Ekonomi
Dolar Melangkah Pasti Memulai Pekan Ini, Rupiah Dibuka Melemah

Dolar awali pekan dengan pijakan kuat karena permintaan “safe-haven”
FAKTUAL-INDONESIA: Dolar Amerika Serikat memulai pekan ini dengan melangkah pasti apalagi mendapat dukungan oleh meningkatnya kekhawatiran pertumbuhan global.
Penguatan dolar AS membuat nilai tukar rupiah loyo di pasar spot tampil di awal perdagangan hari ini, Senin (16/5/2022).
Dolar mendapat pijakan kuat dari level tertinggi 20 tahun terhadap mata uang lainnya pada Senin pagi, karena investor mencari keamanan di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan global, sementara pasar uang kripto tampaknya menemukan stabilitas setelah bergejolak minggu lalu.
Indeks dolar berada di 104,54, setelah sempat melintasi level 105 pada Jumat (13/5), tertinggi sejak Desember 2002, setelah enam minggu berturut-turut naik.
Menurut pantauan media antaranews.com, investor telah berbondong-bondong ke mata uang safe-haven di tengah kekhawatiran tentang kemampuan Federal Reserve AS untuk meredam inflasi tanpa menyebabkan resesi, bersama dengan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan yang timbul dari krisis Ukraina dan dampak ekonomi dari kebijakan nol-COVID-19 China.
“Penguatan dolar AS secara luas didukung oleh meningkatnya kekhawatiran pertumbuhan global,” kata analis Barclays.
Mereka mengatakan acara yang harus diperhatikan minggu ini termasuk data ritel dan produksi AS yang akan dirilis Selasa (17/5), serta pernyataan publik dari beberapa pejabat Fed.
“Fokus akan ada pada setiap pengulangan/penangguhan potensial pada gagasan bahwa kenaikan suku bunga 75 basis poin tidak direncanakan untuk saat ini.”
Pasar memperkirakan kenaikan 50 basis poin pada dua pertemuan Fed berikutnya, menurut alat Fedwatch CME, tetapi dengan kemungkinan kenaikan yang lebih besar.
Data ritel dan produksi China yang akan dirilis pada Senin juga menjadi agenda utama.
“Prospek pertumbuhan yang lebih lemah di China kemungkinan akan membuat mata uang komoditas G10 di bawah tekanan dan mendukung dolar AS,” kata Barclays.
Euro memulai minggu dengan mendekam di dekat level terendah sejak awal 2017, menderita karena dolar yang kuat dan karena paparan ekonomi Eropa terhadap konflik Ukraina.
Mata uang tunggal berada di 1,0398 dolar pada Senin pagi, hanya sedikit di atas level 1,0354 dolar yang dicapai pada Kamis (12/5), terendah sejak awal 2017.
Ada juga banyak pidato dari pejabat tinggi Bank Sentral Eropa minggu ini untuk diperhatikan investor.
Sterling, yang telah menderita bersama dengan euro, berada di 1,2256 dolar pada Senin pagi, setelah turun serendah 1,2156 dolar minggu lalu, tertekan oleh angka PDB kuartal pertama yang lebih lemah dari yang diharapkan.
Dalam minggu mendatang, Inggris memiliki data pasar tenaga kerja, inflasi dan data kepercayaan konsumen.
Yen Jepang sedikit melemah pada Senin pagi di 129,43 yen per dolar. Pekan lalu yen mencatat kenaikan minggu pertama sejak awal Maret, karena kekhawatiran pertumbuhan berarti imbal hasil obligasi pemerintah AS menghentikan kenaikannya.
Dengan imbal hasil yang dibatasi di Jepang, yen rentan terhadap imbal hasil AS yang lebih tinggi.
Pasar kripto, yang diperdagangkan sepanjang waktu, memiliki akhir pekan yang tenang setelah bergejolak minggu lalu yang didorong oleh TerraUSD, yang disebut “stablecoin”, jatuh di bawah patok dolar-nya.
Bitcoin diperdagangkan sekitar 31.000 dolar AS setelah turun menjadi 21.400 dolar AS pada Kamis (5/5), terendah sejak Desember 2020.
Rupiah Melemah
Nilai tukar rupiah di pasar spot tampil di awal perdagangan hari ini. Senin (16/5/2022), rupiah spot dibuka di level Rp 14.648 per dolar Amerika Serikat (AS).
Ini membuat rupiah melemah 0,24% dibanding penutupan Jumat (13/5) di Rp 14.613 per dolar AS. Alhasil, rupiah pun menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia.
Hingga pukul 09.00 WIB, pergerakan mata uang di kawasan bervariasi dengan kecenderungan melemah. Dolar Singapura berada satu tingkat lebih baik dari rupiah setelah ambles 0,11%.
Selanjutnya, dolar Taiwan yang koreksi 0,03% dan dolar Hong Kong yang terlihat melemah tipis 0,001%.
Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,22%. Disusul, yen Jepang yang terangkat 0,19%.
Berikutnya, peso Filipina yang menanjak 0,07% dan baht Thailand naik 0,03%. Lalu ada yuan China yang menguat tipis 0,02% terhadap the greenback. ***














