Olahraga
Kejayaan Tenis dan Bridge Kawanua Melalui Sinergi POR Maesa-KKK

Dengan dukungan jaringan KKK, pengalaman para senior, serta pembinaan yang terarah oleh POR Maesa, mimpi mengembalikan kejayaan olahraga Kawanua bukanlah sesuatu yang mustahil. (Ist)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Pertanyaan mendasar yang dilontarkan Ketua Umum PB POR Maesa, Letjen (Purn) Johny J. Lumintang, dalam Musyawarah Keluarga Besar (MKB) POR Maesa 2025 sesungguhnya menyentuh inti persoalan organisasi olahraga komunitas yang telah berusia lebih dari satu abad: apakah POR Maesa harus fokus pada pembinaan atlet usia muda demi prestasi, atau tetap menjadi wadah olahraga rekreasi dan kebersamaan bagi warga Kawanua?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar diskusi organisasi, melainkan penentu arah masa depan salah satu organisasi olahraga tertua milik masyarakat Minahasa yang berdiri sejak tahun 1924 di Bandung. Namun sesungguhnya, pilihan itu tidak perlu dipertentangkan. POR Maesa tidak harus memilih salah satu. Justru kekuatan POR Maesa terletak pada kemampuannya menjembatani keduanya.
Bagi masyarakat Sulawesi Utara di perantauan, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik. Olahraga adalah media pemersatu, ruang silaturahmi, sekaligus simbol kebanggaan identitas Tou Kawanua. Karena itu, sinergi antara POR Maesa dan Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) menjadi kunci untuk menjawab dilema tersebut.
Make POR Maesa Great Again
Dalam MKB POR Maesa 2025, mantan Gubernur Sulawesi Utara Ir. Lucky Harry Korah, M.Si. melontarkan sebuah tantangan yang menggugah semangat seluruh warga Kawanua: “Make POR Maesa Great Again.”
Ajakan tersebut bukan sekadar slogan. Ia merupakan seruan untuk mengembalikan POR Maesa sebagai barometer pembinaan olahraga warga Kawanua sebagaimana pada masa kejayaannya.
Lucky mengingatkan bahwa POR Maesa pernah melahirkan banyak atlet nasional dan internasional yang mengharumkan nama Indonesia. Karena itu, momentum usia organisasi yang telah mencapai 101 tahun harus dijadikan titik kebangkitan baru, bukan sekadar perayaan sejarah.
Tantangan tersebut mendapat dukungan dari berbagai tokoh Kawanua, termasuk Wakil Ketua Umum POR Maesa Irjen Pol (Purn) Carlo Brix Tewu, Pembina POR Maesa Komjen Pol (Purn) Petrus Reinhard Golose, serta Ketua Umum KKK Angelica Tengker yang secara terbuka menyatakan kesiapan KKK untuk bersinergi dengan POR Maesa dalam membangkitkan kembali olahraga Kawanua.
Romantisme Masa Lalu: Saat Nama Kawanua Mengguncang Dunia
Sejarah mencatat betapa dominannya atlet-atlet asal Sulawesi Utara yang lahir dari lingkungan POR Maesa.
Di lapangan tenis, masyarakat Indonesia pernah memiliki Lany Kaligis, legenda tenis nasional yang meraih medali emas Asian Games 1966 dan berhasil menembus semifinal ganda putri Wimbledon. Prestasi tersebut hingga kini masih menjadi salah satu pencapaian terbesar petenis Indonesia.
Nama besar lainnya seperti Ronny Paslah, Yolanda Soemarno hingga Christopher Rungkat menunjukkan bahwa tradisi tenis Kawanua memiliki akar yang sangat kuat.
Sementara di dunia bridge, masyarakat Kawanua juga pernah menjadi kekuatan yang diperhitungkan dunia. Duet maestro Henky Lasut dan Eddy Manoppo mengukir sejarah dengan menjadi Juara Dunia Bridge kategori pasangan senior pada tahun 2014 di China.
Prestasi tersebut membuktikan bahwa kecerdasan, disiplin, dan budaya kompetitif masyarakat Sulawesi Utara mampu menghasilkan atlet kelas dunia, baik dalam olahraga fisik maupun olahraga intelektual.
Sayangnya, kejayaan tersebut kini lebih sering menjadi cerita nostalgia daripada kenyataan yang terus berlanjut. Estafet regenerasi belum berjalan sekuat yang diharapkan.
Menjawab Dilema: Olahraga Fun sebagai Hulu, Prestasi sebagai Hilir
Salah satu gagasan menarik yang muncul dalam diskusi MKB POR Maesa adalah perlunya membedakan cabang olahraga yang diarahkan pada prestasi dan cabang olahraga yang berfungsi sebagai sarana rekreasi komunitas.
Namun pemisahan tersebut tidak berarti keduanya berjalan sendiri-sendiri.
Justru olahraga rekreasi dapat menjadi fondasi bagi lahirnya olahraga prestasi.
KKK memiliki jaringan warga Kawanua yang sangat luas di berbagai kota di Indonesia bahkan luar negeri. Potensi sosial ini dapat menjadi modal utama untuk membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan.
- Olahraga Rekreasi Sebagai Magnet Komunitas
Melalui turnamen tenis, bridge, golf, bulutangkis, maupun kegiatan olahraga lainnya yang bersifat kekeluargaan, KKK dapat mengumpulkan para profesional, pengusaha, tokoh masyarakat, dan warga Kawanua lintas generasi.
Fungsi kegiatan ini bukan hanya menjaga kesehatan dan mempererat persaudaraan, tetapi juga membangun jejaring dukungan yang dapat menjadi sumber pembiayaan pembinaan atlet muda.
- Olahraga Prestasi Sebagai Target Jangka Panjang
Dana, fasilitas, dan jaringan yang lahir dari kegiatan rekreasi tersebut kemudian diarahkan oleh POR Maesa untuk:
- Pembinaan usia dini.
- Beasiswa atlet berbakat.
- Pelatihan pelatih dan wasit.
- Pengiriman atlet ke kejuaraan nasional maupun internasional.
- Program latihan jangka panjang.
Dengan demikian, olahraga rekreasi menjadi sumber energi yang menopang lahirnya prestasi.
Fokus pada Cabang Unggulan
Meskipun POR Maesa saat ini membina 15 cabang olahraga, langkah strategis yang lebih realistis adalah memprioritaskan cabang-cabang yang memiliki akar sejarah kuat dalam komunitas Kawanua.
Dalam konteks ini, tenis dan bridge layak menjadi prioritas utama.
Alasannya sederhana:
- Memiliki tradisi prestasi internasional.
- Memiliki figur panutan yang jelas.
- Relatif mudah membangun sistem pembinaan.
- Didukung oleh komunitas yang masih aktif hingga saat ini.
Keberhasilan di satu atau dua cabang unggulan akan menciptakan efek psikologis yang besar bagi kebangkitan POR Maesa secara keseluruhan.
Langkah Strategis Kolaborasi KKK dan POR Maesa
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, setidaknya diperlukan tiga program konkret:
- Sistem Scouting Terpadu
KKK berperan sebagai jaringan pencari bakat di Sulawesi Utara maupun komunitas Kawanua di perantauan.
POR Maesa kemudian menjadi pusat pembinaan dan pengembangan teknis atlet yang teridentifikasi memiliki potensi.
- Revitalisasi Turnamen Tradisional
Turnamen seperti Maesa Open harus kembali menjadi ajang bergengsi dengan kategori usia dini, junior, dan senior.
Tujuannya bukan hanya mencari juara, tetapi menciptakan jalur kompetisi yang berkesinambungan.
- Sentra Latihan Bersama
Menghidupkan kembali model pembinaan seperti masa kejayaan OICO Bridge Maesa maupun pusat latihan tenis Kawanua dengan dukungan tokoh-tokoh Kawanua di Jakarta, Manado, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya.
Fasilitas latihan yang terintegrasi akan mempercepat proses regenerasi atlet.
Momentum 101 Tahun POR Maesa
Pergantian kepengurusan yang terjadi dalam MKB 2025 serta masuknya energi baru dari berbagai tokoh Kawanua harus dimanfaatkan sebagai momentum transformasi organisasi.
Komitmen Ketua Umum KKK Angelica Tengker untuk bersinergi dengan POR Maesa menjadi sinyal positif bahwa organisasi sosial dan organisasi olahraga Kawanua kini memiliki visi yang sama.
Dengan dukungan jaringan KKK, pengalaman para senior, serta pembinaan yang terarah oleh POR Maesa, mimpi mengembalikan kejayaan olahraga Kawanua bukanlah sesuatu yang mustahil.
Kesimpulan
POR Maesa tidak perlu memilih antara olahraga rekreasi atau olahraga prestasi. Keduanya justru harus berjalan berdampingan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Olahraga rekreasi menghidupkan komunitas, mempererat persaudaraan, dan menggalang sumber daya. Sementara olahraga prestasi melahirkan kebanggaan, inspirasi, dan identitas kolektif masyarakat Kawanua.
Semangat “Make POR Maesa Great Again” bukan sekadar slogan nostalgia. Ia adalah panggilan untuk membangun kembali sistem pembinaan yang mampu melahirkan generasi baru penerus Lany Kaligis di lapangan tenis serta penerus Henky Lasut dan Eddy Manoppo di meja bridge.
Apabila KKK dan POR Maesa mampu berjalan beriringan, maka kejayaan olahraga Kawanua tidak akan berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan kembali hadir sebagai kenyataan yang membanggakan generasi mendatang. ***














