Ekonomi
Pasar Keuangan Senin 14 April 2026: IHSG BEI “Rebound” ke Level 7.500, Rupiah Masih Terkapar di Rp 17.105

Suasana ceria mewarnai Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkir menguat Senin (13/4/2026) sementara kelesuan terjadi di penukaran mata uang karena nilai tukar (kurs) rupiah masih berada di zona merah. (AI/Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Pasar keuangan Indonesia menunjukkan dinamika yang kontras pada awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil bangkit dan ditutup menguat pada perdagangan Senin (13/4/2026). Sayangnya, performa positif di lantai bursa tidak menular ke nilai tukar rupiah yang justru semakin melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).
Sektor Energi Penyelamat IHSG
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 0,56% atau naik ke level psikologis 7.500,19. Padahal, pada pembukaan pagi hari, indeks sempat merosot hingga ke level 7.410 mengikuti pelemahan bursa saham di kawasan Asia.
Ketika pembukaan IHSG dibuka melemah melemah 48,41 poin atau 0,65 persen ke posisi 7.410,09. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 5,28 poin atau 0,71 persen ke posisi 741,19.
Namun saat penutupan perdagangan saham, IHSG ditutup menguat 41,69 atau 0,56 persen ke posisi 7.500,19. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 0,11 poin atau 0,01 persen ke posisi 746,36.
Kenaikan ini didorong oleh aksi beli selektif investor, terutama pada sektor komoditas. Berikut adalah rincian performa sektoral hari ini:
- Sektor Energi: Melambung 2,64%, menjadi motor utama penguatan seiring dengan kenaikan harga minyak mentah global akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.
- Sektor Bahan Baku: Menyusul dengan kenaikan signifikan sebesar 2,53%.
- Total Sektor: 8 dari 11 sektor saham di IDX-IC berakhir di zona hijau.
Para analis menilai bahwa meskipun sentimen global masih dibayangi ketidakpastian, investor domestik melihat peluang pada emiten-emiten yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas dunia.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, kenaikan IHSG hari ini ditopang oleh penguatan emiten-emiten konglomerasi yang juga bergerak menguat cukup signifikan di tengah koreksi mayoritas bursa saham Asia.
“Di sisi lain, penjualan ritel pada Februari meningkat dan juga dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
IHSG berpotensi lanjut menguat pada perdagangan Selasa (14/4). VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak bervariasi cenderung menguat dalam rentang level support 7.367 dan resistance 7.653.
“Dengan indikator MACD menunjukkan tren yang menguat, sejalan dengan RSI yang bergerak naik ke level 52,” jelasnya kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menambahkan, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data neraca dagang China dan data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat.
“Di sisi lain, investor juga masih mencermati arah perkembangan negosiasi di Timur Tengah,” katanya.
Herditya memproyeksikan IHSG menguat dengan support 7.415 dan resistance 7.527.
Rupiah Tertekan Geopolitik
Berbanding terbalik dengan saham, mata uang Garuda justru lesu. Di pasar spot, Rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp 17.105 per dollar AS. Angka ini menunjukkan tekanan yang terus berlanjut di tengah ketegangan geopolitik yang memicu penguatan safe-haven Dollar AS.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan melemah 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.104 per dolar AS.
Lebih menguat dibandingkan saat pembukaan ketika rupiah melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.121 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.122 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.112 per dolar AS.
Beberapa faktor yang menekan posisi Rupiah antara lain:
- Sentimen Global: Ketidakpastian hasil pembicaraan perdamaian di Timur Tengah membuat investor cenderung mengalihkan aset ke mata uang yang lebih aman (US Dollar).
- Kekhawatiran Inflasi: Rencana kenaikan harga BBM non-subsidi di dalam negeri turut memberikan tekanan pada nilai tukar karena potensi kenaikan inflasi di masa depan.
- Proyeksi Ekonomi: Revisi turun pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia menjadi 4,7% untuk tahun 2026 turut mempengaruhi psikologis pasar valas.
“Rupiah sore ini ditutup melemah tipis 1 poin di level Rp17.105 dari penutupan sebelumnya Rp17.104, sebelumnya sempat melemah 40 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Senin (13/4/2026), seperti dilansir priskop.
Dari eksternal, tekanan terhadap rupiah datang setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade terhadap Iran menyusul kegagalan perundingan perdamaian pada akhir pekan. Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didorong oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan lonjakan signifikan akibat kenaikan harga energi. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer). Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga produsen (PPI) AS untuk bulan Maret yang dijadwalkan pada Selasa.
Dari dalam negeri, sentimen dipengaruhi oleh proyeksi Bank Pembangunan Asia (ADB) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% pada 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 5,1%, namun masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4%.
“Untuk perdagangan Selasa, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.100-Rp17.150,” tutup Ibrahim. ***












