Connect with us

Ekonomi

Rupiah Selasa 14 Juli 2026: Menguat Tipis Masih Di Atas Rp18.000, Berharap Tidak Ada Kejuatan Negatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Penguatan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Selasa (14/7/2026),  menunjukkan perlawanan yang cukup baik dari rupiah setelah sempat bergerak fluktuatif sejak pembukaan perdagangan pagi. (Ist)

Penguatan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Selasa (14/7/2026), menunjukkan perlawanan yang cukup baik dari rupiah setelah sempat bergerak fluktuatif sejak pembukaan perdagangan pagi. (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya berhasil keluar dari tekanan dan ditutup di zona hijau pada perdagangan hari ini, Selasa (14/7/2026). Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda menguat tipis 18 poin atau sekitar 0,10 persen untuk bertengger di level Rp18.091 per dolar AS.

Performa ini menunjukkan perlawanan yang cukup baik dari rupiah setelah sempat bergerak fluktuatif sejak pembukaan perdagangan pagi.

Penguatan di penutupan hari ini merupakan kebangkitan rupiah dari pembukaan ketika dibuka melemah 6 poin atau 0,03 persen menjadi Rp18.115 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp18.109 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp18.099 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.131 per dolar AS.

Namun di pasar spot, beberapa bank nasional terpantau masih mematok kurs jual dolar AS di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.170.

Advertisement

Mampu Bertahan di Bawah Level Psikologis

Pada pembukaan pasar Selasa pagi, rupiah sebenarnya sempat dibayangi tekanan dari ketidakpastian sentimen global dan fluktuasi pasar. Namun, perlahan tapi pasti, mata uang kebanggaan Indonesia ini berhasil mengumpulkan tenaga hingga kembali ke bawah level psikologis Rp18.100 per dolar AS.

Kemarin (Senin, 13/7/2026), rupiah sempat terdepresiasi ke level Rp18.109 per dolar AS akibat imbas eskalasi geopolitik global. Rebound hari ini sebesar 18 poin membuktikan adanya aliran masuk modal jangka pendek atau aksi ambil untung (profit taking) para pelaku pasar terhadap dolar AS.

Sentimen Penggerak Rupiah

Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan fluktuatif nilai tukar rupiah sepanjang hari ini:

Advertisement
  • Sikap Menanti (Wait and See) Pelaku Pasar: Investor global masih menanti rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, yang akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).
  • Prediksi Jangka Panjang S&P: Menariknya, lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings baru saja merilis proyeksi optimistis bahwa nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat hingga ke kisaran 700 per dolar AS pada akhir tahun 2026. Sentimen positif ini turut memberikan nafas segar bagi pergerakan mata uang domestik.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya, Selasa, Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah pertukaran militer yang diperbarui dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan memungut biaya 20 persen pada kargo yang melewati Selat Hormuz untuk menutupi biaya keamanan.

“Investor tetap khawatir eskalasi militer lebih lanjut atau tindakan balasan dapat mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui oleh sekitar seperlima konsumsi minyak global, setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah, sementara UEA melaporkan dua kapal tanker mereka diserang di perairan Oman,” papar Ibrahim seperti dilansir metrotv.

Sementara itu, lanjut Ibrahim, kenaikan harga minyak mentah berdampak pada pasar keuangan yang lebih luas, menekan pasar saham dan meningkatkan kekhawatiran inflasi karena investor menilai kembali potensi dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan global dan kebijakan bank sentral.

Selain itu, Gubernur Federal Reserve (Fed) Christopher Waller yang mengungkapkan jika Indeks Harga Konsumen (CPI) naik minggu ini, The Fed harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Waller menyatakan angka inflasi inti yang tinggi akan memaksa pertimbangan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Meskipun bersikap hawkish, ia masih melihat kemungkinan inflasi mencapai target dua persen tanpa kenaikan suku bunga dan menyatakan bahwa pasar tenaga kerja lebih dekat dengan target lapangan kerja maksimum The Fed.

Di sisi lain, pasar merespons positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai lima persen setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap Stabil.

Advertisement

S&P menyampaikan peringkat kredit Indonesia bertahan di BB Bberkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB.

Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan penghiliran (hilirisasi), yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. S&P menilai kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski tembus 5,6 persen pada kuartal I-2026, dinilai tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I-2026. Pasar saham yang paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar. Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sektar tujuh persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode yang sama.

Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri.

Prediksi Rupiah Rabu, 15 Juli 2026

Advertisement

Bagaimana prospek pergerakan rupiah esok hari? Para analis memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (15/7/2026) masih akan diwarnai volatilitas yang cukup tinggi.

Aspek PrediksiDetail Estimasi
Rentang PergerakanRp18.020 – Rp18.120 per dolar AS
Tren PergerakanKonsolidasi cenderung menguat tipis jika sentimen regional mendukung
Faktor KunciRilis data inflasi global, harga komoditas ekspor, dan intervensi Bank Indonesia di pasar DNDF

Jika tidak ada kejutan negatif dari rilis data ekonomi AS atau eskalasi geopolitik baru di Timur Tengah, rupiah diperkirakan memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan tipisnya dan menguji level batas bawah (support) baru di area Rp18.020 per dolar AS. Namun sebaliknya, jika indeks dolar kembali perkasa, rupiah bisa kembali melemah ke arah Rp18.120.

Sedangkan, melihat berbagai perkembangan terakhir, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.090 per USD hingga Rp18.140 per USD,” jelas Ibrahim. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement