Ekonomi
Rupiah Selasa 9 Juni 2026: Menguat Tajam 130 Poin Dekati Rp18.000, Volatilitas Masih Berpotensi Tinggi

FAKTUAL INDONESIA: Meski terlambat namun lebih baik dari pada tidak melakukan sesuatu setelah nilai tukar (kurs) rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh angka Rp18.188.
Barangkali pepatah, “lebih baik terlambat dari pada tidak”, itu pantas diarahkan terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, Selasa (9/6/2026), sehingga menyelamatkan rupiah dari posisi lebih buruk lagi.
Dengan langkah berani BI dan sinyal penguatan ekonomi dalam negeri menjadi katalis utama mengangkat rupiah sukses membukukan performa impresif pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Mata uang Garuda ditutup menguat tajam, dipicu oleh respons positif pasar terhadap kebijakan moneter domestik dan suntikan sentimen makro yang solid.
Baca Juga : Rupiah Masih Bertahan di Atas Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Eksternal Bayangi Pergerakan
Rupiah Mengamuk di Zona Hijau
Berdasarkan data pasar spot pada penutupan perdagangan Selasa sore, mata uang rupiah berhasil menguat ke posisi yang jauh lebih perkasa dibandingkan hari sebelumnyameskipun masih tetap di level di atas Rp18.000 per dolar AS.
Namun dengan ditutup menguat 130 poin atau 0,71 persen menjadi Rp18.058 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.188 per dolar AS. Rupiah sudah makin mendekati Rp18.000 dan diharapkan bisa terus naik untuk lepas dari angka psikologis itu.
Kurs rupiah pada penutupan itu lebih baik dari saat pembukaan Selasa pagi ketika menguat hanya 54 poin atau 0,29 persen menjadi Rp18.134 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.188 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp18.141 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.171 per dolar AS
Keperkasaan rupiah ini sejalan dengan derasnya aliran modal asing (capital inflow) yang masuk, baik ke pasar saham maupun pasar obligasi (SBN).
Adanya kepastian dari kebijakan suku bunga acuan (BI Rate) terbukti ampuh memulihkan kepercayaan investor global terhadap stabilitas moneter Indonesia, sehingga menekan dominasi greenback (dolar AS).
Baca Juga : Rupiah Senin 8 Juni 2026: Depresiasi Tajam Dihantam Twin Pressures, Proyeksi Tetap Suram
3 Faktor Utama Saling Menyokong
Menguatnya taji mata uang Garuda hari ini tidak terjadi begitu saja. Ada tiga faktor fundamental yang saling menyokong:
- Respons Positif terhadap Kenaikan BI Rate
Kebijakan Bank Indonesia yang menyesuaikan BI Rate direspons sangat positif oleh pasar. Kenaikan ini dinilai sebagai langkah pre-emptif yang tepat untuk menjaga stabilitas inflasi dan memperlebar jarak suku bunga (interest rate differential), membuat aset-aset berbasis rupiah menjadi jauh lebih menarik bagi investor asing.
- Efek Berantai Rencana Buyback BUMN Himbara
Sentimen positif dari dalam negeri juga didorong oleh rencana aksi korporasi pembelian kembali (buyback) saham oleh bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himbara. Aksi ini memicu optimisme bahwa likuiditas di pasar keuangan domestik sangat tebal dan sehat, memberikan multiplier effect pada penguatan nilai tukar.
- Pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) secara Global
Di sisi eksternal, indeks dolar AS terpantau mengalami koreksi teknikal. Pelaku pasar global mulai mengalihkan fokus mereka ke pasar berkembang (emerging markets) yang menawarkan imbal hasil (yield) lebih kompetitif, dan Indonesia menjadi salah satu destinasi utamanya.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi seperti dilansir liputan6, menilai penguatan rupiah diiringi keputusan BI menaikkan suku bunga acuan, BI-Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,50 persen pada hari ini.
Baca Juga : Rupiah di Kisaran 18 Ribu, BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi Jaga Rupiah
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah,” katany, Selasa (9/6/2026).
