Ekonomi

Hadapi Tiga Ancaman Utama, IHSG Anjlok 4,5 Persen, Rupiah Terseret Dekati Rp17.000

Published

on

Hadapi Tiga Ancaman Utama, IHSG Anjlok 4,5 Persen, Rupiah Terseret Dekati Rp17.000

Pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi tekanan berat hari ini, Rabu (4/3/2026), sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah terjerembap ke zona merah. (AI)

FAKTUAL INDONESIA: Menghadapi “Triple Threat” atau tiga ancaman utama, pasar keuangan mengalami kepanikan sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah terjerembap ke zona merah, Rabu (4/3/2026).

Tiga ancaman utama yang membuat awan kelabu terus menggelayuti para investor di Tanah Air itu meliputi panasnya geopolitik Timur Tengah, efek domino bursa Asia dan koreksi peringkat internasional.

Panasnya geopolitik Timur Tengah yang dipicu ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mencapai titik krusial. Kabar Iran menutup Selat Hormuz memicu kekhawatiran dunia akan krisis pasokan energi global.

Baca Juga : Timur Tengah Masih Membara, IHSG dan Rupiah juga Tetap Memerah

Efek domino bursa Asia membuat  Indonesia tidak sendirian. Bursa Korea Selatan (Kospi) bahkan sempat melakukan trading halt setelah anjlok lebih dari 8%. Pelemahan regional ini menciptakan sentimen negatif yang kuat.

Koreksi Peringkat Internasional yaitu adanya revisi prospek (outlook) utang Indonesia menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat internasional menambah beban psikologis bagi para pelaku pasar.

Advertisement

IHSG Merosot Tajam

Setelah sempat dibuka melemah tipis, tekanan jual justru semakin liar sepanjang hari sehingga IHSG akhirnya ditutup merosot tajam sebesar 4,57% ke level 7.577,06. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 33,14 poin atau 4,11 persen ke posisi 772,44.

Ketika pembukaan, IHSG dibuka melemah 43,39 poin atau 0,55 persen ke posisi 7.896,38. Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,29 poin atau 0,41 persen ke posisi 802.31.

Baca Juga : Imbas Timur Tengah Membara: IHSG Terjun Bebas, Rupiah Ikut Terkapar

Layar bursa hari ini didominasi oleh warna merah yang mencolok:

  • 734 saham berguguran, sementara hanya 54 saham yang mampu melawan arus.
  • Seluruh sektor saham melemah, dengan sektor Barang Baku (Basic Materials) menjadi yang paling terpukul dengan koreksi mencapai 7,42%.
  • Saham-saham blue chip seperti BBCA, BMRI, dan TLKM turut terseret aksi jual investor yang cenderung mengamankan asetnya ke instrumen yang lebih aman.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy mengatakan, penurunan indeks sejalan dengan pelemahan bursa Asia seperti indeks Nikkei (Jepang), ASX (Australia), dan TAEIX (Taiwan). Bahkan, indeks Kospi Korea Selatan mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8 persen.

Dia mengatakan, apa yang terjadi pada IHSG hari ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas.

Advertisement

Baca Juga : Drama Akhir Pekan: IHSG Berhasil Comeback, Rupiah Terkapar Tertekan Ketegangan Global

“Dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat,” kata Irvan seperti dilansir idxchannel.

Selain geopolitik, sentimen negatif juga datang dari Fitch yang merevisi outlook rating surat utang Indonesia menjadi negatif. Revisi ini sejalan dengan keputusan serupa yang dilakukan lembaga pemeringkat lainnya, Moody’s dan S&P 500 yang menyoroti risiko fiskal alias APBN.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana seperti dilaporkan liputan6.com, memprediksi ke depan hingga akhir Maret, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh dua variabel utama yak i harga minyak dan stabilitas rupiah. Selama Brent bertahan di bawah USD90 per barel, tekanan kemungkinan masih sebatas volatilitas jangka pendek.

Namun jika harga minyak mendekati USD100 dan disertai gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam. Secara teknikal, area 7.500–7.600 menjadi zona penopang psikologis penting. Jika ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound bertahap ke kisaran 7.900–8.100 pada akhir Maret.

“Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400. Fase ini lebih tepat disebut sebagai periode konsolidasi dengan volatilitas tinggi, bukan perubahan tren jangka panjang, selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga,” katanya.

Advertisement

Baca Juga : Rupiah Tancap Gas Menguat Tajam, IHSG Malah Loyo Memerah

Rupiah Dekati Level Psikologis

Setali tiga uang dengan bursa saham, mata uang rupiah juga loyo. Mata uang Garuda melemah signifikan dan sempat menyentuh angka Rp16.954 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp17.000. Penguatan dolar AS yang perkasa membuat mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi kurang bertenaga.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.911 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.870 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan  sudah bergerak melemah 58 poin atau 0,34 persen menjadi Rp16.930 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.872 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, serta Lebanon.

Advertisement

Baca Juga : IHSG Rebound, Rupiah Balik Menguat, Kompak Masuk Zona Hijau Hari Ini

“Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Meski tekanan eksternal meningkat, data ekonomi domestik menunjukkan perkembangan yang relatif positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS. Surplus tersebut memperpanjang tren positif neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

“Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar 3,22 miliar dolar AS,” ujar Ibrahim seperti dilansir mediaindonesia.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan sentimen pergerakan rupiah esok hari masih akan tertuju pada gejolak global.

“Meskipun terdapat data ekonomi penting dari AS seperti ISM Services Purchasing Managers’ Index (PMI), perhatian pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan tersebut mendorong investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven,” ujarnya seperti dilansir Kontan.

Advertisement

 

Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.850 – Rp 17.000 per dolar AS pada Kamis (5/3/2026). ***

Exit mobile version