Ekonomi
IHSG BEI Rabu 1 Juli 2026: Angin Segar di Awal Bulan Rebound ke 5.695, Menanti Seasonal Effect

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat rebound yang gemilang, Rabu (1/7/2026), untuk ditutup menguat 51,93 poin atau 0,92 persen ke posisi 5.695,12. (Ist)
FAKTUAL INDONESIA: Angin segar bertiup pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal bulan Juli yang merupakan hari pertama di semester kedua, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat rebound yang gemilang, Rabu (1/7/2026).
IHSG mencapat performa apik meskipun sempat diguncang volatilitas tinggi pada awal sesi perdagangan hari ini ketika dibuka melemah 2,58 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.640,61.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,62 poin atau 0,11 persen ke posisi 552,49.
Bahkan berdasarkan data BEI, IHSG sempat bergerak fluktuatif hingga menyentuh level psikologis 5.700 pada perdagangan intraday.
Namun secara perlahan namun pasti IHSG mampu bangkit dari tekanan sampai akhirnya parkir nyaman di zona.
IHSG pun ditutup menguat 51,93 poin atau 0,92 persen ke posisi 5.695,12 sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 3,64 poin atau 0,66 persen ke posisi 556,75.
Penguatan IHSG ini menjadi angin segar bagi para pelaku pasar setelah pada hari sebelumnya indeks sempat terkoreksi dalam.
Saham Big Caps Jadi Penopang
Kenaikan hari ini dimotori oleh kembalinya minat beli investor pada sektor-sektor strategis, di antaranya:
- Sektor Bahan Baku (menguat hingga 3,52%)
- Sektor Utilitas
- Sektor Energi
Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sempat terkoreksi di hari-hari sebelumnya, hari ini terpantau memantul (rebound) dan menjadi motor penggerak utama indeks. Selain itu, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga melesat lebih dari 10%, memberikan sentimen positif yang masif ke pasar.
Seperti dipantau pada Indeks Sektoral IDX-IC, frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.542.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,06 miliar lembar saham senilai Rp10,26 triliun. Sebanyak 391 saham naik, 263 saham menurun, dan 305 tidak bergerak nilainya.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar, yaitu COCO, BBRM, PADI, BEEF, dan CSMI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni RGAS, MMIX, MTLA, MSKY, dan RONY.
Tercatat delapan sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang naik sebesar 2,81 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor infrastruktur yang naik masing-masing sebesar 2,63 persen dan 1,39 persen.
Sedangkan tiga sektor melemah, yaitu sektor transportasi & logistik turun paling dalam minus 0,69 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen primer dan sektor keuangan yang turun masing-masing sebesar 0,35 persen dan 0,33 persen.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan IHSG sempat bergerak sideways di awal perdagangan menjelang rilis data ekonomi domestik. Namun, indeks tetap mampu ditutup di zona hijau meskipun sejumlah indikator menunjukkan pelemahan.
“Indeks S&P Global Manufacturing PMI turun ke level 46,9 pada Juni 2026 dari 50 pada Mei 2026. Selain itu, inflasi meningkat ke 3,34% secara tahunan, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 3,08% dan di atas estimasi 3,2%,” ujar Alrich kepada Kontan, Rabu (1/7/2026), seperti dilansir TradingView.
Tak hanya itu, neraca perdagangan juga mencatatkan defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Ini menjadi defisit pertama sejak April 2020.
Dari sisi nilai tukar, rupiah ditutup melemah 0,25% ke level Rp17.952 per dolar Amerika Serikat, seiring pelemahan mayoritas mata uang Asia.
Sejalan, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai penguatan IHSG ditopang oleh sektor energi dan basic materials, meskipun tekanan dari data makro masih membayangi.
“Hari ini IHSG ditutup menguat 0,92% pasca rilis neraca dagang yang defisit dan inflasi yang naik ke 3,34% YoY,” jelas Herditya.
Di sisi lain, ia menyoroti pergerakan rupiah yang masih melemah terhadap dolar AS dan kini berada di kisaran Rp18.010 per dolar AS.
Proyeksi Menanti Efek Musiman
Kendati demikian, para investor terpantau masih bersikap wait and see mengingat pasar masih menghadapi tantangan rilis data makroekonomi domestik, seperti data inflasi Juni 2026 yang menyentuh angka 3,34% (YoY) serta defisit neraca perdagangan per Mei yang baru saja diumumkan.
Lantas, bagaimana dengan arah pergerakan pasar untuk perdagangan Kamis (2/7/2026)?
Untuk perdagangan Kamis (2/7/2026), secara teknikal, Alrich menilai indikator stochastic RSI mulai mendekati area oversold, sementara MACD berpotensi membentuk death cross. “Sehingga IHSG berpeluang berkonsolidasi pada kisaran 5.600-5.800,” tambahnya.
Herditya memperkirakan IHSG cenderung rawan terkoreksi. “IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 5.657 dan resistance di 5.722. Investor juga akan mencermati kelanjutan kebijakan The Fed serta rilis data Non-Farm Payrolls,” ujarnya.
Ia pun merekomendasikan beberapa saham yang dapat dicermati, di antaranya ANTM pada kisaran Rp2.920-Rp3.310, BRPT di rentang Rp1.580-Rp1.950, serta PGAS pada level Rp1.460-Rp1.635 per saham.
Secara historis, bulan Juli dikenal memiliki efek musiman (seasonal effect) yang cukup positif bagi bursa domestik. Sejumlah analis menilai bahwa dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun terakhir, peluang IHSG untuk ditutup menguat sepanjang bulan Juli terbilang sangat tinggi.
Secara teknikal, pergerakan indeks besok diproyeksikan akan menguji area-area krusial berikut:
| Level Teknis | Rentang Target | Keterangan |
| Support Kuat | 5.500 – 5.600 | Batas aman jika terjadi aksi ambil untung (profit taking). |
| Resistance Terdekat | 5.784 – 5.811 | Target penguatan terdekat jika tren rebound berlanjut. |
| Resistance Mayor | 5.876 – 5.950 | Target optimis jika volume beli melonjak signifikan. |
Pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan arah kebijakan moneter global. Apabila IHSG mampu bertahan di atas level 5.600 pada pembukaan esok hari, peluang untuk melanjutkan technical rebound menuju area 5.780 terbuka lebar. Namun, jika tekanan jual kembali mendominasi, pastikan untuk menjaga pembatasan risiko di level support kritis 5.486.
Beberapa saham yang dinilai menarik untuk dicermati secara teknikal (berdasarkan skenario Buy on Weakness atau momentum) untuk perdagangan esok hari antara lain saham di sektor energi dan barang baku potensial seperti ESSA, PTBA, RAJA, dan ELSA dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang ketat. ***
Disclaimer: Berita ini bersifat informasi publik berdasarkan pergerakan pasar. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.













