Internasional
Mojtaba Khamenei Ultimatum, Tanda Tangan Trump Tidak Berharga, Iran akan Beri Pelajaran Tak Terlupakan

Perang Teluk akan makin meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei memberi ultimatum, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak berhrga lagi dan Iran siap memberi serangan pelajaran yang tak terlupakan. (Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESI: Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyebut tanda tangan Presiden Trump “sama sekali tidak berharga dan tanpa kredibilitas” serta memperingatkan akan adanya “pelajaran yang tak terlupakan” jika AS terus melanjutkan serangannya.
“Sekarang musuh Amerika berupaya meningkatkan konflik sehingga menimbulkan biaya yang lebih besar dan penghinaan lebih lanjut, mereka harus tahu bahwa bangsa Iran yang mulia dan Front Perlawanan memiliki pelajaran yang tak terlupakan untuk mereka,” kata Khamenei dalam sebuah pernyataan. .
Seperti dilansir CBS News, Mojtaba Khamenei adalah putra dari mantan ayatollah, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan besar-besaran oleh AS dan Israel pada hari pertama perang. Mojtaba Khamenei hingga kini belum terlihat di depan umum sejak perang dimulai. Ia dilaporkan mengalami luka serius dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Baca Juga : Mojtaba Khamenei Bersumpah Membalas Dendam Kematian Ayahnya, Trump Ancam Musnahkan Wilayah Iran
“Pelanggaran berulang terhadap kesepakatan oleh Setan Besar [AS] terkait Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh Presiden Iran dan AS sekali lagi telah mengungkap kebenaran mendasar: tanda tangan Presiden AS sama sekali tidak berharga dan tidak memiliki kredibilitas,” kata Khamenei dalam pernyataan yang dibacakan oleh juru bicara di televisi pemerintah Iran.
Tidak jelas apa yang dimaksud ayatollah dengan memberi pelajaran yang tak terlupakan kepada AS, tetapi kekuatan militer AS telah sangat melemah akibat serangan Amerika. AS terpaksa melakukan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz, yang secara efektif menutup jalur minyak utama, serta serangan pesawat tak berawak dan rudal terhadap sekutu AS di Timur Tengah.
Pemimpin tertinggi yang baru terakhir kali mengeluarkan pernyataan seminggu yang lalu, pada 11 Juli, ketika AS kembali memulai serangan intensif terhadap Iran dan Trump mengatakan bahwa nota kesepahaman itu telah gagal.
Baca Juga : Iran Peringatkan Amerika dan Israel Tidak Menyerang Selama Pemakaman Ayatollah Khamenei, Mojtaba Khamenei Tidak Hadir
Tangguhkan Komitem Kesepakatan
Iran mengatakan telah menangguhkan komitmennya berdasarkan kesepakatan perdamaian sementara dengan AS setelah kedua negara saling melancarkan serangan yang menargetkan infrastruktur dan situs militer.
“AS telah melanggar komitmennya berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani sekitar sebulan lalu dan sekarang Iran “tidak lagi melaksanakannya,” kata Kazem Gharibabadi, wakil menteri luar negeri Iran, kepada televisi pemerintah.
Pengumuman itu sebagian besar tidak perlu karena Presiden Trump mengatakan pekan lalu bahwa kesepakatan itu telah gagal, namun, Iran mengklaim masih tertarik untuk kembali ke nota kesepahaman 14 poin tersebut, bahkan ketika negara itu menargetkan sekutu AS di Timur Tengah dan kapal-kapal di Selat Hormuz.
Reza Amiri Moghadam, duta besar Iran untuk Pakistan, yang merupakan mediator utama dalam proses negosiasi, menyampaikan komentar serupa dengan Gharibabadi pada hari Sabtu.
Baca Juga : Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Bikin Presiden Trump Makin Frustrasi
“AS menafsirkan MOU bertentangan dengan ketentuannya dan menguasai sebagian Selat Hormuz untuk mendapatkan apa yang tidak bisa mereka peroleh di medan perang,” kata Moghadam di X. “Jelas bahwa pihak Iran tidak akan menerima interpretasi sewenang-wenang ini yang secara terang-terangan melanggar MOU.”
“Sekarang, AS telah memulai perang yang bertentangan dengan ketentuan MOU dan prinsip-prinsip internasional, menghancurkan infrastruktur,” tambahnya. “Masyarakat internasional diharapkan untuk mengutuk keras tindakan agresif dan sembrono ini.”
Baca Juga : Trump Sesumbar, Amerika Siap Menyerang Lagi tetapi Iran Menginginkan Kesepakatan
50 Orang Tewas
Jumlah korban tewas akibat serangan AS di Iran dari tanggal 27 Juni hingga 18 Juli telah meningkat menjadi 50 orang, dengan lebih dari 500 orang juga terluka, menurut Hossein Kermanpour, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran.
Lima wanita dan dua anak termasuk di antara korban tewas, katanya, sementara 32 wanita dan 18 anak mengalami luka-luka. Tiga puluh tujuh orang masih dirawat di rumah sakit, tambah Kermanpour.
Amerika Serikat mengakhiri malam ketujuh berturut-turut dengan serangan udara pada hari Sabtu. Sebagian besar serangan tersebut terjadi di bagian selatan negara itu. ***












