Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Senin 25 Mei 2026: Menguat Berkat Angin Segar Hormuz Ditopang Perbankan, Bayang-bayang MSCI Mengintai

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pasar saham domestik awal pekan ini diwarnai senyum setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/5/2026), menguat sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan saham. (Ist)

Pasar saham domestik awal pekan ini diwarnai senyum setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/5/2026), menguat sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan saham. (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Mantap. Perjalanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Senin (25/5/2026),  kontras dengan nilai tukar (kurs)  rupiah.

Pasar saham domestik awal pekan ini diwarnai sukses  IHSG BEI membuka dan menutup perdagangan dengan posisi menguat. Menghijaunya IHSG juga diikuti oleh saham regional yang juga kompak menguat.

Sementara itu rupiah sungguh menyedihkan karena harus ditutup melemah dengan rekor baru terlemah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sudah begitu IHSG juga melemah sendirian di tingkat regional setelah mata uang negara Asia lainnya menguat bersama-sama.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG ditutup melesat menguat 0,72 persen atau bertambah 44,30 poin ke level 6.206,35. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 10,77 poin atau 1,74 persen ke posisi 631,21.

Di awal sesi, indeks saham acuan dalam negeri ini dibuka menguat di posisi 6.187,65. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 3,05 poin atau 0,49 persen ke posisi 623,49.

Advertisement

Bahkan IHSG  sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.239,59, sebelum akhirnya mengalami aksi ambil untung terbatas menjelang penutupan.

Angin Segar Selat Hormuz

Pulihnya selera risiko investor hari ini tidak terlepas dari sentimen global, terutama menyangkut melandainya harga komoditas energi. Analis pasar modal menyebutkan bahwa turunnya harga minyak mentah dunia ke bawah level 100 dolar AS per barel menjadi stimulus utama.

Penurunan harga minyak dipicu oleh harapan positif atas kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pelaku pasar optimis kelancaran jalur ini dapat memulihkan kembali rantai pasok energi global dan meredakan kekhawatiran krisis pasokan global.

Kabar baik dari eksternal ini langsung direspons positif oleh bursa saham regional Asia yang mayoritas kompak menghijau sore ini. Indeks Nikkei Jepang meroket 2,87%, Hang Seng Hong Kong naik 0,86%, dan Shanghai Composite China terdongkrak 0,96%.

Advertisement

Seperti dilansir metrotvnews,  Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya menilai, bursa regional Asia bergerak menguat, ada sentimen membaiknya risiko global seiring harapan akan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran.

Sementara dari mancanegara, para pejabat senior AS mengindikasikan AS dengan Iran hampir mencapai kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, dan mereka masih menegosiasikan persyaratan utama, serta persetujuan akhir dari kedua pihak kemungkinan akan memakan waktu beberapa hari.

Meskipun keputusan kesepakatan perdamaian belum final, namun sinyal itu memberikan sebuah harapan terciptanya perdamaian di Timur Tengah, serta pembukaan kembali selat Hormuz akan memulihkan aliran minyak dan ekonomi global.

Sedangkan dari dalam negeri, IHSG bergerak fluktuatif yang dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik yaitu narasi kesepakatan AS dan Iran memberikan katalis positif, sementara tekanan terhadap kurs rupiah memberikan sentimen negatif.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) defisit sebesar USD9,15 miliar kuartal I-2026, seiring dengan dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI.

Advertisement

Defisit tersebut tercatat jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang memicu kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

Sementara itu Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang menggerakkan indeks pada perdagangan hari ini.

“Hari ini IHSG didorong dengan menguatnya emiten perbankan, di sisi lain juga terdapat kemajuan negosiasi AS-Iran serta investor mencermati efek rebalancing MSCI dan kebijakan ekspor satu pintu,” kata Herditya.

