Internasional
G7 Desak Pembukaan Selat Hormuz, Soroti Dampak Konflik terhadap Ekonomi Global

Negara G7 desak Iran untuk membuka Selat Hormuz demi kepentingan bersama. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Kelompok negara maju G7 mendesak agar kebebasan navigasi di Selat Hormuz segera dipulihkan menyusul meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang berdampak luas terhadap stabilitas global. Seruan tersebut disampaikan para menteri luar negeri G7 dalam pernyataan bersama usai pertemuan di Vaux-de-Cernay, Prancis, Jumat (27/3/2026).
Dalam pernyataannya, G7 menegaskan pentingnya jalur pelayaran internasional tetap terbuka dan aman, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute vital distribusi energi dunia. Mereka menilai kondisi saat ini, yang diwarnai blokade de facto oleh Iran, berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global secara signifikan.
Baca Juga : Akses Selat Hormuz Dibuka Terbatas untuk Negara Tertentu, Indonesia Termasuk?
“Kami menegaskan kembali perlunya pemulihan permanen kebebasan navigasi yang aman dan bebas hambatan di Selat Hormuz sesuai dengan hukum internasional,” demikian pernyataan tersebut.
Selain isu navigasi, G7 juga menyoroti meningkatnya korban sipil akibat konflik bersenjata di kawasan tersebut. Para diplomat menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun.
Mereka turut mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap fasilitas diplomatik serta mendesak semua pihak untuk menahan diri guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Lebih lanjut, G7 menekankan perlunya koordinasi internasional dalam menangani dampak kemanusiaan serta ekonomi yang ditimbulkan konflik. Gangguan terhadap rantai pasok global, termasuk energi, pangan, dan pupuk, dinilai dapat memperburuk kondisi ekonomi dunia dan berdampak langsung pada masyarakat internasional.
Baca Juga : Angin Segar dari Selat Hormuz, Menteri Bahlil Pastikan Pasokan Energi Aman, Tepis Kenaikan Harga BBM
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran yang menargetkan wilayah Israel serta aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi ketegangan berkepanjangan yang berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menjadi lintasan utama bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke berbagai negara di dunia.
Akibat gangguan tersebut, sejumlah negara produsen mengalami penurunan ekspor dan produksi energi. Kondisi ini turut mendorong lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir.
G7 menilai stabilitas Selat Hormuz menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan pasar energi global, sehingga upaya diplomasi dan deeskalasi konflik perlu segera dilakukan demi mencegah krisis yang lebih luas.***














