Connect with us

Lapsus

Patah Sayap, Garuda Jangan ‘Diamputasi’

Diterbitkan

pada

Foto ilustrasi: Istimewa

FAKTUALid – PT Garuda Indonesia diterpa badai krisis. Kondisi perusahaan yang sedang merugi membuat burung besi sulit terbang tinggi. Tapi jangan sampai lantaran sayap garuda yang patah  perusahaan yang diamputasi.

Sebagai perusahaan penerbangan nomor satu di negeri ini kita harus bangga dengan Garuda Indonesia. Betapa tidak, Garuda Indonesia sudah menjelajahi angkasa ke berbagai belahan dunia sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Dan ditumpangi oleh warga dunia yang berpergian menggunakan jasa penerbangan punya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini.

Tentu masih segar dalam ingatan kita, ketika beberapa tahun lalu Garuda Indonesia sempat menjadi co-sponsor klub sepakbola Liverpool, dan logo Garuda Indonesia terpampang di pinggir Stadion Anfield, stadion kebanggaan The Reds.

Saat Liverpool menjadi tuan rumah kompetisi Liga Premier Inggris, mata dunia tak lepas mengamati logo Garuda Indonesia. Hati siapa pun tergetar, karena nun jauh di negeri Kerajaan Ratu Elizabeth Garuda Indonesia berkibar di sisi lapangan.

Tapi itu dulu. Kini Garuda sedang sakit. Perusahaan itu sedang merugi sejak pandemi Covid-19 melanda negeri ini, yang jumlahnya mencapai Rp70 triliun, sehingga perlu diselamatkan.

Advertisement

Ini sudah bulan Juni 2021. Konon hingga kini belum ada laporan keuangan 2020. Per September 2020, pandemi Covid-19 membuat Garuda kembali membukukan kerugian mencapai US$ 1,07 miliar (Rp 15,58 triliun, asumsi kurs Rp 14.500/US$) pada akhir kuartal ketiga 2020 lalu.

Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan telah membukukan laba bersih senilai US$ 122,42 juta.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, faktor utama kerugian ini lantaran pendapatan yang turun drastis mencapai 67,83% year on year (YoY) menjadi sebesar Rp 1,13 miliar (Rp 16,51 triliun) pada akhir September lalu. Turun dari pendapatan di akhir September 2019 yang senilai US$ 3,54 miliar.

Penurunan paling besar terjadi pada pendapatan penerbangan berjadwal yang turun menjadi US$ 917,28 juta dari sebelumnya US$ 2,79 juta.

Namun kerugian Garuda paling besar tak melulu karena pergerakan terbang yang berkurang. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memaparkan bahwa alasan menumpuknya utang PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) hingga mencapai Rp 70 triliun disebabkan karena biaya sewa (leasing) pesawat yang di luar batas wajar.

Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo menyebut beberapa tipe pesawat yang menyebabkan kenaikan biaya-biaya tersebut.
“Memang permasalahan utama Garuda di masa lalu, karena leasing-leasing (sewa pesawat) melebihi cost yang wajar dan jenis pesawatnya terlalu banyak. Contoh ada Boeing 737, Boeing 777, Airbus A320, A330, ATR, dan Bombardier. Ini efisiensinya bermasalah, ditambah rute yang banyak diterbangi itu tidak profitable,” kata Kartika dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi IV DPR RI, Kamis (3/6/2021).

Advertisement

Kondisi ini membuat Komisaris Garuda Indonesia Peter Gontha sangat prihatin melihatnya. Ia sedih melihat kondisi perusahan penerbangan plat merah yang tampak seperti hidup segan mati tak mau.

Kegelisahan Peter Gontha dituangkannya dalam akun media sosial Instagram dan Facebook miliknya. Di Medsos tersebut Peter kerap mengungkapkan kegundahan hatinya. Ia sempat membandingkan dengan perusahaan-perusahaan penerbangan swasta lainnya yang lolos dari krisis saat pandemi ini. Salah satunya ia menyebut Lion Air.

“Hebat Manajemen Lion Air Pilot digaji Rp14.000.000. Kalau terus mau kerja, kalau tidak dipersilahkan berhenti, Demikian juga Air Asia, Max Rp30 juta. Untuk menyelamatkan perusahaan, untuk kepentingan yang lebih besar, agar perusahaan bisa jalan terus karena pegawai bukan hanya pilot. Memang perlu kepemimpinan yang tegas,” demikian bunyi tulisannya di FB miliknya.

Karena suaranya tak didengar manajemen Garuda, Peter pun membeberkan bobrok Garuda di akun medsosnya IG dan FB  pada 30 Mei 2021. Banyak yang dikeluhkannya. Mulai dari asumsi Garuda akan dibangkrutkan hingga pensiun dini karyawan.

Bahkan katanya, ada yang mewacanakan CITILINK sebagai anak perusahaan Garuda dibeli oleh PENAS, melalui surat resmi, dan GARUDA dibubarkan saja. 
“Siapa orangnya yang mewacanakan itu sementara tidak akan saya sebut,” tulisnya lagi.

Advertisement

Peter mengaku sebagai anggota dewan komisaris ia kaget-kaget membaca surat-surat dan mendengar berita berita seperti itu. Namun, katanya, dapat dipastikan bahwa dia sebagai wakil pemegang saham publik (bukan independen) tidak setuju dengan narasi-narasi  dan ide-ide tersebut. 
Peter mengatakan Garuda tidak boleh dibangkrutkan. Pemerintah bersama pemegang saham lain harus bisa menyelamatkan Garuda. Bagaimana pun, perusahaan pernerbangan ini memiliki sejarah panjang yang tak boleh dihapus dengan alasan apa pun.

Karenanya di samping kesalahan manajemen selama 20 tahun terakhir, ia meminta BPK, KPK, Kejaksaan, Kepolisian atau siapapun untuk  melakukan audit forensik mengenai korupsi yang terjadi di Garuda selama ini.
Sejumlah pertanyaan yang muncul dalam pikirannya adalah  mengapa harga sewa pesawat Garuda bisa hampir dua kali lebih mahal dari harga sewa penerbangan lain.

Kemudian mengapa sampai terjadi pembelian pesawat-pesawat yang salah dan tidak tepat untuk tujuannya. Mengapa terjadi banyak hal yang tidak effisien di Garuda, dan masih banyak hal lainnya.

“Saya terpaksa, dengan risiko, menulis ini di media sosial karena masih banyak opsi lain yang kami usulkan terutama untuk awak pesawat yang tidak didengar oleh pihak2 tertentu. Saya menulis ini, dengan risiko diminta berhenti dari jajaran  Komisaris, tapi tidak apa, agar saya bisa lebih lagi membuka kesalahan yang di-‘sengaja’ maupun tidak disengaja diperusahaan yang kita cintai dan banggakan ini,” ungkap Peter. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement