Kesehatan

5 Mitos Tentang ADHD, Gangguan Mental Anak yang Perlu Diketahui Orang Tua!

Published

on

mitos tentang adhd

Foto Ilustrasi (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan mental pada perkembangan anak yang menyebabkan dirinya sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsif dan hiperaktif. Kondisi gangguan mental kesehatan ini dinilai kebanyakan orang tua sebagai hal yang lumrah. Meski begitu, banyak mitos tentang ADHD yang bermunculan.

Hingga saat ini, tak sedikit orang tua masih awal tentang kondisi anak dengan ADHD sehingga banyak salah persepsi yang berkembang. Selain itu, masih ada juga orang tua yang terpedaya dalam mitos terkait ADHD. Salah satunya adalah dianggap bisa sembuh dengan sendirinya tanpa tindakan khusus.

Persepsi tersebut membuat anak yang mengalami ADHD kurang mendapatkan terapi dan cenderung tidak tepat. Hal ini dapat memengaruhi anak dalam tumbuh kembangnya. Padahal, anak dengan ADHD bisa tumbuh sehat jika diberikan terapi secara tepat tepat.

Baca juga: Anak Disleksia Bukan Berarti Bodoh atau Keterbelakangan Mental

Anak ADHD sering dicap dengan anak yang tidak bisa diam. Beredarnya kabar simpang siur atau mitos mengenai ADHD seperti ini kerap membuat orang tua kebingungan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui mitos tentang ADHD untuk menghindari kesalahpahaman.

Berikut beberapa mitos tentang ADHD yang telah faktualid.com rangkum dari berbagai sumber.

Advertisement

1. Mitos: ADHD bukanlah kondisi medis yang serius

Mitos tentang ADHD yang pertama yaitu ADHD bukan kondisi medis yang serius. Sejumlah lembaga kesehatan nasional di Amerikat Serikat menyatakan bahwa kondisi ini dianggap digolongkan dalam kondisi medis.

Meski ADHD tidak mengancam jiwa, tetapi kondisi ini mempunyai keterkaitan pada kualitas hidup seseorang secara keseluruhan. Anak dengan ADHD cenderung memiliki suasana hati “naik-turun” dan kemungkinan mudah terperangkap terhadap penggunaan narkoba.

Pasalnya, jika manyangkal ADHD bukanlah kondisi medis sama saja dengan menilai anak dengan kondisi tersebut sebagai seorang yang “nakal” atau “bermasalah”. Disamping itu, ADHD nyatanya bisa bersifat genetik yang diwariskan oleh kondisi orang tuanya dahulu.

2. Mitos: ADHD dapat hilang dengan sendiri

Banyak fakta dan mitos yang bermuncul tentang gangguan mental anak. Salah satu mitos tentang ADHD yang cukup populer adalah ADHD dapat sembuh dengan sendirinya. Mengetahui gejala ADHD sejak disini bisa membantu dalam penanganan dan cara mengasuhnya sehingga dapat membantu anak.

Akan tetapi, jika tidak ada campur tangan orang tua yang tepat, penderita ADHD akan mengelami masalah dalam memusatkan perhatian serta mengendalikan emosinya. Jadi, mitos terkait ADHD dapat hilang dengan sendiri merupakan sebuah pemahaman yang salah.

Advertisement

Pasalnya, apabila orang tua tidak mengintervensi khusus terhadap anak dengan ADHD, nantinya anak tersebut kesulitan dalam berinterkasi dan bersosialisasi serta kesulitan belajar dan mengikuti petunjuk.

3. Mitos: Anak perumpuan bebas ADHD

Mitos tentang ADHD berikutnya yaitu anak perumpuan bebas dari ADHD. Dilihat dari luar, anak perumpuan tidak memperlihatkan perilaku hiperaktif ketimbang anak laki-laki. Hal ini membuat anak perumpuan sulit dalam mengenali ADHD di dalam dirinya. Tak jarang, anak perumpuan luput dari pengenalan ADHD oleh gurunya dan sulit untuk dirujuk pengobatan.

Baca juga: Orangtua Mendongeng Bisa Rangsang Kreatifitas dan Kecerdasan Anak

Anak ADHD berjenis kelamin perumpuan yang tidak terdeteksi sejak dini, kemungkinan akan bermasalah dalam mengatur tingkat kecemasan, suasana hati, antisosial, dan gangguan komorbiditas lainnya.

Maka dari itu itu, orang tua memerlukan peningkatan kemampuan dalam mengetahui anak perumapuan dengan ADHD dengan memberikan dukungan yang mereka butuhkan.

4. Mitos: Pola asuh orang tua menyebabkan ADHD

Selain anak perumpuan bebas dari ADHD, mitos ADHD lainnya yang beredar di masyarakat adalah pola asuh buruk penyebab ADHD. Berdasarkan laporan American Academy of Pediatrics, ADHD tidak disebabkan oleh pola asuh orang tua.

Advertisement

Justru, anak ADHD yang tidak teridentifikasi sedini mungkin dapat membuat orang tua menjadi sulut dalam mengasuh anaknya tersebut. Bila ditangani dengan tepat, karaktersitik dan hiperaktif pada anak dengan ADHD cenderung tidak parah alias dapat membaik. Sebagai orang tua, jangan mudah terjebak dalam mitos tentang ADHD yang belum terbukti kejelasannya.

5. Mitos: Anak ADHD pasti hiperaktif

Salah satu mitos tentang ADHD adalah anak ADHD pasti hiperaktif. Salah satu gejala anak dengan ADHD yakni hiperaktif. Namun, belum tentu anak ADHD memperlihatkan sikapnya hiperaktif. Anak dengan ADHD di beberapa kasus juga bisa mengalami sulit berkonsentrasi, ceroboh, dan sering kehilangan barang-barang seperti mainan, pensil, buku, dan sebagainya.

Demikian pembahasan mitos tentang ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau gangguang mental anak. Dengan informasi diatas, semoga dapat membantu dalam memahami dan merawat anak dengan ADHD dengan baik serta menjawab mitos dan fakta yang beredar.***

Baca juga: Ketagihan Main Game, Bisa Jadi Terkena Gangguan Jiwa

Advertisement
Exit mobile version