Olahraga
Malang, di Antara Kartu dan Kenangan

Michael Bambang Hartono mungkin tidak duduk di meja pertandingan kali ini di Malang namun jejaknya terasa di setiap langkah para pemain yang datang. (Ist)
Oleh : Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Di sebuah kota yang dipeluk udara sejuk, langkah terasa lebih pelan, napas terasa lebih panjang. Malang bukan sekadar tempat yang dituju — ia adalah suasana yang perlahan meresap, bahkan sebelum kita benar-benar menyadarinya.
Pada tanggal 10–12 April 2026, para pemain akan datang membawa strategi, insting, dan pengalaman menuju 3rd BTC Bridge Tournament. Di atas meja hijau, setiap kartu akan berbicara. Setiap keputusan akan menentukan cerita.
Namun di luar itu, Malang telah lebih dulu menyiapkan kisahnya sendiri.
Di sela-sela konsentrasi dan perhitungan, kota ini menawarkan jeda—hening yang tidak kosong, melainkan penuh. Jalan-jalan rindang yang seolah mengerti bahwa tidak semua hal harus terburu-buru. Angin yang berembus pelan, seakan mengingatkan bahwa bahkan dalam kompetisi, ada ruang untuk merasa.
Tak jauh dari hiruk turnamen, alam Malang membentangkan dirinya dengan cara yang nyaris puitis. Matahari terbit di Bromo, seolah mengajarkan tentang harapan yang selalu kembali. Ombak di pantai selatan, tentang keteguhan yang tak pernah lelah. Dan kota Batu, tentang kegembiraan yang sederhana namun tulus.
Semuanya hadir, tidak untuk dilihat sekilas, tetapi untuk dirasakan.
Lalu ada rasa—yang tidak hanya hadir di lidah, tetapi juga di ingatan. Semangkuk bakso hangat di malam hari, rawon dengan kuah hitam yang dalam seperti cerita lama, atau ketan manis yang dinikmati di tengah tawa ringan setelah hari panjang.
Kuliner di Malang bukan sekadar makanan. Ia adalah pertemuan—antara lelah dan lega, antara asing dan akrab.
Dan di antara semua itu, ada satu ruang yang terasa berbeda tahun ini.
Sebuah kehadiran yang seharusnya ada.
Sebuah sosok yang, jika sehat, hampir pasti berada di antara kita—menyapa dengan hangat, memperhatikan dengan tenang, dan diam-diam memastikan semuanya berjalan baik.
Michael Bambang Hartono.
Ia mungkin tidak duduk di meja pertandingan kali ini. Namun jejaknya terasa di setiap langkah para pemain yang datang. Dalam semangat yang dibawa, dalam dedikasi yang terlihat, dan dalam kebersamaan yang terbangun.
Bahwa Djarum Bridge Club mengirimkan empat tim bukan sekadar partisipasi. Itu adalah cerminan dari apa yang selama ini ia bangun—komitmen, kecintaan, dan keyakinan bahwa bridge adalah lebih dari sekadar permainan.
Ia adalah rumah.
Maka mungkin, di antara kartu-kartu yang dibagikan, ada kenangan yang ikut terselip.
Di antara bidding dan permainan, ada rasa hormat yang tak terucapkan.
Malang menjadi saksi—bahwa meski tidak semua kehadiran bisa terlihat, beberapa tetap terasa begitu nyata.
Ketika turnamen usai, dan kartu-kartu kembali tersimpan, mungkin yang tertinggal bukan hanya hasil pertandingan. Tetapi juga rasa—bahwa kita pernah berjalan bersama, bahkan dengan mereka yang kini hadir dalam cara yang berbeda.
Dan di antara kartu dan kenangan,
ada nama yang tidak pernah benar-benar pergi.
Semoga teman-teman bridge dari Asean akan meramaikan event ini.
“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Bapak Michael Bambang Hartono Beliau bukan hanya seorang pionir dalam dunia bisnis, tetapi juga seorang inspirasi bagi kita semua. Warisan dan kebaikannya akan selalu dikenang.
BTC Malang. ***













