Connect with us

Internasional

Putin Beri Izin Tim Independen Kunjungi Pembangkit Nuklir Zaporizhzhia

Avatar

Diterbitkan

pada

Foto Ilustrasi (Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Presiden Rusia Vladimir Putin telah setuju keberadaan tim inspektur independen untuk dapat masuk ke pembangkit nuklir Zaporizhzhia yang diduduki Moskow, melalui jalur perjalanan Ukraina.

Penjelasan itu disampaikan pihak kepresidenan Prancis pada hari Jumat, (19/8).

Seorang pejabat senior pertahanan AS mengatakan bahwa ada kemajuan dari pasukan Ukraina dengan menghentikan aktivitas di sekitar wilayah pembangkit nuklir Zaporizhzhia, begitupula dengan Rusia.

“Anda melihat kurangnya kemajuan Rusia di medan perang,” kata pejabat itu, yang berbicara kepada wartawan tanpa menyebut identitasnya.

Menurut kantor Presiden Prancis Emmanuel Macron, Putin telah mempertimbangkan kembali permintaan agar Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melakukan perjalanan ke lokasi tersebut, setelah pemimpin Rusia itu sendiri memperingatkan untuk meredam pertempuran di sana karena dapat menyebabkan bencana.

Advertisement

Disebutkan bahwa Putin telah menyetujui tim IAEA melakukan perjalanan ke situs itu melalui Rusia atau bisa melalui Ukraina.

Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak pasukan Moskow yang menduduki pembangkit listrik Zaporizhzhia di Ukraina selatan untuk tidak memutuskan fasilitas dari jaringan yang berpotensi memotong pasokan ke jutaan warga Ukraina.

Pertempuran di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir yang dikendalikan Rusia – dengan kedua belah pihak saling menyalahkan atas serangan – telah meningkatkan ancaman bencana yang lebih buruk daripada kejadian reaktor nuklir di Chernobyl beberapa tahun lalu.

Kremlin mengatakan dalam sebuah pernyataan sebelumnya bahwa Putin dan Macron sepakat bahwa para pejabat dari pengawas nuklir PBB harus melakukan inspeksi “sesegera mungkin” untuk menilai situasi sebenarnya di lapangan.

“Putin menegaskan penembakan sistematis oleh militer Ukraina di wilayah pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, telah menciptakan bahaya bencana skala besar,” tambah Kremlin.

Advertisement

Peringatan datang hanya sehari setelah pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan dan Guterres, bertemu di kota Lviv, Ukraina timur, dan mengingatkan atas pertempuran yang semakin intensif. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak PBB untuk mengamankan situs tersebut.

Pemimpin Turki itu mengatakan: “Kami khawatir. Kami tidak menginginkan terjadinya Chernobyl lagi,” katanya mengacu pada bencana nuklir 1986.  Adapun Guterres memperingatkan bahwa kerusakan apa pun pada pembangkit listrik itu akan mirip kejadian dengan “bunuh diri.”

Selama kunjungannya ke pelabuhan selatan Odessa pada hari Jumat, sekretaris jenderal PBB mengatakan: “Jelas, listrik dari Zaporizhzhia adalah listrik Ukraina. Prinsip ini harus sepenuhnya dihormati.”

“Tentu saja, energinya harus digunakan oleh rakyat Ukraina,” katanya kepada AFP dalam komentar terpisah.

Pernyataannya itu muncul setelah operator energi Ukraina, Energoatom menuduh pasukan Rusia berencana “mematikan reaktor” di Zaporizhzhia, yang selama ini mampu memasok 4 juta rumah warga Ukraina.

Advertisement

Sebaliknya, pada hari Kamis, Moskow mengatakan Kyiv sedang mempersiapkan “provokasi” di situs tersebut dan menuduh telah mempersiapkan terjadinya bencana buatan manusia di pabrik tersebut.

Kyiv bersikeras mengatakan bahwa Moskow justru merencanakan provokasi, dan mengatakan pasukan pendudukan Rusia telah memerintahkan sebagian besar staf untuk tinggal di rumah pada Jumat, dan menarik pejabat dari badan nuklir negara Rusia sendiri.

Sekjen PBB mengunjungi Odesa dan menyerukan agar stok gandum Ukraina diberikan kepada negara-negara miskin mengalami lonjakan harga pangan, setelah kesepakatan dengan Rusia bulan lalu untuk mengizinkan dilakukannya ekspornya.

Sebelumnya, Guterres bertemu Erdogan – yang membantu menengahi kesepakatan komoditas biji-bijian yang ditandatangani di Istanbul – dan Zelensky, mengatakan PBB berharap dapat meningkatkan keja sama di bawah kesepakatan menjelang musim dingin.

Kesepakatan itu, satu-satunya yang signifikan antara Rusia dan Ukraina sejak invasi Moskow pada Februari. Sejauh ini telah membuat 25 kapal yang membawa sekitar 600.000 ton produk pertanian berangkat dari tiga pelabuhan yang ditunjuk.

Advertisement

Tetapi dalam pembicaraan telepon dengan Macron – yang pertama selama hampir tiga bulan – Putin mengatakan kepada pemimpin Prancis itu bahwa Rusia menghadapi hambatan dalam ekspor produk makanan dan pupuknya.

“Masih ada hambatan untuk … ekspor Rusia yang tidak berkontribusi pada solusi masalah yang terkait dengan memastikan keamanan pangan global,” kata Kremlin.

Guterres diperkirakan akan menuju ke Turki setelah Odessa mengunjungi Pusat Koordinasi Gabungan, badan yang bertugas mengawasi kesepakatan tersebut.

Advertisement
Lanjutkan Membaca