Ekonomi
IHSG Benar-benar Pulih dan Menguat Setelah Dirut BEI Mundur, Rupiah Ditekan Sentimen Global

FAKTUAL INDONESIA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak mau terantuk untuk ketigakalinya secara beruntun setelah pada perdagangan Jumat (30/1/2026) bangkit sejak pembukaan sampai penutupan.
Di iringi kabar mundurnya Direktu Utama BEI Iman Rachman, IHSG secara perlahan namun pasti membuktikan kepulihan setelah diterpa kejatuhan sehingga mengalami penghentinan perdagangan Rabu dan Kamis.
Sementara itu nilai tukar (kurs) rupiah justru tidak mampu bergerak bangkit karena kembali melemah baik saat pembukaan maupun penutupan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan valuta Jumat.
Baca Juga : Dirut BEI Mundur Setelah Kejatuhan IHSG, Mensesneg Angkat Bicara, Menkeu Purbaya Sebut Fatal tapi Positif
IHSG Dibayangi Wait And See
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berjuang untuk pulih dari kejatuhan dua hari sebelumnya, kali ini langsung menujukkan kepulihan dan menguat sejak pembukaan perdagangan.
Pada Jumat pagi IHSG dibuka menguat 88,88 poin atau 1,08 persen ke posisi 8.321,08. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 11,59 poin atau 1,43 persen ke posisi 824,60.
Kemudian sore harinya IHSG ditutup menguat 97,41 poin atau 1,18 persen ke posisi 8.329,61. Untuk kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 20,52 poin atau 2,52 persen ke posisi 833,53.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dengan level tertinggi naik 0,94% ke posisi 8.408,30, sementara level terendah sempat terkoreksi 1,94% ke level 8.167,16.
Baca Juga : IHSG Pulih Namun Masih Melemah, Rupiah Terpukul Sentimen Negatif Internal
“IHSG rebound setelah kisruh Morgan Stanley Capital International (MSCI), tetapi pelaku pasar masih belum yakin dan mengambil sikap wait and see,” ujar Fixed Income and Macro Strategis PT Mega Capital Indonesia Lionel Priyadi seperti dilansir metrotvnews, Jumat.
Lionel mengatakan investor akan mengambil sikap berhati-hati, bahkan investor asing masih akan condong bearish hingga ada lampu hijau dari MSCI menjelang Mei 2026.
Volume perdagangan mencapai 57,77 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi Rp 41,33 triliun dan frekuensi transaksi tercatat 3,40 juta kali. Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 551 saham atau sekitar 68,7% menguat, sementara 194 saham atau 24,2% melemah, dan 65 saham atau 8,1% stagnan.
Seiring penguatan indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat mencapai Rp 15.075,29 triliun,
Dari sisi saham sektoral, sektor transportasi (IDXTRANS) mencatatkan penguatan terbesar dengan lonjakan 6,14%, menjadi motor utama kenaikan IHSG.
Baca Juga : BEI Bekukan Sementara Perdagangan setelah IHSG Anjlog 8 Persen, Menkeu Purbaya: Nggak Usah Takut
Sektor keuangan (IDXFINANCE) turut menguat signifikan 3,05%, disusul sektor non-siklikal (IDXNONCYC) yang naik 1,97%, sektor teknologi (IDXTECHNO) menguat 1,70%, serta sektor properti (IDXPROPERT) yang naik 1,47%.
Sebaliknya, tekanan terjadi pada sektor siklikal (IDXCYCLIC) yang melemah 1,46%, sektor infrastruktur (IDXINFRA) turun 1,16%, dan sektor industri (IDXINDUST) terkoreksi 1,10%.
Di jajaran saham emiten, PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) menjadi top gainers setelah melonjak 35,00%. Kenaikan tajam juga dicatat PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) yang menguat 34,67%, PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) naik 34,09%, PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) meningkat 33,77%, serta PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) yang melesat 32,10%.
Sementara dari sisi pelemahan, PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) memimpin daftar top losers dengan penurunan 14,97%. Disusul PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) yang turun 14,94%, PT Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) melemah 14,93%, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) terkoreksi 14,89%, serta PT Pinnacle Persada Investama Tbk (XPLQ) yang turun 14,83%.
Baca Juga : Rupiah Menguat dari Dua jadi 14 Poin, IHSG Lolos dari Zona Merah
Rupiah Terbenam Di Zona Merah
Sementara itu nilai tukar (kurs) rupiah terus terbenam di zona merah ketika dibuka dan ditutup melemah sepanjang Jumat.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, bergerak melemah 52 poin atau 0,31 persen menjadi Rp16.807 dari sebelumnya Rp16.755 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan rupiah, bergerak melemah 31 poin atau 0,18 persen menjadi Rp16.786 dari sebelumnya Rp16.755 per dolar AS.
Seperti dilansir priskop, rupiah melemah seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian global, terutama dari arah kebijakan moneter AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga : Awal Pekan, Rupiah dan IHSG Kompak Sama-sama Menguat, Tumbuhkan Optimisme Berlanjut
“Untuk perdagangan Senin depan, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif dengan potensi ditutup melemah di kisaran Rp16.780 hingga Rp16.810 per dolar AS,” ulas Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat.
Ibrahim mengatakan indeks dolar AS menguat pada Jumat, dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana pengumuman calon Ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya.
Dari sisi geopolitik, sentimen pasar turut dibebani oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Trump dilaporkan mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait program senjata nuklir, sembari mengancam aksi militer AS. Ancaman tersebut dibalas Teheran dengan pernyataan akan melakukan serangan balasan secara keras.
Baca Juga : Rupiah Masih Menguat, IHSG BEI Kembali Melemah
“Pemerintah AS juga akan menjamu pejabat senior pertahanan dan intelijen dari Israel dan Arab Saudi untuk membahas Iran. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong penguatan aset safe haven seperti dolar AS,” jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat pengelolaan cadangan devisa sebagai instrumen utama menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar global di tengah volatilitas keuangan internasional.
BI juga memperkuat bauran kebijakan transformasi ekonomi melalui lima sinergi strategis, yakni stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, percepatan hilirisasi industri, penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan, serta akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional.
“Selain itu, BI terus mengimplementasikan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, termasuk pengembangan UMKM dan ekonomi syariah, guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Ibrahim. ***