Connect with us

Kesehatan

Meski Bisa Hamil, Penderita Vaginismus Sebaiknya Menunda

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

FAKTUAL-INDONESIA: Penyakit organ intim atau vaginismus adalah penyakit yang dialami oleh perempuan ketika otot dinding vagina mengalami kekakuan.

Praktisi medis vaginismus dr Robbi Asri Wicaksono, SpOG mengatakan bahwa vaginismus tidak dapat dikendalikan oleh pengidap sehingga bisa menyebabkan kegagalan penetrasi.

Lantas, bisakah pengidap vaginismus memiliki keturunan?

Advertisement

Robbi mengatakan, sebesar 4,9 persen pengidap vaginismus yang tidak pernah mengalami penetrasi dinyatakan hamil. Dalam dunia medis, kondisi itu dapat dikatakan sebagai splash pregnancy.

“Jadi mereka memang tidak melakukan penetrasi, tetapi hampir pasti ejakulasi dilakukan di depan vagina persis. Kita tahu ejakulasi itu memiliki daya sembur dan vaginanya penderita vaginismus itu tidak menutup,” ujar Robbi seperti dikutip detikcom, Minggu (12/9/2021).

Meski demikian, ia mengatakan bahwa penyakit vaginismus dapat menghalangi pengidap untuk hamil sebesar 95 persen.

Ia menyarankan, pengidap vaginismus untuk tidak perlu buru-buru memiliki keturunan. Hal yang harus diutamakan adalah mengobati penyakitnya. Meski melalui program hamil, cara itu juga tetap memerlukan penetrasi vagina untuk pemeriksaan medis lebih lanjut.

“Makanya saya selalu bilang bahwa vaginismus bukan hanya urusan seks. Tapi juga urusan kesehatan pribadi yang bersangkutan. Jadi kalo Anda memang masih vaginismus, saya rasa bisa hamil itu adalah sesuatu langkah yang menurut saya nanti bisa membahayakan diri anda sendiri,” kata Robbi.

Advertisement

Jika terlanjur mendapat kehamilan, Robbi menyarankan agar pengidap memberi tahu terkait penyakit vaginismusnya kepada dokter yang menangani persalinan.

“Misalnya dia (penderita vaginismus) kandidat persalinan pervaginam. Itu adalah proses panjang yang memerlukan pemeriksaan terhadap vagina berulang-ulang kali dengan jeda waktu mungkin setengah jam sampai satu jam. Apalagi kalau tempat pelayanan kesehatannya tidak memahami situasi itu, menganggapnya bahwa orang ini gak mau kerja sama untuk diperiksa,” ujarnya.***

Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement