Connect with us

Lifestyle

Sarinah Dibuka, Relief Patung Bersejarah Jadi Ajang Selfie

Diterbitkan

pada

Pusat perbelanjaan tertua Sarinah sudah dibuka untuk umum sejak 21 Maret lalu setelah selesai direnovasi

Pusat perbelanjaan tertua Sarinah sudah dibuka untuk umum sejak 21 Maret lalu setelah selesai direnovasi

FAKTUAL-INDONESIA: Meski belum melakukan grand opening, pusat perbelanjaan tertua Sarinah sudah dibuka untuk umum sejak 21 Maret lalu setelah selesai direnovasi. Masyarakat pun terlihat antusias mengunjungi mal yang berlokasi di jantung ibukota Jakarta tersebut.

Kini Sarinah tidak lagi terkesan tua, bangunan dibuat lebih modern dan banyak taman di kiri-kanan dan depan gedung. Bahkan, pengunjung bisa bebas duduk-dudk manis serta nongkrong di pelataran Sarinah.

Makanya, tak jarang banyak terlihat sejumlah anak-anak muda nongkrong di depan pelataran Sarinah, entah itu sekadar ngobrol dengan teman-temannya atau sedang menuggu teman lain.

Selain memiliki area taman untuk tempat nongkrong, Sarinah juga kembali memamerkan patung relief peninggalan Presiden Soekarno menjadi ajang untuk berfoto dan selfie. Sebelumnya patung relief ini sempat dibuka namun ditutup setelah sempat terjadi kebakaran beberapa waktu silam.

Menariknya, setiap pengunjung yang baru pertama berkunjung ke Sarinah kembali, selalu menyempatkan diri berfoto selfie.

Advertisement

“Kapan lagi jadi yang pertama pasang foto di depan patung relief ini,” ujar salah seorang pengunjung.

Baik tua dan muda tak mau ketinggalan berfoto di depan relief tersebut.
Tak salah apa yang disebutkan Direktur Utama PT Sarinah Indonesia, Fetty Kwartati bahwa relief tersebut akan menjadi daya tarik Sarinah usai dipugar.

“Benda ini merupakan cagar budaya yang dilestarikan. Ini memang menjadi salah satu daya tarik Sarinah. Ke depannya, kita akan menggelar berbagai kegiatan di depan relief ini,” jelas Fetty disela-sela acara soft opening Sarinah, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun berbagai sumber, relief dan patung ini berlokasinya di belakang gerai restoran cepat saji McD. Tepatnya berada di ruang mekanikal dan elektrikal gedung perkantoran tersebut.

Relief itu menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia sebelum kemerdekaan. Penggambaran mereka tanpa alas kaki, berkebaya, bahu terbuka, dan bercaping. Terlihat sejumlah petani sedang membawa hasil panen. Pada bagian lain,ada nelayan dan pedagang.

Advertisement

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Asikin mengatakan, karya seni ini berukuran gigantik. Saat diciptakan, karya seni ini sudah menggunakan teknologi pengecoran panel tunggal modern, seiring dengan dibangunnya Sarinah sebagai perwujudan modernisasi dan kebangkitan ekonomi bangsa yang berpihak kepada ekonomi rakyat (UMKM).

Kondisi Sarinah yang pada tahun 1980-an pernah terbakar membuat relief ini terpaksa dipindahkan dan disimpan di lantai dasar. Kini patung relief tersebut diletakkan di halaman utama lantai 1. Sehingga begitu pengunjung Sarinah memasuki area ini, patung relief akan terlihat.

Menurut catatan beberapa ahli sejarah dan seni rupa nasional, relief ini dibuat oleh kelompok seniman Yogyakarta pada masa konstruksi 1962-1966.

Apa yang Berubah dari Sarinah?

Apa yang berubah dari Sarinah? Dari segi penampakan, Sarinah kini tidak berpagar dan terlihat banyak taman hijau di sekeliling gedung. Di dalam mall juga terkesan luas dan tidak “sesak” seperti sebelumnya.

Advertisement

Desain menarik juga mewarnai Sarinah sehingga menghilangkan kesan “tua” Sarinah sebelumnya.

Fetty Kwartati mengatakan bahwa kini Sarinah berbeda dari yang dulu baik dari segi konsep, format dan fasilitas.
Dari sisi bisnis, Sarinah yang dulunya hanya dikenal sebagai department store saat ini memiliki banyak sekali fasilitas ruang atau area yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Area terbaru yang ada di Sarinah seperti food and beverage (F&B), digital bisnis area (e-commerce), juga ruang budaya. Selain itu, sebagian bangunan juga masih tetap digunakan untuk area perkantoran.

“Konsep shop, eat, and learn akan diterapkan Sarinah. Jadi gak cuma mengedepankan produk yang dijual, tetapi pengunjung bisa belajar budaya juga di sini. Karena nantinya akan banyak event yang akan kita buat di sini,” kata Fetty.

Sebagai cagar budaya, lanjut dia, Sarinah tetap mempertahankan sebagian bangunan, seperti pilar-pilar besar, eskalator, cerobong asap asli, sebagian taman, dan relief tentang kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia.  ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement