Ekonomi
Rupiah Selasa 28 Juli 2026: Terdepak ke Level Rp18.083, Masih Berpotenis Melemah Terbatas
FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melaju di zona merah pada akhir perdagangan Selasa (28/7/2026).
Dalam pantuan pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah sebesar 74 poin atau 0,41 persen ke level Rp18.083 dari sebelumnya a di level Rp18.009 per dolar AS. Pelemanah ini , memperpanjang tekanan terhadap rupiah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Mata uang Garuda sudah masuk zona merah sejak pembukaan perdagangan Selasa pagi ketika melemah 61 poin atau 0,34 persen menjadi Rp18.070 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp18.088 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.995 per dolar AS.
Posisi itu membuat rupiah semakin mendekati rekor terendah sepanjang masa di Rp 18.190 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026.
Catatan rupiah itu membuat pergerakan mata uang utama di kawasan Asia makin beragam terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,04%, dolar Hong Kong naik 0,01%, sementara dolar Singapura turun 0,14%. Yuan China juga turun 0,05%, ringgit Malaysia turun 0,09%, sementara baht Thailand turun 0,04%. Sedangkan Won Korea Selatan naik 0,25%, peso Filipina naik 0,08%, sedangkan rupe India naik 0,17%.
Transisi Kepemimpinan BI
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik maupun eksternal yang membayangi pergerakan pasar keuangan. Dari dalam negeri, dinamika transisi kepemimpinan di Bank Indonesia pasca pengunduran diri Gubernur BI masih menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Meskipun penunjukan pelaksana tugas (Plt) mampu meredam kekhawatiran sesaat, investor cenderung bersikap hati-hati sambil menantikan kepastian figur definitif yang akan memimpin bank sentral.
Sementara dari sentimen global, penguatan indeks dolar AS didorong oleh sikap wait and see para investor menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pasar mengantisipasi arah suku bunga acuan serta data-data ekonomi penting AS yang akan dirilis pekan ini.
“Selanjutnya perhatian pasar akan tertuju pada penunjukan Gubernur BI yang definitif. Penunjukkan Gubernur BI yang baru yang sesuai dengan harapan pasar serta transisi kepemimpinan yang berjalan lancar, diharapkan dapat menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tulis Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, seperti dilansir IDXChannel, Selasa.
Dari eksternal, aksi saling serang antara AS dan Iran terhenti, The New York Times melaporkan Presiden AS Donald Trump telah menghentikan rencana untuk meningkatkan operasi militer secara tajam di Iran setelah bertemu dengan para penasihat utama dan pejabat senior pemerintahannya. Di sisi lain, Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga tetap pada Rabu. Perangkat CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62 persen untuk skenario tersebut.
Namun, prospek kebijakan moneter cenderung fluktuatif bulan ini di tengah situasi yang dinamis di Timur Tengah. Harga minyak sempat melonjak sekitar 20 persen dalam dua minggu saat AS dan Iran saling melancarkan serangan terkait kendali atas Selat Hormuz.
Investor juga menantikan pernyataan dari Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh. Sebelumnya, Warsh telah menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menjaga stabilitas harga. Dia juga telah meluncurkan tinjauan menyeluruh terhadap operasional Fed dengan menunjuk lima gugus tugas untuk menangani berbagai aspek, seperti komunikasi dan kerangka kerja inflasi.
Kalender ekonomi minggu ini juga akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter, karena para pelaku pasar akan menerima data PDB AS kuartal kedua 2026, serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Juni yang merupakan indikator inflasi acuan bagi Fed.
Prediksi Rabu, 29 Juli 2026
Memasuki perdagangan Rabu (29/7/2026), nilai tukar rupiah diperkirakan masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas.
- Faktor Penggerak: Pelaku pasar akan terus mencermati sinyal dari keputusannya The Fed dan rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II AS. Di sisi lain, potensi intervensi Bank Indonesia di pasar uang melalui pasar spot dan DNTF (Domestic Non-Deliverable Forward) diharapkan dapat menahan tekanan depreasiasi yang terlalu dalam.
- Rentang Perdagangan: Rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran 050 hingga Rp18.130 per dolar AS.
Para pengamat menyarankan investor untuk tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi di pasar valuta asing jelang keputusan bank sentral AS.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.960 – Rp 18.020 per dolar AS,” ungkap Ibrahim. ***













