Ekonomi

Penutupan Perdaganga Hari Ini, IHSG Menghijau Lagi, Rupiah ya Ampun ……

Published

on

Bangkit menguat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) nyaman di zona hijau pada perdagangan saham Selasa (13/1/2026) sedangkan nilai tukar (kurs) rupiah masih mengering karena kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat

Bangkit menguat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) nyaman di zona hijau pada perdagangan saham Selasa (13/1/2026) sedangkan nilai tukar (kurs) rupiah masih mengering karena kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menghijau lagi pada perdagangan saham Selasa (13/1/2026), setelah sehari sebelumnya tergelincir ke zona merah.

Sementara itu nilai tukar (kurs) rupaih terhadap dolar Amerika Serikat (AS), hari ini, ya ampun …. masih terus melemah sehingga tahun ini belum mampu bangkit.

Baca Juga : Sempat Cetak Rekor Tertinggi IHSG Malah Tergelincir, Rupiah Masih Terus Melemah

IHSG Sempat Tertekan

Perjalanan IHSG BEI untuk bangkit dari posisi melemah sehari sebelumnya bergerak fluktuatif dalam perdagangan Selasa. IHSG mengawali perdagangan dengan dibuka menguat 46,52 poin atau 0,52 persen ke posisi 8.931,24. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 5,21 poin atau 0,60 persen ke posisi 871,76.

IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.956,73 sebelum kemudian muncul tekanan jual muncul siang hari hingga  turun ke titik terendah harian di 8.841,02.

Advertisement

Tetapi kemudian berbalik arah dan menguat hingga akhirnya ditutup mendekati level tertinggi harian. IHSG ditutup menguat 63,58 poin atau 0,72 persen ke posisi 8.948,29. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 12,31 poin atau 1,42 persen ke posisi 878,86.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seperti dilansir suarasurabaya,  tujuh sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 2,05 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor properti yang naik masing-masing sebesar 1,87 persen dan 0,64 persen.

Baca Juga : Suntikan Sentimen Domestik dan Global Bangkitkan IHSG ke Posisi 8.936

Sedangkan, empat sektor melemah yaitu sektor barang konsumen non primer turun paling dalam sebesar 2,11 persen, diikuti oleh sektor transportasi & logistik dan sektor energi yang turun masing- masing sebesar 0,94 persen dan 0,68 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu SOLA, ASPR, MBMA, WEHA dan APLN. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DKHH, VICI, DEWA, GTSI dan NINE.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.805.222 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 52,89 miliar lembar saham senilai Rp33,41 triliun. Sebanyak 348 saham naik 327 saham menurun, dan 131 tidak bergerak nilainya.

Advertisement

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1.531,20 poin atau 2,93 persen ke posisi 53.461,10, indeks Hang Seng menguat 239,99 poin atau 0,90 persen ke posisi 26.848,47, indeks Shanghai melemah 26,53 poin atau 0,64 persen ke posisi 4.138,75, dan indeks Straits Times menguat 40,35 poin atau 0,85 persen ke 4.807,12.

Baca Juga : IHSG Makin Hijau Dekati Level 9.000, Rupiah Masih Loyo Bisa Terperosok Rp17.000 Per Dolar Amerika

Rupiah Tertekan Sentimen Politik

Pada perdagangan valuta Selasa, nilai tukar (kurs) rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah tidak mampu bangkit karena tetap melemah saat penutupan perdagangan sore harinya.

Pagi harinya rupiah melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.873 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.855 per dolar AS. Kemudian pada penutupan rupiah melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.877 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.855 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures,Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pelemahan kurs rupiah disebabkan oleh berbagai sentimen politik dan ekonomi global.

Advertisement

“Sentimen pasar telah terguncang oleh perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat (AS), di mana jaksa telah meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua Fed Jerome Powell. Meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed melemahkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis padaSelasa (13/1/2026).

Baca Juga : IHSG Makin Moncer Terbang Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Rupiah Malah Loyo Lagi

Menurutnya, seperti dipantau dari indopremier.com, ketidakpastian seputar bank sentral AS mendorong pelemahan lebih lanjut pada rupiah.

Dari sentimen geopolitik, rupiah melemah seiring perhatian pasar terhadap peristiwa demonstrasi anti-pemerintah terbesar di Iran,dan dilaporkan banyak korban jiwa ketika pasukan keamanan menindak para demonstran.

Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran.

Kurs rupiah juga melemah setelah Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25% pada negara mitra bisnisIran, sebuah langkah yang bertujuan untuk mengisolasi Teheran secara ekonomi.

Advertisement

Selain itu, rupiah juga lesu setelah infrastruktur ekspor minyak Rusia telah berulang kali diserang di tengah konflik Ukraina yang berkepanjangan. ***

Exit mobile version