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pernyataan terkonfirmasi, mengatakan kenaikan suku bunga acuan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil untuk meningkatkan daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia.
Dalam evaluasi sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan tanggal 19-20 Mei 2026, Perry mengatakan nilai tukar rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari perkiraan.
Selain gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing dalam negeri, ia mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah juga didorong oleh aliran keluar investasi portfolio asing dari Indonesia.
Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
Baca Juga : Rupiah Jumat 5 Juni 2026: Menguat Meski Masih Di Atas Rp18.000, Awas Pekan Depan Melemah
Sentimen pasar global berasal dari konflik antara Iran dengan rezim Zionis Israel yang telah menghentikan serangan satu sama lain, meskipun Teheran mengatakan akan melanjutkan serangan jika Israel terus menyerang Hizbullah di Lebanon.
Sementara itu seperti dikutip dari tradingview, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai keputusan BI menaikkan suku bunga menjadi katalis utama yang mendorong apresiasi rupiah.
“Kenaikan suku bunga tersebut meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dan memberikan sinyal kuat bahwa otoritas moneter berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya gejolak global,” ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, kenaikan BI Rate membuat instrumen keuangan domestik menjadi lebih menarik bagi investor sekaligus mempertegas komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain didukung kebijakan suku bunga, penguatan rupiah juga ditopang oleh langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing dan pasar obligasi. Di sisi lain, membaiknya sentimen risiko global turut mendorong aliran dana asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik sehingga memberikan dukungan tambahan bagi pergerakan rupiah.
Baca Juga : Duh! Rupiah Melemah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Transaksi Money Changer di Cirebon Meningkat
Proyeksi Rupiah Selanjutnya
Kombinasi antara kebijakan moneter BI yang tegas dan fundamental ekonomi riil yang kokoh membuat rupiah memiliki fondasi kuat untuk menahan gejolak eksternal sepanjang pekan ini.
Meski demikian, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengemukakan, penguatan rupiah saat ini lebih mencerminkan respons jangka pendek pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dibandingkan adanya perbaikan fundamental ekonomi yang bersifat permanen.
Ia menilai volatilitas rupiah masih berpotensi tinggi selama tekanan eksternal terus berlangsung dan berbagai tantangan domestik belum sepenuhnya mereda. Beberapa faktor yang masih menjadi perhatian antara lain persepsi risiko fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, hingga ketidakpastian terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
“Keberlanjutan penguatan rupiah sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah dan Bank Indonesia dalam memperkuat fundamental ekonomi, menjaga kredibilitas kebijakan, dan memulihkan kepercayaan investor secara berkelanjutan, bukan hanya melalui kenaikan suku bunga,” kata Rizal.
Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), Rizal memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp 17.980 hingga Rp 18.120 per dolar AS.
Baca Juga : Di Tengah Dinamika Nilai Tukar Rupiah, Pemerintah Yakin Fundamental Ekonomi Nasional Tetap Kuat
Menurutnya, pelaku pasar masih akan mencermati dampak lanjutan kenaikan BI Rate terhadap stabilitas pasar keuangan dan arus modal asing. Selain itu, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan bank sentral utama dunia, pergerakan indeks dolar AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga diperkirakan tetap menjadi faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Dari sisi domestik, investor juga akan memantau konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter, kondisi likuiditas valuta asing, serta kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Secara teknikal, penguatan rupiah pada hari Selasa ini berhasil menjebol level support kuat harian terhadap dolar AS. Ini mengindikasikan bahwa ruang bagi rupiah untuk melanjutkan apresiasi masih terbuka cukup lebar pada perdagangan besok.
Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati rilis data ekonomi dari Amerika Serikat pada pertengahan minggu, seperti data inflasi atau klaim pengangguran, yang sewaktu-waktu bisa memicu reli jangka pendek pada dolar AS. Untuk jangka menengah, tren rupiah diperkirakan akan bergerak lebih stabil dan cenderung menguat secara bertahap. ***