Connect with us

Ekonomi

Pertemuan G20 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Hasilkan 6 Komitmen Baru

Diterbitkan

pada

Pertemuan G20 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Hasilkan 6 Komitmen Baru

Pertemuan G20 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Hasilkan 6 Komitmen Baru (Foto: Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 mengadakan pertemuan keempat Finance Minister and Central Bank Governor (FMCBG) G20. Disana, mereka membahas tentang kondisi ekonomi dunia yang saat ini dalam keadaan bahaya.

Dari hasil pertemuan tersebut lahirkan 6 komitmen baru yang sudah disepakati dan akan menjadi landasan para negara anggota G20 untuk mengambil tindakan menghadapi dinamika dunia.

Pertemuan FMCBG G20 pada Oktober ini dihadiri secara langsung oleh sejumlah pimpinan yang tercatat sejak pandemi, di mana 66 pimpinan hadir secara langsung, dan hanya 4 orang yang hadir secara virtual.

“Pertemuan kami hari ini sangat penting untuk kredibilitas G20. Di sini kami memiliki kesempatan untuk memenuhi komitmen lain yang kami buat pada bulan Februari, serta untuk memberikan tindakan yang lebih mendesak pada masalah yang muncul sejak saat itu,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam keterangannya, Jumat (14/10/2022) dini hari.

Baca juga: Waspada, Sri Mulyani Ingatkan Dunia Sedang Dalam Situasi Berbahaya

Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (FMCBG) membahas enam agenda. Pertama, terkait dengan ekonomi global.

Advertisement

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral akan memperkuat tindakan terkoordinasi dan harmonis pada isu-isu penting bagi stabilitas dan kemakmuran ekonomi global, termasuk ketahanan pangan dan energi.

Kedua, G20 akan memperkuat komitmen untuk memastikan ketahanan keuangan jangka panjang dari arsitektur keuangan internasional. Komitmen itu termasuk pada jaring pengaman keuangan global (GFSN), alokasi Hak Penarikan Khusus (SDR) untuk mendukung yang paling rentan dan untuk memperkuat kerangka kecukupan modal Bank Pembangunan Multilateral sambil memastikan penerapan Kerangka Kerja Umum tentang Perlakuan Utang di luar DSSI.

Ketiga, G20 menegaskan kembali komitmen untuk kemajuan yang signifikan dalam regulasi dan pengawasan sektor keuangan.

Baca juga: Bank Dunia dan IMF Peringatkan Risiko Resesi Global 2023 Semakin Kuat

“Kami bertujuan untuk memperkuat sistem keuangan internasional dalam menghadapi perkembangan sistem keuangan, termasuk aktivitas dan pasar crypto-asset sambil memanfaatkan digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas, ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, dan strategi untuk memperkuat literasi keuangan digital,” jelas Sri Mulyani.

Keempat, yakni menegaskan kembali komitmen untuk memajukan Laporan Keuangan Berkelanjutan 2022 dalam menangani prioritas yang diidentifikasi dalam Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan G20.

Advertisement

Setidaknya, kata Sri Muluyani, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 telah mengembangkan kerangka keuangan transisi untuk mengenali kegiatan transisi iklim, termasuk transisi energi, dan cara untuk meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan keuangan berkelanjutan.

Kelima, G20 menegaskan kembali komitmen kami untuk merevitalisasi investasi infrastruktur dengan cara yang berkelanjutan, inklusif, dan terjangkau, termasuk alat untuk meningkatkan partisipasi sektor swasta; memobilisasi pembiayaan ke kota dan daerah; meningkatkan investasi digital dan InfraTech, dan meningkatkan investasi infrastruktur yang berkelanjutan dan transformatif.

Baca juga: Kabar Buruk, Sri Mulyani Perkiraan Dunia Resesi di 2023

Yang terakhir, kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap implementasi paket pajak Internasional sambil menantikan implementasi penuh dari Asia Initiative, Bali Declaration tentang Perpajakan Internasional,” kata Sri Mulyani.

Pertemuan keempat menteri keuangan dan gubernur bakk sentral G20 ini merupakan yang terakhir di bawah Presidensi G20 Indonesia.

“Terlepas dari kenyataan bahwa kami menghadapi banyak tantangan sejak awal sebagai akibat dari meningkatnya konflik politik, perang di Ukraina, dan diperburuk oleh situasi ekonomi yang memburuk, Presidensi Indonesia telah mampu mempertahankan kesatuan G20 sebagai forum global utama untuk kebijakan ekonomi dan keuangan,” ujar Menkeu.

Advertisement

Selanjutnya, India akan mengambil alih Kepresidenan G20 pada tahun 2023, termasuk jalur keuangan. Para Menteri dan Gubernur telah diberi pengarahan tentang usulan agenda prioritas utama dari Kepresidenan India 2023.

“Kami percaya bahwa pertemuan kami hari ini akan memberikan beberapa harapan bahwa terlepas dari tantangan dan perbedaan, G20 masih dapat menghasilkan hasil nyata yang dapat membantu dunia,” pungkasnya.***

Baca juga: Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk Hadapai Resesi Global 2023

Lanjutkan Membaca
Advertisement