Connect with us

Nasional

Menag Nasaruddin Apresiasi LPOI yang Himpun 14 Ormas Islam, Sambut Positif Inisiatif MALAYA

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menerima kunjungan KH Said Aqiel Siradj bersama jajaran Pengurus Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) di Masjid Istiqlal, Senin (13/4/2026). (Kemenag)

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menerima kunjungan KH Said Aqiel Siradj bersama jajaran Pengurus Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) di Masjid Istiqlal, Senin (13/4/2026). (Kemenag)

FAKTUAL INDONESIA: Bertempat di Masjid Istiqlal pada Senin (13/4/2026) dalam waktu yang berbeda, Menteri Agama (Menag) menerima kunjungan Pengurus Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA).

Dalam pertemuan dengan KH Said Aqiel Siradj bersama Pengurus LPOI, Menag Nasaruddin mengapresiasi LPOI yang berhasil menghimpun 14 ormas Islam. Menag menekankan urgensi sinergi antar-ormas agar seluruh komponen dapat tumbuh bersama dalam satu sistem yang solid dan berdampak.

Sedangkan saat menerima audiensi pengurus Yayasan MALAYA, Nasaruddin menyambut  positif inisiatif MALAYA yang dinilai sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama (Kemenag) dalam memperkuat kesadaran ekologis berbasis nilai agama. Menurutnya, pendekatan keagamaan memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Ormas-ormas Islam harus bisa besar dalam satu sistem agar seluruh komponen dapat tumbuh bersama. LPOI akan sangat powerful jika berkolaborasi” kata Nasaruddin.

Seperti dikutip dari laman Kemenag, LPOI memaparkan sejumlah agenda strategis kepada Menteri Agama, di antaranya adalah rencana Pendirian Lazis (Lembaga Amil Zakat, Infaq, Sedekah) dan Universitas Islam Teknologi Siber. Saat ini tercatat ada 14 Ormas Islam yang tergabung dalam LPOI dan Tersebar di berbagai Provinsi di Indonesia.

Advertisement

Terkait rencana pembentukan LAZIS, Nasaruddin menyatakan dukungan penuh sekaligus mengingatkan agar tidak menunda pemenuhan persyaratan administratif yang diperlukan. Menag juga menegaskan agar LPOI dapat berkonsentrasi pada program pengembangan wakaf, mengingat besarnya potensi wakaf yang belum teroptimalkan di Indonesia.

Untuk gagasan pendirian universitas, Nasaruddin menyarankan agar LPOI tidak membatasi diri pada konsep berbasis Teknologi Siber semata, melainkan langsung mendirikan universitas dengan berbagai program studi yang dapat memperluas manfaat bagi umat.

Turut hadir pada acara tersebut, Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu bersama Sekretaris LPOI Imam Pituduh dan jajaran pengurus lainnya.

Urgensi Pendekatan Keagamaan

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menerima udiensi pengurus Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA) di Masjid Istiqlal, Jakarta. Senin (13/4/2026). (Kemenag)

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menerima udiensi pengurus Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA) di Masjid Istiqlal, Jakarta. Senin (13/4/2026). (Kemenag)

Menag  Nasaruddin Umar menekankan peran strategis pendekatan keagamaan dalam membangun kesadaraan kolektif terkait pelestarian lingkungan. Sejalan dengan itu, Kementerian Agama terus melakukan penguatan kesadaran ekologis baik melalui pendidikan agama dan keagamaan maupun bimbingan kemasyarakatan.

Hal ini disampaikan Menag saat menerima audiensi Yayasan Alam Melayu Sriwijaya (MALAYA), sebuah lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan, kemelayuan, keislaman, pendidikan, dan lingkungan hidup. Audiensi tersebut membahas rencana penyelenggaraan seminar nasional bertema keislaman, spiritualitas, dan lingkungan (ekoteologi) yang akan digelar di Palembang bekerja sama dengan UIN Raden Fatah Palembang.

Advertisement

Menag menyambut positif inisiatif MALAYA yang dinilai sejalan dengan arah kebijakan Kemenag dalam memperkuat kesadaran ekologis berbasis nilai agama. Menurutnya, pendekatan keagamaan memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Palembang mayoritas entitasnya adalah Melayu. Saya rasa ini sangat cocok dengan program ekoteologi yang sedang kita gencarkan,” ujarnya.

Nasaruddin menambahkan bahwa gerakan berbasis kultural dan keagamaan seperti ini memiliki potensi besar dalam menanamkan kesadaran ekologis yang lebih membumi dan berkelanjutan.

Ia  juga menekankan pentingnya mendorong transformasi pemahaman keagamaan dari sekadar aspek ritual menuju praktik yang berdampak nyata bagi kehidupan, termasuk dalam menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, nilai keimanan tidak hanya berhenti pada dimensi spiritual personal, tetapi harus hadir dalam bentuk tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan.

“Saya mendukung dan menyukai perubahan seperti ini. Kegiatannya mandiri dan berdampak besar bagi lingkungan,” tegasnya.

Advertisement

Lebih lanjut, Nasaruddin menilai bahwa penguatan ekoteologi dapat menjadi pintu masuk dalam membangun kesadaran baru bahwa krisis lingkungan bukan semata persoalan teknis, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Karena itu, keterlibatan institusi keagamaan, akademik, dan masyarakat sipil menjadi kunci dalam memperluas jangkauan gerakan ini.

Rencana seminar nasional yang diinisiasi MALAYA diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga melahirkan gagasan dan langkah konkret dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan upaya pelestarian lingkungan. Kolaborasi ini sekaligus mempertegas pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjawab tantangan ekologis yang semakin kompleks.

Dengan menjadikan ekoteologi sebagai agenda prioritas, Kemenag menegaskan peran strategis agama dalam merespons isu-isu kontemporer, termasuk krisis lingkungan. Melalui pendekatan ini, nilai keimanan diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab etis dalam menjaga bumi sebagai amanah bersama. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement