Ekonomi
Bak Denmark di Piala Eropa, Emas Bangkit setelah Dua Hari Tertekan

Harga emas meninggi setelah lompatan “si katak” dolar AS terhenti
FAKTUALid – Harga emas menguat setelah lompatan dolar Amerika Serikat terhenti pada akhir perdagangan Senin atau Selasa (22/6/2021) WIB. Menguatnya kembali emas merupakan kebangkitan yang signifikan setelah menderita kerugian dua hari hari berturut-turut. Bahkan mengalami penurunan presentase mingguan tertinggi sejak Maret 2020.
Ketika dunia diarahkan pada pesta sepakbola di Eropa dan Amerika Latin, kenaikan emas itu bak nasib Tim Nasional Denmark yang sebelumnya terkapar, mampu bangkit Senin dengan mengalahkan Rusia. Denmark sempat tercecer setelah dikalahkan oleh Finlandia dan Belgia. Namun dengan mengalahkan Rusia, pasukan Denmark bangkit dan lolos ke babak 16 besar menemani Belgia dan melempar Finlandia.
Menurut lansiran lama antaranews.com, berhentinya reli dolar AS membantu memulihkan daya tarik logam kuning. Emas berbalik menguat dari kerugian dua hari berturut-turut dan memperoleh kembali beberapa kerugian dari penurunan persentase mingguan terbesar sejak Maret 2020.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange, melonjak 13,9 dolar AS atau 0,79 persen, menjadi ditutup pada 1.782,9 dolar AS per ounce.
Pada akhir pekan lalu, Jumat (18/6/2021), emas berjangka jatuh 5,8 dolar AS atau 0,33 persen menjadi 1.769 dolar AS per ounce. Emas telah kehilangan 5,9 persen selama minggu lalu, penurunan terbesar sejak pekan yang berakhir 13 Maret 2020.
Baca juga: Emas jatuh 5,8 dolar terpukul reli “greenback” setelah pengumuman Fed
Emas berjangka terjun 86,6 dolar AS atau 4,65 persen menjadi 1.774,80 dolar AS pada Kamis (17/6/2021), setelah naik 5 dolar AS atau 0,27 persen menjadi 1.861,40 dolar AS pada Rabu (16/6/2021), dan tergelincir 9,5 dolar AS atau 0,51 persen menjadi 1.856,40 dolar AS pada Selasa (15/6/2021).
Emas agak oversold setelah penurunan tajam menyusul nada hawkish Federal Reserve pekan lalu, menurut analis pasar.
“Orang-orang menggunakan koreksi (pekan lalu) untuk membeli emas, pada tingkat harga ini, ada nilai untuk menahan posisi emas, terutama untuk jangka panjang,” kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.
Harga emas anjlok minggu lalu karena Federal Reserve AS mengisyaratkan segera mulai mengurangi pembelian asetnya dan dapat mulai menaikkan suku bunga pada 2023.
Baca juga: Dolar lanjut reli setelah Fed indikasikan suku bunga naik lebih cepat
Tetapi indeks dolar telah mundur dari tertinggi 2,5 bulan, mendorong investor untuk beralih ke emas. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun AS naik dari level terendah empat bulan, meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga menahan kenaikan emas lebih lanjut.
Bank of America Global Research mengatakan bahwa dengan Fed yang lebih hawkish, risiko kenaikan suku bunga riil akan membuat harga emas dibatasi hingga akhir tahun.
Namun demikian, Streible memperkirakan emas akan melayang di atas 1.800 dolar AS per ounce, mengutip dolar “overbought”, pembelian obligasi lanjutan Fed dan suku bunga yang tidak akan naik dalam waktu dekat.
Pelaku pasar sekarang akan mendengarkan pidato di kongres dari sejumlah pejabat bank sentral AS, termasuk Ketua Fed Jerome Powell, yang akan berbicara pada Selasa waktu setempat.
Presiden Fed St. Louis James Bullard dan Presiden Fed Dallas Rob Kaplan mengatakan pada Senin (21/6/2021) selama webinar yang disponsori oleh Official Monetary and Financial Institutions Forum bahwa mereka memperkirakan inflasi tinggi bertahan pada 2022 di atas target bank sentral 2,0 persen, dan pada tingkat yang lebih kuat daripada banyak rekan mereka memprediksi.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 5,6 sen atau 0,22 persen, menjadi ditutup pada 26,025 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik 9,6 dolar, atau 0,92 persen, menjadi ditutup pada 1,050,6 dolar per ounce. ***












