagaan setelah terjadi serangan bom bunuh diri oleh kelompok militan yang menewaskan 11 tentara di bagian barat nagara itu, Selasa (17/2/2026)
FAKATUAL INDONESIA: Serangan bom bunuh diri yang dilakukan seorang pria dengan didukung kelompok militan menewaskan 11 tentara Pakistan dan seorang anak di barat laut negara tersebut.
Menurut keterangan militer dan polisi Pakistan, pelaku bom bunuh dirti itu menabrakkan kendaraan bermuatan bahan peledak ke dinding pos keamanan setelah pasukan memberi isyarat agar kendaraan itu berhenti di bekas benteng Taliban Pakistan.
Selain mewaskan tentara Pakistan, serangan itu juga menyebabkan sebagian kompleks runtuh, Selasa (17/2/2026).
Baca Juga : Afghanistan Klaim Tewaskan Puluhan Tentara Pakistan dalam Baku Tembak di Perbatasan
Militer menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para penyerang berusaha menerobos pos pemeriksaan tetapi digagalkan oleh pasukan keamanan. Dikatakan bahwa pasukan kemudian mengejar dan menewaskan 12 “khawarij,” istilah yang digunakan pihak berwenang untuk menyebut Taliban Pakistan, atau TTP.
Sepeeti dilaporkan ctvnews.ca, serangan itu terjadi pada Senin malam di Bajaur, sebuah distrik di provinsi Khyber Pakhtunkhwa di sepanjang perbatasan Afghanistan. Militer mengatakan rumah-rumah warga sipil di dekatnya juga mengalami kerusakan parah akibat ledakan tersebut, menewaskan seorang gadis muda dan melukai tujuh warga sipil lainnya, termasuk wanita dan anak-anak.
Pejabat kepolisian setempat, Zafar Khan, mengatakan bahwa tak lama setelah serangan bom bunuh diri, sekelompok militan mencoba menyusup ke pos keamanan. Hal itu memicu baku tembak yang menewaskan 12 militan, katanya, seraya menambahkan bahwa pencarian sedang dilakukan di Bajaur.
Baca Juga : Kelompok Militan Tewaskan Lima Polisi Dalam Serangan di Barat Laut Pakistan
Ketegangan terus berlanjut di Bajaur sejak Agustus 2025, ketika pasukan keamanan melancarkan “operasi terarah” terhadap militan di sana, menyebabkan puluhan ribu penduduk mengungsi yang kemudian kembali ke rumah mereka, dan operasi berbasis intelijen telah berlangsung di sana sejak saat itu.
Tidak ada kelompok yang segera mengaku bertanggung jawab, tetapi kecurigaan kemungkinan besar akan tertuju pada Taliban Pakistan, yang sering menargetkan pasukan keamanan dan warga sipil di seluruh negeri.
Presiden Pakistan Asif Ali Zadari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dalam pernyataan terpisah mengutuk serangan tersebut. Mereka menyatakan kesedihan atas “kemartiran” personel keamanan dan seorang warga sipil, dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mereka. Sharif menegaskan kembali tekad pemerintah untuk memberantas terorisme dan mengatakan bahwa bangsa ini berdiri bersama angkatan bersenjatanya dalam perjuangan tersebut.
Baca Juga : Gempur Balochistan Selama 40 Jam, Pasukan Pakistan Tewaskan 145 Militan
Pakistan telah menyaksikan peningkatan kekerasan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar disalahkan pada TTP. Kelompok ini terpisah dari, tetapi bersekutu erat dengan Taliban Afghanistan, yang kembali berkuasa pada tahun 2021. Peningkatan serangan telah memanaskan hubungan antara Islamabad dan Kabul, karena Pakistan menuduh TTP beroperasi secara bebas di dalam Afghanistan, tuduhan yang dibantah oleh TTP dan Kabul.
Pada Desember 2025, kepala angkatan darat Pakistan, Asim Munir, menyerukan kepada pemerintah Taliban Afghanistan untuk memilih antara mempertahankan hubungan dengan Islamabad atau mendukung Taliban Pakistan, kelompok militan yang dituduh bertanggung jawab atas peningkatan serangan mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Jenderal Asim Munir menyampaikan sambutannya di markas besarnya di kota garnisun Rawalpindi, di mana ia menerima penghormatan dari ketiga cabang militer, menandai peluncuran komando militer gabungan baru Pakistan. ***