Senada dengan itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai penguatan IHSG turut didukung sentimen eksternal, terutama penurunan harga minyak mentah dunia. “IHSG ditutup menguat 0,72% ke 6.206,35 setelah sempat bergerak dua arah. Sentimen positif berasal dari turunnya harga minyak mentah di bawah US$100 per barel, seiring harapan tercapainya kesepakatan AS-Iran,” jelasnya.

Saham Transportasi dan Perbankan

Advertisement

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat dipimpin sektor transportasi & logistik menguat yang naik sebesar 4,20 persen, diikuti oleh sektor properti dan sektor keuangan yang naik masing-masing sebesar 1,23 persen dan 1,14 persen.

Sedangkan empat sektor melemah yaitu sektor energi paling dalam sebesar 1,94 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor kesehatan yang turun masing-masing sebesar 1,23 persen dan 0,70 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu GRIA, LAJU, TALF, RONY dan BBHI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DFAM, LCKM, ASPR, DAAZ dan AREA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.065.076 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,66 miliar lembar saham senilai Rp16,95 triliun. Sebanyak 470 saham naik, 236 saham menurun, dan 114 tidak bergerak nilainya.

Secara sektoral, pergerakan indeks ditopang oleh dominasi aksi beli, khususnya pada saham-saham perbankan kakap serta emiten berbasis siklikal. Sektor transportasi menjadi motor penggerak utama (top movers) dengan mencetak lonjakan tertinggi hingga 3,83 persen, disusul oleh sektor keuangan (+1,42%) dan sektor properti (+1,29%).

Advertisement

Sebaliknya, merosotnya harga minyak justru menekan sektor energi yang merosot paling dalam hingga 2,04 persen.

Aktivitas perdagangan hari ini terpantau cukup bergairah dengan frekuensi perdagangan mencapai 2,07 juta kali transaksi. Volume saham yang berpindah tangan menembus 27,67 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi yang cukup likuid sebesar Rp16,95 triliun.

Indikator Pasar (25 Mei 2026)Catatan Transaksi
Saham Menguat470 Saham
Saham Melemah236 Saham
Saham Stagnan114 Saham
Top GainerPT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) +34,48%
Top LoserPT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) -15,00%

Bayang-Bayang Agenda MSCI

Meski berhasil bangkit, para pelaku pasar diingatkan untuk tetap mencermati dinamika domestik. Berdasarkan analisis teknikal, IHSG sempat menembus garis Moving Average 5 hari (MA5) pada perdagangan intraday, walaupun secara penutupan masih tertahan tipis di bawahnya. Namun, indikator Stochastic RSI yang sudah membentuk pola golden cross di area jenuh jual (oversold) memberikan sinyal kuat bahwa peluang rebound lanjutan masih terbuka.

Investor diperkirakan akan tetap bersikap selektif dalam beberapa hari ke depan. Hal ini dikarenakan pasar tengah mengantisipasi fluktuasi jangka pendek akibat penyesuaian bobot saham (rebalancing) indeks global MSCI serta mencermati efek dari kebijakan ekspor komoditas satu pintu yang tengah bergulir di dalam negeri.

Advertisement

Menatap perdagangan Selasa (26/5/2026), pergerakan indeks diproyeksikan masih memiliki peluang untuk menguat secara terbatas.

“IHSG diperkirakan menguat terbatas dengan support di 6.145 dan resistance di 6.239, di tengah hari perdagangan yang lebih pendek serta fokus investor pada rebalancing MSCI,” kata Herditya.

Herditya juga merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati pelaku pasar, yakni ADRO di kisaran Rp2.390–Rp2.550, ELSA di Rp680–Rp700, serta EXCL di Rp2.990–Rp3.220.

Sedangkan, Alrich mengingatkan bahwa pergerakan IHSG masih berpotensi fluktuatif dalam jangka pendek karena pasar masih dibayangi sejumlah faktor eksternal maupun domestik. “IHSG masih bergerak fluktuatif di tengah bayang-bayang rebalancing MSCI dan implementasi kebijakan pemerintah,” katanya.  ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement