Connect with us

Internasional

Lalu Lintas Selat Hormuz Masih Terbatas Meski Gencatan Senjata Iran–AS Berlaku

Diterbitkan

pada

Selat Hormuz hingga kini masih terbatas, belum bisa dilalui secara bebas. (Foto : istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA :  Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terbatas meski Iran dan Amerika Serikat telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.

Data dari Kpler menunjukkan hanya 12 kapal yang melintas sejak kesepakatan diumumkan pada Selasa (8/4/2026). Pada hari pertama, tercatat lima kapal melintas, disusul tujuh kapal pada hari berikutnya yang terdiri dari empat kapal tanker dan tiga kapal curah.

Jumlah tersebut masih jauh di bawah kondisi normal. Dalam situasi stabil, lebih dari 100 kapal biasanya melintasi jalur strategis ini setiap hari, yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Pemerintah Iran menyatakan tetap membuka jalur pelayaran selama masa gencatan senjata, namun seluruh kapal diwajibkan berkoordinasi dengan militer. Kebijakan ini menegaskan bahwa Iran masih mengontrol ketat lalu lintas di selat tersebut.

Salah satu insiden yang mencerminkan situasi tersebut melibatkan kapal tanker LNG berbendera Botswana, Nidi, yang sempat mencoba keluar dari Teluk Persia namun kemudian berbalik arah. Data pelacakan menunjukkan kapal itu mengikuti rute yang diarahkan oleh Garda Revolusi Iran sebelum akhirnya kembali.

Advertisement

Kekhawatiran juga muncul terkait sejumlah kapal yang diduga melintas tanpa mengaktifkan sistem pelacakan. Sementara itu, data Lloyd’s List Intelligence mencatat lebih dari 600 kapal, termasuk 325 tanker, masih tertahan di kawasan Teluk akibat gangguan tersebut.

Analis risiko perdagangan dari Kpler, Ana Subasic, menilai pelaku industri pelayaran masih bersikap hati-hati. Ia memperkirakan jumlah kapal yang melintas harian hanya berkisar 10 hingga 15 unit dalam waktu dekat, meskipun gencatan senjata terus berlangsung.

Selat Hormuz sendiri dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Sebelum ketegangan meningkat pada akhir Februari 2026, jalur ini mencatat sekitar 120 hingga 140 pergerakan kapal per hari.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik langkah Iran yang dinilai membatasi akses pengiriman minyak. Ia juga menegaskan praktik pungutan terhadap kapal tidak dapat diterima.

Gedung Putih mendukung pembukaan kembali jalur tersebut secara penuh, namun menolak kebijakan Iran yang berpotensi membebani kapal dengan biaya tambahan.

Advertisement

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Amerika Serikat tidak sepenuhnya mematuhi kesepakatan gencatan senjata dan meminta kejelasan komitmen Washington untuk menjaga stabilitas kawasan.

Analis maritim C Uday Bhaskar menilai situasi di Selat Hormuz masih diliputi ketidakpastian tinggi. Ia menyebut kekhawatiran utama pelaku industri saat ini adalah aspek keselamatan, termasuk potensi ancaman ranjau di perairan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata telah disepakati, stabilitas jalur pelayaran global masih jauh dari pulih sepenuhnya.***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement